Politik dan Sosial Budaya

HUT ke-18 Partai Gerindra Banjir Sembako, Ngurah Aryawan Buktikan Masih Berdiri di Sisi Rakyat

Denpasar, PancarPOS | Di tengah riuh politik yang kerap dipenuhi janji dan panggung seremonial, sebuah pemandangan berbeda tersaji di Kantor Perbekel Padangsambian Kaja, Denpasar Barat, pada Kamis (29/1/2026). Tanpa baliho besar, tanpa panggung megah, dan tanpa retorika berlebihan, Partai Gerindra memilih jalan sunyi: hadir, bekerja, dan menyentuh langsung denyut nadi masyarakat.

Momentum Hari Ulang Tahun ke-18 Partai Gerindra tidak dimaknai sebagai perayaan simbolik semata. Di Padangsambian Kaja, peringatan ini menjelma menjadi gerakan sosial yang sarat makna. Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Denpasar, Ketut Ngurah Aryawan, S.H., turun langsung ke lapangan, menyapa warga, menyalurkan bantuan, dan mendengar keluh kesah masyarakat yang selama ini hidup di antara persoalan kemiskinan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan. Penyandang disabilitas, petugas kebersihan, pekerja Bangun Karya, hingga masyarakat kecil yang sehari-harinya bergelut dengan kerasnya hidup kota, berkumpul dengan satu harapan sederhana: diperhatikan dan dihargai. Tidak sedikit dari mereka yang selama ini merasa terpinggirkan, bahkan nyaris tak terdengar suaranya dalam hiruk pikuk pembangunan kota.

Ngurah Aryawan hadir bukan sebagai pejabat yang duduk di balik meja, tetapi sebagai wakil rakyat yang memilih berdiri sejajar dengan masyarakat. Baginya, politik tidak boleh berhenti di ruang rapat atau gedung parlemen. Politik harus hidup di tengah rakyat, terutama mereka yang paling membutuhkan kehadiran negara.

“Kami melaksanakan kegiatan ini dengan harapan betul-betul sesuai dengan tema Gerindra, kompak bergerak berdampak. Artinya, kami hadir untuk melayani masyarakat dan menjawab apa yang menjadi kebutuhan nyata mereka. Fokus kami jelas, pada persoalan kemiskinan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial,” tegas Ketut Ngurah Aryawan di sela kegiatan.

Ia menambahkan, wilayah perkotaan seperti Denpasar memiliki persoalan sosial yang kompleks. Di balik wajah kota yang modern dan pariwisata yang gemerlap, masih banyak warga yang berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar.

“Di pasar dan lingkungan padat penduduk, persoalan sampah masih terjadi, kemiskinan masih nyata, dan anak-anak putus sekolah masih kita temukan. Ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada kepedulian, pengawasan, dan gerakan bersama,” ujarnya.

Dalam kegiatan Gerak Cepat HUT ke-18 Partai Gerindra ini, bantuan sosial disalurkan secara langsung kepada kelompok masyarakat yang selama ini jarang mendapat sorotan. Penyandang disabilitas menjadi salah satu fokus utama, mengingat keterbatasan akses dan minimnya perhatian yang mereka terima.

Selain itu, para petugas kebersihan dan pekerja Bangun Karya yang setiap hari menjaga wajah kota agar tetap bersih dan layak huni, juga mendapatkan perhatian khusus. Bagi Ketut Ngurah Aryawan, mereka adalah pejuang lingkungan yang sering bekerja dalam senyap, tanpa pujian, namun jasanya dirasakan oleh semua orang. “Mereka ini tulang punggung kota. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” katanya lirih.

Secara pribadi, Ketut Ngurah Aryawan menyalurkan sebanyak 50 paket sembako yang dibagikan di beberapa titik di wilayah Padangsambian Kaja. Bantuan tersebut mungkin tidak besar jika diukur dengan angka, tetapi bagi penerimanya, bantuan itu menjadi simbol bahwa masih ada yang peduli.

Seorang warga penerima bantuan mengaku terharu dengan kehadiran langsung wakil rakyat di lingkungannya. Baginya, perhatian seperti ini jauh lebih berarti dibanding janji-janji politik yang hanya terdengar saat musim pemilu. “Kami merasa dilihat dan dihargai. Bukan hanya diberi bantuan, tapi juga didengarkan,” ujarnya.

Ketut Ngurah Aryawan menegaskan bahwa Partai Gerindra tidak ingin hadir hanya pada momentum tertentu. Peringatan HUT ke-18 partai justru dijadikan refleksi untuk memperkuat komitmen pengabdian kepada masyarakat. “HUT ini bukan soal usia, tetapi soal konsistensi. Apakah kita masih setia pada rakyat, atau justru menjauh setelah mendapat amanah,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap program-program strategis nasional, salah satunya program Makan Bergizi Gratis. Menurutnya, program ini bukan sekadar kebijakan populis, tetapi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

“MBG ini sangat penting. Dampaknya bukan hari ini saja, tetapi 10 tahun ke depan. Kita ingin memastikan anak-anak kita tumbuh sehat, cerdas, dan terbebas dari stunting. Di Denpasar, di Bali, dan di Indonesia secara umum,” tegasnya.

Ketut Ngurah Aryawan menilai, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada pengawasan di tingkat daerah. Tanpa pengawasan yang ketat, kebijakan sebaik apa pun berpotensi tidak tepat sasaran.

Kegiatan sosial ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah desa setempat. Perbekel Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kepedulian Partai Gerindra terhadap masyarakatnya.

“Atas nama masyarakat Desa Padangsambiankaja, khususnya penyandang disabilitas, kami mengucapkan terima kasih. Kepedulian tokoh-tokoh masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pokok warga sudah direspons dengan baik dan sangat dirasakan manfaatnya,” ujarnya.

Ia berharap, kegiatan semacam ini tidak berhenti pada satu momentum, tetapi dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan lebih banyak pihak. “Kami berharap semua elemen ikut berkontribusi dalam mensejahterakan masyarakat. Gotong royong adalah kunci,” katanya.

Perbekel juga menyinggung peran tokoh masyarakat yang dinilainya cukup responsif terhadap persoalan warga, termasuk Pak Uda Realwan, yang selama ini dinilai aktif menunjukkan kepedulian sosial di Desa Peranaman Kajau. “Kami berharap kepedulian ini terus berlanjut, tidak hanya di satu bidang, tetapi di berbagai aspek kehidupan masyarakat,” tambahnya.

Bagi masyarakat Padangsambian Kaja, kegiatan ini bukan sekadar penyaluran bantuan. Lebih dari itu, ini adalah pengakuan bahwa mereka bukan angka statistik, melainkan manusia dengan harapan dan martabat.

Di tengah situasi ekonomi yang masih dalam masa pemulihan, gerakan sosial seperti ini menjadi oase bagi masyarakat kecil. Ketika harga kebutuhan pokok naik dan tekanan hidup semakin berat, sentuhan empati menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Ngurah Aryawan menegaskan bahwa Gerindra ingin membangun politik yang berpijak pada nilai kemanusiaan. Politik, menurutnya, harus memberi rasa aman dan harapan, bukan ketakutan atau kekecewaan. “Gerakan kompak bergerak berdampak ini adalah jalan yang kami pilih. Jalan untuk tetap dekat dengan rakyat, bekerja bersama mereka, dan memastikan tidak ada yang tertinggal,” katanya.

Ia menutup dengan pesan bahwa perjuangan belum selesai. Peringatan HUT ke-18 Partai Gerindra hanyalah salah satu titik dalam perjalanan panjang pengabdian kepada masyarakat. “Kami akan terus bergerak. Tidak menunggu tepuk tangan, tidak menunggu pujian. Karena bagi kami, senyum masyarakat adalah penghargaan tertinggi,” tandasnya. ama/ksm

Back to top button