Senin, April 27, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaTeknologi dan OtomotifNenek 83 Tahun Juara Pasanggiri Angklung AHM, Bukti Budaya Tak Pernah Pensiun

Nenek 83 Tahun Juara Pasanggiri Angklung AHM, Bukti Budaya Tak Pernah Pensiun

Denpasar, PancarPOS | Semangat melestarikan budaya tak mengenal usia. Seorang nenek berusia 83 tahun, Merrywati Peruba, mencuri perhatian publik nasional setelah berhasil meraih juara pertama kategori umum dalam Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH) yang diselenggarakan PT Astra Honda Motor (AHM).

Kompetisi yang diikuti lebih dari 1.700 peserta dari 21 kabupaten dan kota di Indonesia itu menjadi panggung kolaborasi lintas generasi dalam mengekspresikan musik angklung secara modern, tanpa meninggalkan nilai tradisi. Final PASH sendiri berlangsung pada Kamis, 5 Februari 2026.

Merrywati tampil bersama kelompok angklung Gita Pundarika NSI asal DKI Jakarta yang beranggotakan 40 orang, dengan rata-rata usia pemain di atas 50 tahun. Membawakan lagu klasik Donau Wellen, penampilan mereka dinilai unggul dari sisi teknik, harmonisasi, kreativitas aransemen, hingga estetika panggung, sehingga berhasil memikat dewan juri.

Aktif bermain angklung sejak 1979, Merrywati menegaskan bahwa musik tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menjaga kesehatan mental dan kebersamaan.
“Bermain angklung memperkuat daya ingat, memberi rasa bahagia, dan mengajarkan pentingnya kerja sama. Dari angklung, kami belajar bahwa harmoni hanya tercipta jika semua saling mendukung,” ujarnya di sela-sela kompetisi.

Selain kategori umum, AHM juga menetapkan pemenang dari kategori Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dua kelompok lainnya dinobatkan sebagai tim terfavorit berdasarkan interaksi dan dukungan warganet di media sosial.

Selama kompetisi, para peserta menampilkan keberagaman genre musik, mulai dari lagu daerah, lagu anak-anak, hingga original soundtrack film, menunjukkan fleksibilitas angklung sebagai alat musik tradisional yang adaptif terhadap zaman.

General Manager Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibbuddin, menegaskan bahwa PASH bukan sekadar lomba, melainkan ruang edukasi dan regenerasi budaya.
“Ini membuktikan angklung mampu berpadu dengan berbagai jenis musik. Penilaian kami menitikberatkan pada teknik permainan, kreativitas aransemen, dan estetika penampilan,” ujarnya.

Muhibbuddin juga menekankan bahwa angklung mengandung nilai karakter yang relevan dengan pembangunan sumber daya manusia.
“Angklung bukan hanya warisan sejarah bangsa yang diakui UNESCO, tetapi juga mengajarkan konsistensi, daya juang, dan harmonisasi kerja tim. Nilai-nilai ini penting dalam membentuk generasi unggul,” katanya.

Selain lomba, AHM melalui program Astra Honda Berbagi Ilmu (AHBI) memberikan pembekalan kepada peserta terkait seni angklung, teknik olah vokal, digitalisasi alat musik tradisional, hingga strategi pembuatan konten media sosial agar angklung semakin dekat dengan generasi muda.

Salah satu penerima manfaat, Elsa, guru SDN Sunter Agung 13 Pagi Jakarta, mengaku ajang ini memperkaya wawasan pendidik.
“Kami mendapat banyak ilmu dan jejaring baru. Melestarikan alat musik tradisional memang menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik, dan PASH memberi solusi nyata,” ungkapnya.

Sebagai alat musik berbahan bambu, angklung juga merepresentasikan nilai keberlanjutan dan kepedulian lingkungan. Melalui PASH, AHM berharap angklung terus hidup, berkembang, dan relevan sebagai simbol harmoni, kolaborasi, serta kebanggaan budaya Indonesia. uni/ama

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img