Industri Boga Bali Naik Level! APJI Gandeng Raksasa Brand Asal Jerman dan Distributor Rp100 Miliar
Revolusi Dapur Bali, Industri Jasa Boga Siap Tancap Gas

Denpasar, PancarPOS | Industri jasa boga Bali memasuki revolusi baru. Sabtu, 21 Februari 2026, Ballroom Hotel Kartika Plaza Kuta, Badung tidak sekadar menjadi ruang demo memasak, melainkan panggung deklarasi transformasi dapur Bali menuju era teknologi, efisiensi, dan kolaborasi raksasa distribusi pangan. Kegiatan Demo Memasak “Bali Live Cooking” yang dirangkai dengan Buka Puasa Bersama ini menjadi titik temu pelaku catering, restoran, hotel, supplier, hingga penyedia peralatan dapur kelas dunia.
Di balik acara tersebut berdiri DPD Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia Bali yang dikomandoi Gek In sapaan akrab I Gusti Ayu Inda Trimafo Yudha. Ketua APJI Bali ini menegaskan bahwa agenda tersebut bukan seremoni biasa, melainkan langkah strategis memperkuat ekosistem kuliner Bali, khususnya dalam mendukung program pemerintah seperti MDG dan penguatan dapur-dapur profesional.
Ia menyebut, banyak pemilik restoran, pemilik catering, hingga figur publik yang kini mendukung program pemerintah untuk menjadi partner MDG. Bahkan sejumlah artis ikut terlibat dalam mentoring kepala-kepala dapur SMPDI di Indonesia, termasuk Bali. Artinya, dapur bukan lagi sekadar ruang produksi makanan, tetapi menjadi ruang strategis pembangunan kualitas generasi. “Kami ingin organisasi ini benar-benar menjadi rumah bagi pemilik catering, pemilik restoran, termasuk dapur-dapur MDG. Kita harus solid dan profesional,” tegas Gek Inda.

Salah satu magnet utama acara ini adalah kehadiran brand peralatan dapur asal Jerman, Rational Cooking Systems. Brand ini hadir di Indonesia sekitar 13 tahun, namun secara global telah berdiri sejak 1973, artinya sudah 53 tahun fokus mengembangkan teknologi dapur profesional. Tommy Sutanto, Sales Director Rational Cooking Systems Indonesia, memaparkan bahwa selama lima dekade lebih, Rational hanya mengembangkan dua lini utama: Combi Steamer atau Combi Oven yang kini dikenal sebagai iCombi Pro dan iCombi Classic, serta iVario.
Menurut Tommy, iCombi merupakan kombinasi steamer dan convection oven dalam satu alat. Ia bisa steaming, baking, roasting, hingga grilling. Ditambah iVario, hampir seluruh jenis makanan di dunia dapat diproduksi. “Western food bisa. Asian food bisa. Bahkan makanan Indonesia seperti rendang pun bisa dimasak dengan dua alat ini,” jelasnya.
Namun ia menekankan, teknologi ini tidak menggantikan chef. Justru membantu chef agar lebih fokus pada pengembangan resep dan riset. “Proses memasak bisa diserahkan ke mesin karena sistemnya otomatis memonitor suhu, kelembapan, dan waktu. Chef bisa fokus ke kreativitas,” tegasnya.
iCombi hadir dalam ukuran 6 tray, 10 tray, hingga 20 tray, bahkan tersedia versi double seperti 6×2, 10×2, dan 20×2. Dari sisi energi, tersedia versi gas dan elektrik, meski sekitar 80 persen pasar Indonesia masih berbasis gas. Masa pakai unitnya bisa 5 hingga 15 tahun, bahkan di Indonesia masih ada hotel yang menggunakan unit lebih dari 20 tahun dan tetap berfungsi.

Jika Rational membawa teknologi, maka distribusi bahan pangan ditopang oleh kekuatan PT Sukanda Djaya. Perusahaan ini dikenal luas sebagai distributor bahan makanan impor dan lokal untuk hotel, restoran, dan pasar modern.
General Manager Sukanda Djaya, Nares Changsamlee, membeberkan skala bisnis yang selama ini mungkin tidak terlihat oleh publik. “Kalau bicara kategori, beda-beda. Contoh daging impor saja bisa lebih dari 100 miliar rupiah per bulan. Di Bali saja, imported beef itu kurang lebih 25 ton per bulan. Itu belum termasuk kategori lain,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa Sukanda Djaya bukan satu-satunya distributor besar di Bali. Ada nama seperti Indoguna dan Celtic by Food yang juga menjadi pemain utama. Namun Sukanda memiliki kekuatan di lini deli product seperti cheese, cream, hingga produk dairy dengan berbagai segmen, dari premium hingga ekonomi. “Kita punya semua. Dari kualitas tinggi sampai yang ekonomis. Sekarang juga ada grocery, dan untuk beberapa brand nasional kita jadi eksekutif distributor,” katanya.
Sukanda Djaya memiliki lima channel distribusi utama. Pertama, food service untuk hotel dan restoran. Kedua, modern trade seperti supermarket Pepito, Indomaret, dan Alfamart. Ketiga, pasar tradisional. Keempat, online business melalui aplikasi pemesanan. Kelima, toko fisik Diamond Pack di kantor mereka.
Secara keseluruhan, portofolio mereka mencapai sekitar 4.000 SKU. Produk tersebut mencakup dry goods, dry AC, chilled, hingga frozen. Untuk mendukung distribusi, setiap hari sekitar 80 unit truk bergerak mengantar barang hingga Singaraja dan Negara. “Kita jalan setiap hari. Bali ini kecil secara geografis, tapi demand-nya luar biasa,” tegas Nares.
Kehadiran distributor besar dan teknologi dapur modern memberi dampak berantai ke sektor hulu. Gek Inda mencontohkan wilayah utara Bali yang berbasis pertanian dan peternakan. Untuk satu dapur dengan kapasitas 3.000 porsi, dibutuhkan 3.000 telur per hari. Belum termasuk beras, sayuran, dan protein lainnya. Artinya, petani dan peternak lokal ikut terdorong.

Ia bahkan mengaku menerima banyak pesan dari masyarakat yang ingin bergabung sebagai relawan dapur MDG. Mereka melihat peluang mendapatkan pengalaman sekaligus meningkatkan kompetensi. APJI Bali saat ini juga tengah mendata jumlah dapur MDG yang sudah berjalan. Perkiraan sementara antara 10 hingga 15 dapur. Pendataan dilakukan untuk memastikan pengawasan, kualitas, serta kesiapan sertifikasi tenaga dapur.
Sertifikasi tersebut membutuhkan proses hingga 15 bulan. Tujuannya jelas: memastikan makanan aman, higienis, dan bergizi. “Kita tidak bisa main-main. Yang makan anak-anak. Harus ada standar,” tegas Gek Inda. Dengan teknologi seperti Rational dan dukungan distribusi masif dari Sukanda Djaya, pelaku catering tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sistem konvensional. Dapur bisa dipadatkan, efisiensi meningkat, risiko kesalahan menurun, dan biaya operasional jangka panjang lebih terkendali.
Tommy menyebut, jika dihitung secara maksimal, investasi per hari tidak lebih dari harga satu gelas es kopi. Pernyataan itu merujuk pada penghitungan jangka panjang berdasarkan masa pakai alat. Bagi APJI Bali, ini bukan sekadar soal alat atau distribusi. “Ini tentang membangun standar baru industri jasa boga Bali agar mampu bersaing secara global,” tandasnya.
Acara yang dirangkai dengan buka puasa bersama juga menjadi simbol toleransi Bali. Para pelaku usaha dari latar belakang berbeda duduk bersama dalam suasana hangat. Makanan yang disajikan bukan hanya hasil demo teknologi, tetapi simbol kerja sama antara chef, distributor, organisasi, dan pemerintah. ama/ksm/kel









