Politik dan Sosial Budaya

Lepas 6 Ekor Burung Hantu, Gus Adhi Pertahankan Kearifan Budaya Pertanian Lokal


Tabanan, PancarPOS | Perkembangan jaman dan peradaban budaya boleh berubah, namun budaya kearifan lokal harus tetap dipelihara dan dipertahankan. Inilah yang mendorong semangat Ketua Dewan Pimpinan Daerah (Depidar) Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Bali, Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra, SH., MH., datang langsung melepas 6 ekor burung hantu di Subak Gunung, Desa Dukuh, Penebel, Tabanan, Jumat (29/1/2021) sore. Bahkan, kedatangan Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar terpilih dua periode yang biasa disapa Gus Adhi turba ke pelosok ini, juga menggandeng Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo bersama Ketua Umum Depinas Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Ahmadi Noor Supit untuk ikut melepas tiga pasangan burung hantu itu, agar bisa berkembang biak secara alami.

1th#ik-11/10/2020

Dari penjelasan Ketua B-Riper Bhakti Ring Pertiwi, I Putu Partayasa mengakui sebagai penggagas awalnya sangat kewalahan membantu petani mempercepat penanggulangan hama tikus di Bali. “Untuk itulah kami kembali tergerak untuk membantu karena banyak petani yang gagal panen dengan melatih burung hantu ini, untuk mengurangi hama tikus. Jadi kita ucapan terimakasih atas perhatian Pak Gus Adhi, bersama yang lainnya langsung datang kesini,” tandasnya. Di sisi lain, Perbekel Desa Penebel I Gusti Agung Ketut Sasra mengakui mendapat kesempatan berharga bisa mendapat kunjungan dari pada pejabat dan wakil rakyat di tingkat pusat. “Kunjungan ini kami rasakan sangat bermanfaat dan diharapkan dapat terus berkesinambungan, terutama membantu pengelolaan pertanian di desa kami,” paparnya.

Pada kesempatan itu, Gus Adhi mengaku mengawali turun di Penebel sejak belum menjabat sebagai Anggota DPR RI. Politisi senior yang biasa dikenal Amatra ini, menyebutkan peran serta masyarakat, khususnya petani sangat tinggi menjaga kelestarian dan keutuhan alam. “Ini sebagai apresiasi masyarakat yang sangat luar biasa. Terimakasih kepada B-Riper Bhakti Ring Pertiwi dengan keterbatasannya bisa melakukan kegiatan yang luar biasa dengan melepas 3 pasang burung hantu, sehingga kelangsungan alam dan pertanian tetap terjaga,” ucap Gus Adhi seraya menjelaskan akan terus mendorong petani melakukan pola pertanian dari alam, untuk alam dan bersinergi dengan alam untuk menjaga alam. “Rekan-rekan B-Riper kehadirannya sangat diapresiasi karena sangat ulet melakukan aktifitasnya untuk menjaga kelestarian alam dan membantu para petani,” tegasnya.

1th-bn#1/2/2020

Disebutkan melalui pola alam ini, sangat menguntungkan, karena hanya membutuhkan biaya sangat minim. Apalagi setelah burung hantu bekerja tidak ada lagi biaya untuk mencegah hama tikus. “Biayanya sangat murah sekali, karena satu pasang burung hantu bisa menjaga sekitar 20 hektar lahan. Jadi subak di Bali sudah banyak yang memanfaatkan pola alam dengan burung hantu ini,” jelasnya. Sementara itu, Ketua MPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet sangat kagum dengan upaya petani di Bali yang menghadapi hama tikus dengan cara budaya tradisional dengan melepas burung hantu. Karena itu, budaya lokal ini harus terus dipertahanakan agar bisa meningkatkan hasil panen. “Ini sangat luar biasa melatih burung hantu yang bisa membantu petani. Sangat luar biasa satu pasang saja bisa mengawasi 20 hektar sawah,” paparnya.

Selaku Ketua Umum Depinas SOKSI, Ahmadi Noor Supit menyambut positif aktifitas pelepasan burung hantu sebagai sebuah karya nyata Ketua Depidar SOKSI Bali, sekaligus sebagai Anggota Komisi DPR RI dari Partai Golkar bisa ikut serta menyaksikan langsung budaya kearifan lokal Bali. “Saya belum pernah membayangkan, tapi sistem subak di Bali sudah sangat terkenal. Ternyata dengan burung hantu untuk mengatasi hama tikus. Ini sangat luar biasa dan membuktikan SOKSI bisa ikut memecahkan persoalan pertanian di Bali,” ujarnya. Apalagi di masa pandemi ini, perekonimian di Bali terdampak sangat parah akibat lumpuhnya pariwisata. Untuk itu, upaya ini bisa membuat usaha tani tidak terganggu oleh hama tikus dan masyarakat yang terdampak akibat pariwisata bisa ikut menggiatkan sektor pertanian sebagai budaya lokal. “Karena pertanian ini sebagai pekerjaan yang terhormat yang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat Bali,” tutupnya. ama/ksm

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close