Rabu, April 29, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaPolitik dan Sosial BudayaTurun Gunung, Reses Adi Wiryatama Gerakkan Pangan Nonberas dari Akar Rumput

Turun Gunung, Reses Adi Wiryatama Gerakkan Pangan Nonberas dari Akar Rumput

Tabanan, PancarPOS | Langkah politik yang tidak biasa ditunjukkan I Nyoman Adi Wiryatama. Dalam agenda reses yang dimulai sejak 26 April 2026, anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini turun langsung ke masyarakat secara maraton, menyisir berbagai desa dan kelompok tani untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan berbasis lokal.

Tidak sekadar seremonial, gerak turun lapangan ini menyasar sektor strategis yang menjadi ruang lingkup Komisi IV, yakni pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Dari pertemuan kelompok hingga dialog perorangan, Adi Wiryatama menekankan satu pesan utama, agar Indonesia tidak boleh bergantung hanya pada beras sebagai sumber pangan utama.

Menurutnya, kekayaan hayati Indonesia justru terletak pada keberagaman pangan lokal yang selama ini belum dimaksimalkan. Hal ini sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang mendorong penguatan pangan berbasis kearifan lokal.

“Indonesia sangat kaya. Kita punya banyak sumber pangan selain beras yang nilai gizinya tidak kalah. Ini harus dihidupkan kembali,” tegasnya dalam berbagai kesempatan dialog dengan masyarakat.

Perjalanan reses tersebut menyentuh sejumlah titik penting di wilayah Tabanan. Salah satunya di Desa Baturiti, di mana Adi Wiryatama bertemu dengan Kelompok Abang Lestari. Kelompok ini mengelola kawasan hutan sosial dengan pola tanam pangan yang terintegrasi, menjadi contoh konkret bagaimana kehutanan bisa bersinergi dengan ketahanan pangan.

Di lokasi ini, kegiatan tidak hanya bersifat teknis pertanian, tetapi juga diwarnai dengan pendekatan spiritual melalui persembahyangan bersama. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan pangan tidak dilepaskan dari nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Bali.

Agenda kemudian berlanjut ke Banjar Susut dan Desa Baru, sebelum ditutup dengan kegiatan simbolis namun sarat makna di Desa Tegeh Angseri. Bersama masyarakat, Adi Wiryatama melakukan penanaman pohon sukun mentega, salah satu komoditas pangan alternatif yang memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat pengganti beras.

Penanaman sukun ini bukan sekadar aksi tanam, tetapi bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kemandirian pangan desa. Sukun dikenal memiliki produktivitas tinggi, adaptif terhadap lingkungan tropis, dan kaya nutrisi.

Sebagai politisi senior yang pernah menjabat Bupati Tabanan selama dua periode serta Ketua DPRD Bali, Adi Wiryatama memahami betul karakter sosial dan potensi wilayah. Pengalaman tersebut tercermin dalam pendekatan yang ia gunakan, tidak top down, melainkan membangun kesadaran kolektif masyarakat.

Ia berharap gerakan ini tidak berhenti sebagai agenda reses semata, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang mengubah pola pikir masyarakat dalam konsumsi pangan.

“Ketahanan pangan itu bukan hanya soal produksi, tapi juga soal kebiasaan. Kalau kita hanya bergantung pada beras, kita rentan. Tapi kalau kita punya banyak pilihan pangan, kita kuat,” ujarnya.

Langkah maraton ini sekaligus menjadi sinyal bahwa isu ketahanan pangan kini tidak lagi bisa ditunda. Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi, penguatan pangan lokal menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi mendesak.

Pola pendekatan seperti ini, langsung ke akar rumput, menyentuh produksi sekaligus kesadaran konsumsi, berpotensi menjadi model baru dalam politik pangan nasional. Bukan sekadar wacana di ruang parlemen, tetapi kerja nyata di tengah masyarakat. ama/ksm

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img