Turun Gunung, Adi Wiryatama Basah Keringat Bersihkan Tanah Longsor Tutup Subak

Tabanan, PancarPOS | Derasnya hujan yang mengguyur Bali beberapa hari terakhir benar-benar meninggalkan luka. Banjir merendam rumah, tanggul sawah jebol, hingga tanah longsor menutup aliran sungai di berbagai titik. Di Tabanan, kabupaten yang dikenal sebagai lumbung beras Bali, situasi ini membuat petani panik. Air subak yang biasanya mengalir lancar, tiba-tiba tersendat. Jika dibiarkan, sawah bisa kering dan ancaman gagal panen tinggal menunggu waktu.
Minggu (21/9/2025), suasana berbeda menyelimuti Banjar Tegeh, Desa Angseri, Tabanan. Warga subak yang biasanya khawatir, kali ini berbondong-bondong membawa cangkul, sabit, hingga senso kayu. Mereka tidak hanya membersihkan longsor yang menutupi aliran subak Mase, tetapi juga kedatangan tamu istimewa. Nyoman Adi Wiryatama, anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, mantan Bupati Tabanan dua periode, sekaligus mantan Ketua DPRD Bali, “turun gunung” ikut bekerja bersama masyarakat.
Tidak ada jarak antara pejabat dan rakyat hari itu. Adi Wiryatama turun langsung ke lumpur, mengangkat batu, bahkan ikut menggeser batang bambu yang menutupi sungai. Keringatnya bercampur dengan tanah, wajahnya sesekali menunduk menahan lelah. Tapi semangat warga menular kepadanya.
“Subak ini bukan hanya jalur air, tapi urat nadi kehidupan kita di Bali. Kalau subak tersumbat, yang mati bukan hanya padi, tapi juga tradisi dan budaya yang diwariskan leluhur kita. Karena itu saya merasa wajib turun, tidak cukup hanya rapat di gedung,” ucap Adi Wiryatama di sela-sela gotong royong.
Perkataan itu langsung disambut tepuk tangan warga yang sedang bekerja. Beberapa petani bahkan sempat berhenti sejenak, lalu mengangguk tanda setuju.
Seorang warga, sambil mengangkat batu besar, menyelutuk, “Kalau semua anggota dewan mau turun kayak gini, rakyat pasti makin percaya. Kita tidak butuh janji, kita butuh aksi.” Kalimat itu membuat suasana makin hangat, dan Adi Wiryatama hanya tersenyum sambil menepuk bahu warga tersebut.
Gotong royong berlangsung cukup lama. Suara senso bersahutan memotong akar bambu, sabit mengayun membersihkan ranting, cangkul mengorek tanah yang menimbun aliran sungai. Beberapa ibu-ibu ikut membantu mengumpulkan sampah kayu, sementara anak-anak menonton dari pinggir. Ada juga warga tua yang hanya bisa memberi semangat dari kejauhan.
Setelah beberapa jam, jalur air mulai terbuka dan subak kembali mengalir. Warga bersorak kecil melihat air menyusuri jalannya, tanda sawah mereka selamat. Di saat itu pula, suasana kebersamaan semakin kuat ketika acara ditutup dengan makan nasi bungkus sederhana. Duduk di pinggir sungai, tangan masih kotor tanah, mereka menikmati lauk seadanya dengan penuh rasa syukur.
“Yang membuat saya terharu, masyarakat tidak pernah menyerah. Dengan alat sederhana pun mereka tetap berjuang demi sawahnya. Itulah kenapa saya katakan, subak adalah tulang punggung Bali. Kalau kita tidak jaga, Bali bisa kehilangan jati dirinya. Dan gotong royong ini membuktikan, kita mampu menjaga warisan leluhur kalau mau bersatu,” ujar Adi Wiryatama dengan suara bergetar.
Ia bahkan menyinggung soal kepedulian pemerintah yang kadang hanya berhenti pada wacana. “Saya berharap, kejadian ini jadi pelajaran. Jangan tunggu banjir atau longsor baru bergerak. Kita butuh sistem perencanaan yang matang, kita butuh anggaran yang tepat sasaran, dan yang terpenting kita butuh kesadaran bersama. Kalau subak dibiarkan rusak, jangan salahkan petani kalau mereka kehilangan harapan,” tambahnya.
Respon itu membuat warga merasa diperhatikan. Mereka berharap kehadiran Adi Wiryatama bukan sekadar simbol, tapi awal dari langkah nyata memperkuat perlindungan terhadap subak. Gotong royong hari itu bukan hanya membersihkan longsor, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan semangat kolektif antara rakyat dan wakilnya.
“Kalau bukan kita yang menjaga subak, siapa lagi?” pungkas Adi Wiryatama sebelum meninggalkan lokasi, disambut lambaian tangan warga yang puas dan lega. ama/ksm









