VinFast dan Tri Hita Trans Siapkan Revolusi Transportasi Bali, Desa Adat Diproyeksikan Jadi Pemain Utama Pariwisata Hijau

Denpasar, PancarPOS | Bali tengah menghadapi tantangan besar di sektor transportasi dan pariwisata. Di satu sisi, jumlah wisatawan terus meningkat dan menjadi penggerak utama ekonomi daerah. Namun di sisi lain, kemacetan, polusi udara, tingginya konsumsi bahan bakar minyak (BBM), serta semakin kuatnya dominasi platform digital global menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.
Di tengah kondisi tersebut, sebuah kolaborasi strategis mulai dibangun untuk menjawab tantangan masa depan Pulau Dewata. PT Sentrik Mobilindo, perusahaan yang menaungi dealer resmi kendaraan listrik VinFast di Bali, menyatakan kesiapannya mendukung transformasi Bali menuju pariwisata hijau melalui sinergi dengan platform transportasi digital berbasis desa adat, Tri Hita Trans.
Kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan kendaraan listrik sebagai moda transportasi baru, tetapi juga membawa gagasan besar tentang bagaimana masyarakat lokal, desa adat, koperasi transportasi, dan pelaku usaha pariwisata dapat menjadi bagian utama dari transformasi transportasi modern yang ramah lingkungan.
“Kami melihat Bali memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pengembangan transportasi hijau di Indonesia. Kendaraan listrik bukan hanya menjawab isu lingkungan, tetapi juga bisa menjadi solusi efisiensi bagi pelaku usaha transportasi dan pariwisata,” ungkap Wakil Direktur PT Raditya Holding, I Nyoman Alit, sebagai perwakilan PT Sentrik Mobilindo di sela peluncuran SUV futuristik VinFast VF 7 dan Limo Green di Denpasar, Sabtu (30/5/2026).

Perubahan tren wisata global menjadi salah satu alasan mengapa kendaraan listrik semakin dibutuhkan di Bali. Wisatawan internasional kini tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga memperhatikan bagaimana sebuah daerah mengelola lingkungan dan dampak sosial dari sektor pariwisatanya.
Di sisi lain, Pengamat Transportasi Bali, I Gde Wayan Samsi Gunarta, menilai Bali tidak boleh tertinggal dalam merespons perubahan tersebut. Menurut mantan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali itu, hampir seluruh destinasi wisata modern dunia saat ini bergerak menuju konsep green tourism atau pariwisata berkelanjutan.
“Hampir semua destinasi wisata unggulan dunia sekarang mengarah ke green tourism. Wisatawan mencari pengalaman yang bersih, bertanggung jawab, dan memberikan dampak sosial yang positif bagi masyarakat lokal,” ujar Samsi.
Ia menilai kehadiran kendaraan listrik VinFast dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat daya saing Bali di tingkat internasional. “Melihat besarnya permintaan pasar terhadap wisata hijau, tentu ini menjadi peluang yang sangat besar. Bali harus siap menjawab kebutuhan itu. Kehadiran kendaraan listrik yang dikolaborasikan dengan platform lokal seperti Tri Hita Trans bisa memperkuat posisi Bali sebagai destinasi wisata berkelanjutan,” katanya.

Namun demikian, Samsi mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada tata kelola dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. “Bagaimana kita mengatur ini kembali kepada kita semua. Pemerintah provinsi, pelaku usaha, masyarakat dan seluruh stakeholder harus duduk bersama. Kendaraan listrik harus menjadi pilihan yang memperkuat sistem transportasi Bali ke depan,” tegasnya.
Samsi juga memberikan pesan penting kepada PT Sentrik Mobilindo agar kehadiran kendaraan listrik tidak menimbulkan konflik dengan pelaku usaha lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor transportasi. Ia berharap perusahaan hadir sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar pemain bisnis yang mengejar keuntungan. “Saya berharap PT Sentrik Mobilindo tidak hadir sebagai kompetitor yang mematikan usaha rakyat, tetapi menjadi mitra. Harus ada program transisi yang inklusif sehingga pengusaha transportasi lokal bisa bermigrasi ke kendaraan listrik secara bertahap dan mudah,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan jaringan stasiun pengisian daya atau charging station juga harus menjadi perhatian serius. Ia berharap perusahaan aktif membangun infrastruktur pendukung bersama pabrikan dan mitra strategis sehingga tidak seluruh beban pengembangan dibebankan kepada pemerintah daerah. “Ketersediaan charging station menjadi kunci. Jangan sampai masyarakat tertarik menggunakan kendaraan listrik tetapi infrastruktur belum siap. Ini harus dipikirkan sejak awal,” katanya.

Salah satu hal yang menarik perhatian dalam rencana pengembangan kendaraan listrik di Bali adalah keterlibatan platform digital Tri Hita Trans. Berbeda dengan platform transportasi digital pada umumnya, Tri Hita Trans dibangun dengan pendekatan berbasis desa adat. Konsep tersebut dirancang agar transformasi digital tidak menggerus kearifan lokal Bali, tetapi justru memperkuat posisi masyarakat adat dalam industri pariwisata. Melalui sistem ini, kendaraan listrik VinFast nantinya dapat dioperasikan dalam ekosistem transportasi yang melibatkan krama desa adat, koperasi, dan pelaku usaha lokal.
Model tersebut dinilai mampu menjaga agar perputaran ekonomi tetap berada di Bali dan dinikmati oleh masyarakat setempat. Selain itu, konsep ini juga dinilai sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali. Dalam aspek Palemahan, penggunaan kendaraan listrik membantu mengurangi polusi udara dan emisi karbon. Dalam aspek Pawongan, sistem transportasi berbasis desa adat membuka peluang ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat lokal. Sedangkan dalam aspek Parahyangan, berkurangnya polusi udara dan suara di sekitar kawasan suci diyakini dapat membantu menjaga kesucian lingkungan spiritual Bali.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari pelaku transportasi lokal. Ketua Koperasi Transportasi Canggu, I Nyoman Subadi, menilai kawasan Canggu sangat potensial menjadi lokasi percontohan penggunaan kendaraan listrik untuk sektor pariwisata. Menurutnya, kawasan yang menjadi salah satu magnet wisatawan mancanegara itu memiliki kebutuhan besar terhadap transportasi yang nyaman, modern, dan ramah lingkungan. “Canggu memiliki karakter wisata yang sangat cocok untuk pengembangan kendaraan listrik. Wisatawan asing yang datang ke sini juga sangat peduli terhadap isu lingkungan,” ujar Subadi.
Ia menyambut baik rencana kerja sama antara PT Sentrik Mobilindo dan Tri Hita Trans karena membuka peluang bagi sopir lokal untuk ikut menikmati perkembangan teknologi transportasi. “Kami berharap para anggota koperasi juga bisa ikut terlibat. Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Dengan pola kemitraan yang baik, kami yakin teknologi ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Subadi optimistis sinergi antara kendaraan listrik, koperasi transportasi, dan desa adat akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Bali. “Saya berharap sinergi ini berjalan baik sehingga ekonomi desa adat semakin maju, masyarakat mendapatkan manfaat, dan Bali semakin kuat sebagai destinasi wisata dunia,” pungkasnya.
Masuknya kendaraan listrik VinFast melalui PT Sentrik Mobilindo bersama platform digital Tri Hita Trans dinilai menjadi salah satu langkah paling menarik dalam perkembangan transportasi Bali beberapa tahun terakhir. Jika selama ini perdebatan transportasi di Bali sering berkutat pada konflik antara transportasi konvensional dan digital, maka model yang sedang dibangun ini mencoba menawarkan jalan tengah.
Teknologi modern tetap berjalan, namun masyarakat lokal, desa adat, dan koperasi tidak ditinggalkan. Di tengah semakin kuatnya tuntutan dunia terhadap pariwisata berkelanjutan, kolaborasi ini berpotensi menjadi contoh bagaimana Bali mampu menggabungkan teknologi, budaya, ekonomi kerakyatan, dan pelestarian lingkungan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. tra/ama/kel









