Rektor Dwijendra Ajak Subak Bali Bangkit Lewat Gerakan “Komunitas Kembali Organik”

Denpasar, PancarPOS | Rektor Dwijendra University, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA., mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya petani dan pengelola subak di Bali, untuk membangkitkan kembali sistem pertanian organik melalui gerakan “Komunitas Kembali Organik”. Gerakan ini dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat keberlanjutan subak sebagai warisan budaya dunia sekaligus menjaga keseimbangan alam Bali.
Ajakan tersebut disampaikan Prof. Gede Sedana saat menjadi pembicara dalam Festival Gerbang Nusantara bertajuk Telusur Budaya Subak (Trubus) yang diselenggarakan Pusat Koordinasi Hindu Nusantara di Inna Bali Heritage Hotel, Minggu (19/7/2026).
Dalam paparannya, Sedana menegaskan bahwa subak tidak boleh dipandang semata-mata sebagai sistem irigasi tradisional ataupun organisasi petani sawah. Menurutnya, subak merupakan sistem sosio-kultural, teknis, ekonomi, dan ekologi yang hidup serta terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat Bali.
“Subak memiliki enam subsistem utama yang saling berkaitan dan mengelilingi satu poros utama, yakni rasa harmoni dan keberlanjutan (sense of harmony and sustainability). Dari sistem inilah lahir filosofi Tri Hita Karana yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali,” ujar Sedana.
Festival tersebut dihadiri para pekaseh dan pengurus enam subak, yakni Subak Sembung (Denpasar), Subak Timbul, Subak Calo, Subak Kedisan, Subak Juan (Gianyar), serta Subak Pedahanan (Badung).
Menurut Sedana, kekuatan utama subak selama ini terletak pada nilai-nilai budaya Bali yang berpadu dengan ajaran agama Hindu. Seluruh aktivitas pertanian, mulai dari magpag toya atau mendak toya, pengolahan lahan, penanaman, hingga pascapanen selalu diiringi ritual yang sarat makna spiritual dan sosial.
Rangkaian ritual tersebut, kata dia, mengandung nilai gotong royong, solidaritas, persaudaraan, kerja sama, musyawarah, saling percaya, keadilan, toleransi, serta menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Dalam forum tersebut, seluruh subak yang hadir menyatakan komitmen untuk mewujudkan gerakan “Komunitas Kembali Organik”. Gerakan ini bertujuan mengembalikan nilai-nilai luhur pertanian Bali yang menjaga kelestarian air, tanah, dan udara melalui penerapan sistem pertanian organik.
Sedana menjelaskan, penerapan pertanian organik memberikan manfaat besar bagi lingkungan. Penggunaan pupuk dan pestisida alami mampu menjaga keanekaragaman hayati di kawasan persawahan sehingga berbagai predator alami seperti capung, katak, ular sawah, hingga burung kuntul tetap hidup dan berfungsi mengendalikan hama secara alami.
Selain menjaga lingkungan, pertanian organik juga mampu memperbaiki kualitas tanah. Penggunaan kompos dan pupuk kandang secara berkelanjutan meningkatkan kandungan karbon organik, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, serta menghidupkan kembali mikroorganisme seperti cacing tanah, bakteri pengikat nitrogen, dan mikoriza yang berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah.
“Dengan kondisi tanah yang sehat, lahan mampu menyediakan unsur hara secara alami sehingga produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Dari sisi ekonomi, Sedana menilai pertanian organik membuka peluang peningkatan pendapatan petani. Beras organik Bali, termasuk varietas lokal seperti Beras Merah Tabanan dan Mansur, memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan beras konvensional serta berpotensi memasok kebutuhan hotel, restoran, hingga sektor pariwisata berbasis wellness dan eco-tourism.
Selain memperoleh harga premium, petani juga dapat menekan biaya produksi karena memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan, seperti jerami, kotoran sapi, serta urine kelinci sebagai bahan baku pupuk organik sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia dapat dikurangi.
Tak hanya berdampak pada aspek ekonomi, pertanian organik juga memperkuat nilai-nilai sosial dan spiritual masyarakat Bali. Hasil pertanian organik dinilai lebih suci untuk digunakan dalam berbagai upacara yadnya sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri dan Dewa Wisnu.
“Penggunaan pupuk dan pestisida organik merupakan bentuk penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan sekaligus implementasi nyata filosofi Tri Hita Karana,” katanya.
Sedana yang juga Founder Yayasan Aditya Sedana Artha (YASA) menegaskan bahwa pengembangan pertanian organik sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Ia berharap gerakan “Komunitas Kembali Organik” mampu menjadi momentum mengembalikan kejayaan sistem subak sebagai warisan budaya dunia yang tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga memperkuat identitas budaya, kelestarian lingkungan, serta kesejahteraan petani Bali. ama/ksm









