Politik dan Sosial Budaya

“Di Bali Viralnya Tari Rejang Renteng”, PPMI Bali Live di Media Sosial Instagram

Denpasar, PancarPOS | Widya Pada “Wicara Budaya Pemuda Dewata” sesi pertama yang dilakukan oleh DPD Purna Prakarya Muda Indonesia (PPMI) Provinsi Bali dengan mengambil topik pembahasan “Di Balik Viralnya Tari Rejang Renteng” secara Live on Instagram di ppmi_bali dan nanasatrya pada pukul 17.00 WITA dengan narasumber tunggal Seniman Bali Ida Ayu Made Diastini yang dipandu Moderator Ni Putu Nana Satrya Pertiwi. “Di tengah Virus Corona/Pandemi Covid 19 yang dihadapi masyarakat tentunya sangat berdampak bagi masyarakat, pelaku seni dan budaya, terlebih Bali dikenal dengan pariwisata budaya, dimana Bali dihidupi dengan pariwisata yang sangat kental dengan beragam suguhan dari kesenian dan kebudayaan,” ungkap Ketua DPD PPMI Bali, I Gede Pande Eka Prayika saat dihubungi, Sabtu (3/4/2021) malam.

1bl-ik#27/4/2020

Dijelaskan melihat situasi ini, PPMI Provinsi Bali tidak mau berdiam diri. Karena itu melalui Bidang Seni dan Budaya PPMI Provinsi Bali berkontribusi aktif dalam membangkitkan suasana di tengah situasi ini dan mengajak para pemuda untuk meningkatkan kesadaran serta menggali kreativitas, inovasi dalam melestarikan dan mengenalkan ke khalayak umum keunikan dari keragaman seni dan budaya yang ada di Bali. “Salah satunya dengan Program Live di Media Sosial Instagram dengan narasumber yang menggeluti bidang seni dan budaya,” kata mantan Ketua BPW LSM JARRAK Bali itu. Selain itu pengambilan topik bahasan ini melihat fenomena sosial masyarakat Hindu di seluruh Indonesia dan terkhususnya di Bali. Di mana setiap ritual di pura atau tempat suci di nusantara selalu diwarnai dengan pementasan kelompok ibu-ibu menarikan Rejang Renteng.

“Tari yang dulu hampir punah itu, kini mampu membius masyarakat Hindu dan kini menjadi suatu hal yang wajib ditarikan pada pelaksanaan acara agama Hindu di nusantara dan terkhususnya Bali, sehingga sangat perlu dibahas topik tersebut agar memahami sejarahnya, makna filosofis, gerakannya, dan sebagainya,” beber Pande saat akrabnya. Dikatakan harapan dari pelaksanaan Widya Pada “Wicara Budaya Pemuda Dewata” sesi pertama ini agar masyarakat dan terkhususnya generasi muda lebih peduli dan mampu mempersuasif generasi milenial lainya, agar saling bahu membahu melestarikan dan mencintai kesenian daerah khusunya Bali. Generasi muda dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana informasi dan komunikasi efektif, positif terkait isu kesenian dan kebudayaan terkhususnya pada tarian Rejang Renteng, dan yang terpenting adalah memberikan semangat cinta seni dan budaya yang relatable dengan penyampaian narasumber.

1bl#ik-5/3/2021

Selain itu, juga ada harapan kepada masyarakat umum dan terkhususnya generasi muda memahami tari rejang renteng secara sejarah dan pemaknaan filosofisnya sebagai berikut, 1. Tari Renteng yang berarti renta atau tua berasal dari Desa Saren Nusa Gede, Nusa Penida. 2. Tari Renteng merupakan tarian sakral yang ditarikan saat piodalan di Pura Dalem Ped, yakni pada sasih kapat saat jagung baru ke luar jambot (bulu). Kalau di pura yang lainnya juga boleh ngayah tapi harus dipendak. 3. Penari Renteng ditarikan para wanita yang sudah menikah atau seorang pemangku. 4. Tari Rejang Renteng mempunyai fungsi hanya sebagai Wali. Fungsi Wali yang dimaksud adalah tarian Rejang Renteng ini ditarikan pada saat piodalan di pura dipendak dengan sarana banten pejati dan segehan.

Ini dilakukan sebelum menari. Selesai menari baru peras ajengannya di lebar. Rejang Renteng boleh juga dilombakan asal berkaitan dengan piodalan (wali) di pura. 5. Tari Rejang Renteng yang memang sudah ada di masing-masing desa di Bali (tradisi) dan Nusantara harus dilestarikan dan dipertahankan 1serta tetap ditarikan pada saat piodalan. Sedangkan Tari Rejang Renteng Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang sekarang sedang berkembang di masyarakat juga terus dikembangkan, jangan dibendung dan dilarang sehingga membuat ibu-ibu tetap semangat dan senang ikut ngayah. 6. Dengan adanya Rejang Renteng, ibu-ibu mempunyai kegiatan yang positif yaitu ngayah menari, yang sebelumnya tidak pernah menari menjadi senang menari. Dengan adanya Rejang Renteng ibu-ibu dapat berkumpul dan menari sekaligus menghibur diri.

1th-ksm#5/2/2021

7. Sesuai dengan Saka Tiga Bajra Yadnya tiga pilar untuk kukuhnya upacara seperti Satyam Siwam Sundaram yang berarti kebenaran kesucian dan keindahan, serta filosofi yang terkandung dalam tari Rejang Renteng baik komposisi maupun tatabusananya. “Dimana kesenian dengan landasan kesucian dan kebenaran tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan demi terwujudnya Rajya Rakta Jagadita, yakni keselamatan manusia, daerah dan dunia (mikro-makro),” tutupnya. ama/ksm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button