Pemprov Bali Kokohkan Ketahanan Pangan, Tembus Tiga Besar Nasional IKP 2025

Denpasar, PancarPOS | Pemerintah Provinsi Bali kembali menunjukkan taringnya dalam menjaga stabilitas sektor pangan. Berdasarkan rilis Badan Pangan Nasional terkait Indeks Ketahanan Pangan (IKP) tahun 2025, Bali berhasil menempati peringkat ketiga nasional dengan skor 79,88, melampaui rata-rata nasional sebesar 73,00.
Capaian ini menegaskan bahwa ketahanan pangan Bali tetap berada dalam kondisi kuat dan terkendali, dilihat dari tiga pilar utama, yakni ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan. Meski demikian, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali tetap melakukan evaluasi berkelanjutan menyusul adanya dinamika pergeseran peringkat dibanding tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada menegaskan bahwa capaian ini bukan hasil kerja instan, melainkan buah dari sinergi kolektif antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan sektor pangan di Bali.
“Ketahanan pangan Bali masih berada dalam kondisi baik. Ini adalah hasil kerja bersama dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan. Namun, kami tidak berpuas diri. Tantangan ke depan semakin kompleks dan membutuhkan strategi yang lebih adaptif,” tegasnya di Denpasar, pada Selasa (5/5/2026).
Dalam menjaga momentum ini, Pemprov Bali terus mengakselerasi berbagai langkah strategis. Mulai dari penguatan produksi pangan lokal, diversifikasi konsumsi berbasis sumber daya lokal, stabilisasi pasokan dan harga pangan, hingga penguatan cadangan pangan pemerintah.
Pendekatan berbasis kearifan lokal juga tetap menjadi fondasi utama, salah satunya melalui sistem Subak yang telah diakui mampu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis budaya.
Di tingkat kabupaten/kota, capaian positif juga terlihat. Kabupaten Badung dan Kota Denpasar tercatat memiliki tingkat ketahanan pangan tinggi, didukung oleh infrastruktur dan akses pasar yang memadai. Sementara Kabupaten Tabanan, Kabupaten Jembrana, dan Kabupaten Gianyar tetap menjadi tulang punggung produksi pangan utama di Pulau Dewata.
Namun di balik capaian tersebut, sejumlah tantangan masih membayangi. Mulai dari alih fungsi lahan pertanian yang terus terjadi, ketergantungan pasokan dari luar daerah, dampak perubahan iklim, hingga persoalan klasik regenerasi petani yang belum optimal.
Menjawab tantangan ini, Pemprov Bali telah menyiapkan langkah strategis ke depan, termasuk pengembangan pertanian modern berbasis teknologi, perlindungan lahan pertanian berkelanjutan, penguatan sistem cadangan pangan, serta pengembangan agroindustri dan hilirisasi produk pertanian.
Lebih jauh, I Wayan Sunada menegaskan bahwa keberhasilan ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari peran petani sebagai garda terdepan. Karena itu, peningkatan kesejahteraan petani menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi besar ketahanan pangan Bali.
“Kami ingin ketahanan pangan tidak hanya menjamin ketersediaan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. Inovasi, pemanfaatan teknologi, dan pelestarian kearifan lokal harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Melalui fondasi kolaborasi yang kuat antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan, Bali optimistis mampu menjaga bahkan meningkatkan posisi strategisnya dalam ketahanan pangan nasional, sekaligus memastikan keberlanjutan sektor pertanian di tengah tekanan global yang semakin kompleks. ama/ksm/*









