Politik dan Sosial Budaya

Pemuda Bali Jadi Garda Depan Bangsa, Adi Wiryatama Gaungkan Empat Pilar Kebangsaan di Kediri


Tabanan, PancarPOS | Menguatnya arus globalisasi, penetrasi budaya asing, serta derasnya informasi digital yang tak terbendung menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Kondisi ini menuntut negara dan seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat fondasi ideologis bangsa, terutama di kalangan generasi muda yang hidup di era keterbukaan tanpa batas.

Kesadaran itulah yang mendorong Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Adi Wiryatama, turun langsung ke tengah masyarakat Bali melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan. Kegiatan tersebut digelar di Banjar Adat Batu Gaing Kaja, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Jumat (6/2/2026).

Sosialisasi berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, dihadiri tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga setempat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum penyampaian materi kebangsaan, tetapi juga ruang dialog terbuka mengenai tantangan kebangsaan di tengah perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat.

Dalam pemaparannya, Adi Wiryatama menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika bukanlah sekadar konsep normatif yang berhenti pada tataran wacana.

“Empat Pilar Kebangsaan ini bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Pancasila, semangat persatuan, toleransi, dan kebersamaan harus tercermin dalam perilaku kita, baik di lingkungan keluarga, banjar, desa adat, maupun di ruang digital,” tegas Adi Wiryatama.

Ia menyoroti secara khusus tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, terutama generasi Z yang tumbuh dan berkembang di tengah derasnya arus informasi global. Menurutnya, kemajuan teknologi digital membawa dua sisi mata uang: peluang besar sekaligus ancaman serius bagi jati diri bangsa.

“Generasi Z hari ini sangat mudah terpapar berbagai paham dan ideologi bangsa asing. Tidak semua nilai dari luar itu buruk, tetapi jika tidak disaring dengan nilai kebangsaan yang kuat, maka identitas kita bisa terkikis perlahan,” ujarnya.

Adi Wiryatama menegaskan bahwa penguatan Empat Pilar Kebangsaan menjadi benteng utama agar generasi muda mampu bersikap kritis, selektif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Ia berharap pemuda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga aktor aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Ke depan, pemuda harus menjadi garda depan bangsa ini. Mereka harus menjadi penjaga persatuan dan kesatuan, bukan justru menjadi korban polarisasi dan perpecahan akibat informasi yang menyesatkan,” kata mantan Bupati Tabanan dua periode tersebut.

Dalam konteks Bali, Adi Wiryatama menilai nilai-nilai lokal seperti menyama braya, gotong royong, serta sistem sosial berbasis desa adat sejatinya selaras dengan semangat Empat Pilar Kebangsaan. Oleh karena itu, penguatan nilai kebangsaan di Bali perlu dilakukan dengan pendekatan kultural yang menghormati dan memanfaatkan kearifan lokal.

“Bali memiliki kekuatan budaya yang luar biasa. Desa adat dan banjar adalah benteng sosial dan ideologis yang sangat kuat. Nilai-nilai lokal ini pada dasarnya adalah pengejawantahan dari Pancasila itu sendiri,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan kebangsaan di masa depan tidak lagi berbentuk ancaman fisik semata, melainkan lebih banyak berupa ancaman ideologis, sosial, dan kultural. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, hingga sikap individualistik di ruang digital menjadi persoalan nyata yang harus dihadapi secara kolektif.

Menurutnya, penguatan Empat Pilar Kebangsaan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan komunitas adat. Peran orang tua, tokoh adat, dan tokoh masyarakat dinilai sangat strategis dalam membentuk karakter kebangsaan generasi muda.

“Kalau dari rumah, dari banjar, dan dari desa adat nilai kebangsaan sudah kuat, maka negara ini akan kokoh. Negara tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai tokoh politik yang memiliki rekam jejak panjang di pemerintahan daerah, Adi Wiryatama juga membagikan pengalamannya selama dua periode memimpin Kabupaten Tabanan. Ia menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas manusia dan karakter kebangsaan.

“Selama saya memimpin Tabanan, saya belajar bahwa pembangunan karakter adalah fondasi utama. Jalan dan gedung bisa dibangun, tetapi tanpa karakter yang kuat, semua itu bisa runtuh,” katanya.

Ia menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan penguatan nilai kebangsaan, baik melalui fungsi legislasi, pengawasan, maupun kegiatan sosialisasi langsung di tengah masyarakat. Menurutnya, menjaga NKRI merupakan konsensus nasional yang tidak boleh ditawar dalam kondisi apa pun.

“NKRI adalah harga mati. Persatuan dan kesatuan bangsa adalah modal utama kita menghadapi tantangan global, termasuk tekanan ekonomi, geopolitik, dan perubahan iklim,” tegasnya.

Dalam sesi dialog, sejumlah peserta menyampaikan keprihatinan terkait lunturnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda, khususnya akibat pengaruh media sosial. Ruang digital dinilai menjadi arena yang rawan penyebaran paham intoleran dan narasi yang memecah belah.

Menanggapi hal tersebut, Adi Wiryatama mendorong pemuda untuk tidak menjauhi media sosial, melainkan menguasainya dengan narasi positif dan edukatif. Ia mengajak generasi muda menjadi agen perubahan yang menyebarkan nilai persatuan, toleransi, dan kebangsaan.

“Jangan tinggalkan media sosial. Justru kuasai ruang itu. Isi dengan konten yang mencerdaskan, yang membangun, dan yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan dalam bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola sebagai kekuatan, bukan dijadikan alasan untuk saling meniadakan.

“Bhinneka Tunggal Ika itu bukan slogan kosong. Itu adalah realitas hidup kita sehari-hari. Kita berbeda-beda, tetapi tetap satu,” katanya.

Kegiatan sosialisasi ini mendapat apresiasi dari tokoh adat dan masyarakat Banjar Adat Batu Gaing Kaja. Mereka menilai kehadiran langsung anggota DPR RI di tengah masyarakat menunjukkan komitmen negara dalam menjaga dan merawat nilai-nilai kebangsaan hingga ke tingkat akar rumput.

Tokoh masyarakat setempat berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, terutama untuk membekali generasi muda dengan pemahaman kebangsaan yang kuat dan kontekstual.

“Kami berharap pemuda terus diberi ruang dialog seperti ini agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman,” ujar salah satu tokoh adat.

Bagi Adi Wiryatama, sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar kewajiban formal sebagai wakil rakyat, melainkan panggilan moral untuk menjaga masa depan bangsa. Ia menegaskan bahwa kekuatan Indonesia terletak pada persatuan yang dirawat secara sadar dan berkelanjutan.

“Kalau kita ingin Indonesia tetap berdiri kokoh, maka Empat Pilar Kebangsaan harus terus kita jaga dan hidupkan bersama,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran kebangsaan masyarakat, khususnya generasi muda Bali, semakin menguat. Di tengah arus globalisasi dan tantangan zaman, Empat Pilar Kebangsaan diharapkan tetap menjadi kompas moral yang menuntun bangsa Indonesia menuju masa depan yang berdaulat, adil, dan berkeadaban. ama/ksm


Back to top button