Politik dan Sosial Budaya

Parah! Warga Denpasar Mulai Ramai-ramai Bakar Sampah


Denpasar, PancarPOS | Ancaman kesehatan akibat polusi udara dari pembakaran sampah kembali disorot serius. Anggota DPRD Denpasar, I Ketut Ngurah Aryawan, S.H., di Denpasar, pada Selasa (7/4/2026) mengajak masyarakat Bali untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah dan beralih ke pengelolaan yang lebih modern dan ramah lingkungan seperti tebe modern dan komposter rumah tangga.

Aryawan menegaskan, pembakaran sampah bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi mengulang situasi seperti masa pandemi Covid-19, ketika fasilitas kesehatan dipenuhi pasien dengan gangguan pernapasan.

“Jangan sampai kita kembali ke situasi seperti zaman Covid-19. Asap pembakaran sampah sangat berbahaya, bisa memicu sesak napas, ISPA, bahkan memperparah penyakit kronis. Rumah sakit bisa kembali penuh kalau ini dibiarkan,” tegasnya.

Secara data, masalah ini bukan tanpa dasar. Berdasarkan berbagai laporan kesehatan lingkungan, pembakaran sampah terbuka menghasilkan partikel halus (PM2.5) yang sangat berbahaya karena dapat masuk ke paru-paru dan aliran darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat paparan polusi udara, termasuk dari pembakaran sampah, menjadi salah satu penyebab utama penyakit pernapasan akut (ISPA), asma, hingga penyakit jantung.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berulang kali menegaskan bahwa praktik open burning menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran udara di kawasan permukiman. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus ISPA masih menjadi penyakit terbanyak di masyarakat, terutama di wilayah dengan kualitas udara buruk.

Dalam konteks Bali, Aryawan menyoroti kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang selama ini menjadi tumpuan pengelolaan sampah regional. Dengan kebijakan penutupan TPA Suwung untuk pengolahan sampah organik secara konvensional, masyarakat justru dituntut untuk lebih mandiri dalam mengelola sampah dari sumbernya. “TPA Suwung sudah tidak bisa lagi jadi solusi lama. Sampah organik harus selesai di rumah masing-masing. Ini momentum perubahan, bukan alasan untuk membakar sampah,” ujarnya tegas.

Sebagai solusi konkret, Aryawan mendorong penerapan tebe modern, yakni lubang atau sistem pengolahan sampah organik berbasis rumah tangga yang dikembangkan secara lebih higienis dan terkontrol. Selain itu, penggunaan komposter juga dinilai sangat efektif untuk mengolah sisa makanan dan sampah organik menjadi pupuk yang bermanfaat.

Menurutnya, inovasi ini bukan hal baru bagi masyarakat Bali, melainkan pengembangan dari kearifan lokal yang dipadukan dengan pendekatan modern. “Tebe modern dan komposter ini solusi nyata. Sampah organik bisa langsung diolah jadi pupuk, tidak menimbulkan bau, dan tidak mencemari udara. Ini jauh lebih sehat dan ekonomis,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa jika kebiasaan membakar sampah terus dibiarkan, maka dampaknya akan semakin luas, mulai dari penurunan kualitas udara, gangguan kesehatan masyarakat, hingga meningkatnya beban ekonomi akibat biaya pengobatan.

Lebih jauh, Aryawan mengajak seluruh komponen masyarakat, mulai dari desa adat, banjar, hingga generasi muda untuk menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah berbasis sumber. “Ini soal kesadaran kolektif. Kalau kita mau Bali tetap sehat, bersih, dan layak huni, maka kebiasaan lama seperti membakar sampah harus ditinggalkan. Ganti dengan cara yang lebih cerdas dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Arun Bali juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat edukasi serta memberikan dukungan nyata kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan pengelolaan sampah, bantuan alat komposter, serta pengembangan sistem tebe modern di tingkat rumah tangga dan komunitas. ama/ksm


Back to top button