Buka Bimtek Integrated Farming di Tabanan, Made Urip: Petani Harus Mencari Mitra yang Mengurus Pertanian

Tabanan, PancarPOS | Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., kembali membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk peningkatan kapasitas petani dan penyuluh di Kabupaten Tabanan. Ketua DPP PDI Perjuangan yang membidangi Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut, kali ini bersama BPPSDM Kementerian Pertanian menggelar Bimtek Integrated Farming di Apple Resort and Spa, Desa Adat Bedha, Tabanan, Sabtu (21/5/2022). Kedatangan Wakil Rakyat Sejuta Traktor yang akrab dikenal M-U itu, disambut hangat oleh Kepala UPPM Polbangtan Malang, Dr.Ir. Suhirmanto, M.Si., bersama Kadis Pertanian Tabanan, Ir. I Nyoman Budana, MM., dengan narasumber dari pakar pertanian, Dr.Ir. Abdul Farid, MP., dan I Ketut Punia.

Sebelumya Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ini, turun ke bawah atau Turba untuk membuka Bimtek Sistem Peternakan Modern di Kabupaten Gianyar dan Badung. Bimtek untuk peningkatan kapasitas sekitar 100 peserta dari petani dan penyuluh itu, juga menjadi momen Bapak Pertanian Bali ini menemui para kelompok tani dan penyuluh di lapangan. Seperti diungkapkan Made Subur selaku Koordinator Penyuluh Kabupaten Tabanan, mengucapkan terima kasih banyak kepada Made Urip yang telah memberikan kegiatan Bimtek untuk menambah wawasan petani dan penyuluh di Tabanan. Kegiatan ini berkat perhatian Made Urip yang selalu hadir membantu dan mendampingi masyarakat di sektor pertanian.
“Bimtek dari Pak Urip ini telah membangun semangat petani dan penyuluh di Tabanan untuk meningkatan produktifitas dan kualitas hasil pertanian di Tabanan,” ungkapnya. Sementara itu, Kadis Pertanian Tabanan, Nyoman Budana merasa kagum dan bangga kembali menerima kedatangan Made Urip sebagai tokoh pertanian di Bali yang sangat luar biasa. Apalagi sudah 5 periode sebagai Anggota Komisi IV DPR RI yang kali ini memperoleh 255.130 suara terbanyak Dapil Bali dan ranking ketujuh nasional itu, telah tebukti memperhatikan di bidang pertanian dengan sangat luar biasa. “Hampir 25 tahun ini Pak Made Urip rupanya selau memperhatikan dan membantu sektor pertanian di Tabanan dengan programnya sangat luar biasa, karena perhatian beliau terhadap pertanian,” bebernya.

Salah satunya, kebetulan kali ini diberikan Bimtek menyasar petani dan penyuluh untuk menyatukan langkah dan sikap bersama mewujudkan Tabanan Era Baru yang telah menempatkan pertanian sebagai program unggulan Bupati Tabanan. “Terima kasih kepada Bapak Made Urip yang telah mempercayakan pelatihan dan Bimtek di Tabanan. Kami harap ikuti pelatihan ini sebaik-baiknya, karena mendapat kesempatan pelatihan seperti ini sangat langka. Jadi ikuti dengan baik untuk mengikuti perkembangan jaman dan IT untuk diimplementasikan di masyarakat,” tutupnya. Di sisi lain, Kepala UPPM Polbangtan Malang, Suhirmanto mengaku merasa bersyukur bisa hadir bersama Made Urip, karena bertemu dengan petani sebagai pahlawan masa kini.
Apalagi sangat susah menjadi petani sekarang, karena tidak pernah mendapat tempat terhormat. Tapi justru petani sangat terhormat bagi keluarganya, karena selama ini tanpa pamrih. “Itulah yang jarang dipikirkan oleh teknokrat saat ini. Tapi inilah yang membuat saya bangga. Saya bangga petani masih tetap beraktifitas,” tegasnya, sembari menjelaskan kegiatan Bimtek juga sebagai bentuk kehadiran Made Urip bersama pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk kembali mengasah pengetahuan dan keterampilan agar bisa meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh. “Saya berharap petani tidak hanya high technology saja terhadap hal tertentu. Ini yang perlu diperhatikan dan didiskusikan ke depan agar tetap sasaran. Saya tekankan jangan berhenti di sini dan dikembangkan terus ke depan,” katanya.

Pihaknya juga berharap, agar para generasi petani muda bisa meniru dan mengikuti sektor pertanian yang terus tumbuh di masa Pandemi Covid-19. Sementara itu, Made Urip menyampaikan Bimtek ini sebagai program kerjasama dengan Kementerian Pertanian sebagai mitra kerja Komisi IV DPR RI untuk memberikan wawasan dan pengetahuan teknis kepada petani dan penyuluh di lapangan. Apalagi masih banyak tantangan yang harus dihadapi di sektor pertanian, terutama akibat kendala alih fungsi lahan yang tinggi, seperti di Bali sekitar 700 hektar per tahun tergerus untuk kepentingan di luar sektor pertanian. “Misalnya di Desa Gubug, dan Nyitdah yang sudah mulai tergerus habis dipakai kepentingan lain di luar sektor pertanian. Padahal sudah ada regulasi UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan,” papar M-U.
Selain itu, regenerasi penyuluh yang terus berkurang akibat mulai banyak yang memasuki masa pensiun, padahal idealnya 1 desa ada 1 penyuluh. Bahkan, pertani sudah banyak yang tua-tua, sehingga perlu regenerasi untuk melanjutkan sektor pertanian ini. “Meskipun saat pandemi Covid-19 mulai banyak yang bertani, tapi jika kembali pulih takutnya akan kembali ke sektor lain,” terangnya, seraya mengatakan sebagian besar petani juga sebagai petani gurem yang hanya memiliki lahan di bawah 0,25 hektar. Padahal Badan Pangan Dunia atau FAO sudah memberikan peringatan kepada negara-negara yang akan mengadapi persoalan pangan yang komplek di semua sub sektor. Apalagi terjadi perubahan iklim yang akan mengacamkan krisis pangan. “Maka itu, kita sudah berikan berbagai bantuan dan program, seperti UPPO dan bantuan bibit ternak kepada kelompok tani dan ternak untuk meningkatkan kualitas tanah ke depan,” imbuh M-U.

Di samping itu, juga ada tantangan masuknya Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK yang termasuk penyakit tipe A yang sangat berbahaya. Padahal dikatakan, sebelumnya Komisi IV DPR RI sudah mewanti-wanti agar hanya mengimpor daging dari negara yang bebas dari PMK. Tapi akibat kebijakan dilonggarkan untuk mengimpor daging dari negara yang belum bebas PMK, sehingga menjadi salah satu faktor masuknya PMK ke Indonesia. “Padahal biaya untuk bebas PMK sangat tinggi dan butuh waktu yang sangat lama. Untuk itu, Sapi Bali harus dijaga dan diwaspadai agar PMK tidak masuk ke Bali,” tegasnya, sembari berharap agar Bimtek ini bermanfaat bagi dunia pertanian yang saat ini menjadi harapkan satu-satunya sektor yang tumbuh, sehingga telah ditetapkan sebagai sektor utama dan unggulan di Bali. “Saya juga butuh kerja sama ini dengan bapak dan ibu petani dan ke depan mari kita lanjutkan terus di tahun 2024. Jadi kalau petani harus cari mitra yang memang mengurus petani,” pungkas M-U. ama/ksm









