Minggu, April 5, 2026
BerandaGaya Hidup dan KulinerDibalik Goresan dan Warna Dokter Bagus, Saat Seni Menjelma Jadi Oase Jiwa...

Dibalik Goresan dan Warna Dokter Bagus, Saat Seni Menjelma Jadi Oase Jiwa di Tengah Teror Produktivitas Modern

Denpasar, PancarPOS | Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, di mana waktu terasa semakin sempit dan tuntutan hidup terus menggulung tanpa jeda, manusia modern sesungguhnya sedang menghadapi satu krisis besar yang kerap tak terlihat: kelelahan jiwa. Di balik capaian, target, dan produktivitas yang diagungkan, tersimpan kegelisahan yang diam-diam menggerogoti ketenangan batin. Dalam lanskap inilah, seni hadir bukan sekadar sebagai hiasan dinding atau simbol kemewahan, melainkan sebagai ruang teduh, sebagai pelarian yang bermakna, bahkan sebagai jalan pulang bagi jiwa yang tersesat.

Refleksi mendalam ini disampaikan oleh dr. Gede Bagus Darmayasa, M.M., M.Repro, yang melihat seni lukis bukan hanya sebagai ekspresi estetika, tetapi sebagai medium penyembuhan yang semakin relevan di era modern. Dalam pandangannya, seni telah melampaui batas-batas tradisionalnya. Ia tidak lagi eksklusif milik galeri, kolektor, atau para maestro, melainkan telah menjadi kebutuhan psikologis manusia yang haus akan ketenangan.

Fenomena work-life balance yang ramai diperbincangkan generasi saat ini, menurut Dokter Bagus, bukanlah sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal darurat. Ia adalah bentuk perlawanan halus terhadap sistem kehidupan yang terlalu menekan, terlalu cepat, dan terlalu menuntut kesempurnaan. Di tengah tekanan tersebut, manusia mulai mencari ruang untuk bernapas, untuk berhenti, dan untuk kembali mendengar suara batinnya sendiri.

Pameran seni lukis “Resep di Atas Kanvas” karya Direktur Utama RS Puri Raharja, dr Bagus Darmayasa, digelar di Lobby Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, dalam rangka memeriahkan HUT ke-64 FK Unud, menampilkan hampir 88 karya lukisan yang terbuka untuk masyarakat umum. (foto: ist)

“Di sinilah seni mengambil peran yang sangat penting. Ia tidak memaksa, tidak menghakimi, dan tidak menuntut. Seni hanya membuka ruang,” ungkap Dokter Bagus dalam refleksinya kepada awak media, pada Jumat (27/3/2026).

Bagi seorang pelukis, kanvas putih bukanlah sekadar media kosong. Ia adalah ruang pengakuan, ruang dialog, bahkan ruang katarsis. Setiap goresan kuas adalah bahasa yang lahir dari kedalaman emosi, dari kegelisahan yang mungkin tak pernah terucapkan. Dalam setiap warna yang ditumpahkan, ada cerita yang disembunyikan, ada luka yang sedang disembuhkan.

Penelitian dalam bidang art therapy telah lama menunjukkan bahwa aktivitas kreatif seperti melukis mampu menurunkan kadar kortisol, hormon yang menjadi pemicu utama stres. Dalam proses mencipta, tubuh dan pikiran seolah menemukan kembali keseimbangannya. Ketegangan perlahan luruh, digantikan oleh rasa tenang yang datang tanpa dipaksakan.

Lebih dari itu, Dokter Bagus menjelaskan adanya fenomena psikologis yang dikenal sebagai “flow”, sebuah kondisi di mana seseorang tenggelam sepenuhnya dalam aktivitas yang dilakukan. Dalam keadaan ini, waktu seakan berhenti. Dunia luar menghilang. Yang tersisa hanyalah hubungan intim antara diri, warna, dan kanvas.

Flow bukan sekadar kondisi fokus biasa. Ia adalah pengalaman transendental yang memungkinkan otak untuk beristirahat dari kebisingan pikiran. Dalam momen tersebut, sistem saraf pusat mendapatkan jeda yang sangat dibutuhkan. Melukis, dalam konteks ini, bukan hanya aktivitas kreatif, tetapi juga praktik meditasi yang hidup.

Namun, kekuatan seni tidak berhenti pada mereka yang mencipta. Bagi para penikmat, seni juga menawarkan pengalaman yang tak kalah dalam. Ketika seseorang berdiri di hadapan sebuah lukisan, ia tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan. Ada dialog diam yang terjadi antara karya dan jiwa yang memandangnya.

Direktur RSU Puri Raharja, Dr. Gede Bagus Dharmayasa, M. Repro. (foto: ist/net)

Dalam kajian neuroestetika, pengalaman ini dijelaskan sebagai proses yang melibatkan pelepasan dopamin di otak. Hormon ini identik dengan perasaan bahagia, kepuasan, bahkan cinta. Tidak heran jika banyak orang merasa “terhubung” dengan sebuah karya seni, seolah menemukan bagian dari dirinya yang lama hilang. “Di depan sebuah lukisan, kita sering kali merasa dipahami tanpa harus berbicara. Itulah kekuatan seni,” kata Dokter Bagus yang juga Dirut RSU Puri Raharja.

Lebih jauh, fenomena yang disebut sebagai “simulasi perwujudan” menjelaskan bagaimana penikmat seni secara tidak sadar ikut merasakan emosi yang dituangkan oleh pelukis. Gerakan kuas, pilihan warna, dan komposisi visual menjadi medium yang mentransfer pengalaman emosional dari pencipta kepada penikmat.

Hasil penelitian dari University of Westminster memperkuat hal ini. Menghabiskan waktu di galeri seni, bahkan hanya dalam durasi singkat, terbukti mampu menurunkan tingkat stres secara signifikan. Dalam dunia yang penuh tekanan, kunjungan ke galeri seni dapat menjadi “intervensi cepat” yang efektif untuk mengembalikan keseimbangan mental.

Namun, di balik semua temuan ilmiah tersebut, ada satu hal yang lebih penting: pengalaman personal. Seni bekerja dengan cara yang sangat intim dan subjektif. Apa yang dirasakan satu orang di depan sebuah lukisan bisa sangat berbeda dengan yang dirasakan orang lain. Dan justru di situlah letak keindahannya.

Dokter Bagus menekankan bahwa seni tidak menuntut kemampuan. Ia tidak memerlukan keahlian teknis atau latar belakang akademis. Setiap orang berhak untuk mencipta dan menikmati. Bahkan, dalam kesederhanaannya, aktivitas melukis dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap tekanan hidup.

Di tengah dunia yang menuntut kesempurnaan, seni justru merayakan ketidaksempurnaan. Ia menerima setiap goresan yang mungkin tampak “salah”, setiap warna yang mungkin dianggap “tidak sesuai”. Dalam seni, tidak ada benar atau salah. Yang ada hanyalah kejujuran.

Insert foto: dr. Gede Bagus Darmayasa, M. Repro. bersama Komisari Non Independen Bank BPD Bali Ni Made Dewi Suryani, S.E., Ak., M.Ak., CA., dengan lukisan pendiri Bank BPD Bali Made Jiwa.

Inilah yang membuat seni menjadi ruang aman. Ruang di mana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi. Ruang di mana luka bisa diungkapkan tanpa harus dijelaskan. Ruang di mana kelelahan bisa dilepaskan tanpa harus disembunyikan.

Lebih jauh lagi, seni juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Ia mampu menghubungkan manusia dengan pengalaman kolektif. Dalam sebuah karya, seseorang bisa menemukan cerita yang sama, emosi yang serupa, bahkan luka yang sejalan. Seni menjadi jembatan yang menghubungkan individu dengan kemanusiaan yang lebih luas.

Dalam konteks ini, seni tidak hanya menyembuhkan individu, tetapi juga memperkuat empati sosial. Ia mengajarkan manusia untuk melihat, merasakan, dan memahami perspektif orang lain. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, seni menjadi medium yang mampu menyatukan.

Dokter Bagus melihat bahwa di masa depan, peran seni sebagai alat terapi akan semakin penting. Di tengah meningkatnya kasus gangguan mental, seni dapat menjadi alternatif yang lebih humanis dan mudah diakses. Ia tidak menggantikan terapi medis, tetapi melengkapinya dengan pendekatan yang lebih emosional dan intuitif.

“Seni adalah bahasa universal. Ia bisa menjangkau siapa saja, tanpa batas usia, tanpa batas latar belakang,” tegasnya.

Namun, ironisnya, di tengah potensinya yang besar, seni sering kali masih dipandang sebelah mata. Ia dianggap tidak produktif, tidak menghasilkan, bahkan tidak penting. Padahal, dalam realitas yang lebih dalam, seni justru menjadi fondasi bagi kesehatan mental yang berkelanjutan.

Di sinilah pentingnya perubahan perspektif. Seni harus dilihat bukan sebagai kemewahan, tetapi sebagai kebutuhan. Ia bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari kesejahteraan manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, seni sebenarnya sangat dekat. Ia bisa hadir dalam bentuk sederhana: menggambar di buku catatan, mencoret-coret di sela pekerjaan, atau sekadar menikmati lukisan di media sosial. Yang terpenting bukanlah bentuknya, tetapi pengalaman yang dihadirkan.

Di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks, seni menawarkan sesuatu yang sederhana namun mendalam: kesempatan untuk berhenti. Untuk bernapas. Untuk merasakan. Dan untuk kembali terhubung dengan diri sendiri.

Direktur RSU Puri Raharja, dr. Gede Bagus Darmayasa, MM., M.Repro., saat bersama pasien. (foto: ist)

Dalam diamnya warna dan sunyinya goresan, ada pesan yang kuat: bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk merasakan. Bahwa di balik semua tuntutan, ada jiwa yang perlu dirawat. Dan bahwa dalam keindahan, selalu ada penyembuhan.

“Seni, pada akhirnya, bukan tentang apa yang kita lihat, tetapi tentang apa yang kita rasakan. Ia adalah cermin yang memantulkan kondisi batin kita. Ia adalah ruang di mana kita bisa menemukan kembali diri yang mungkin telah lama hilang,” tandasnya. ama/ksm

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments