Daerah

Bali Mulai dari Nol, Masyarakat Harus Siap-siap Miskin


Denpasar, PancarPOS | Jelang berakhirnya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) jilid II di Bali pada Senin, 8 Februari 2021, juga belum bisa menurunkan kasus positif Covid-19. Bahkan per Minggu, 7 Februari 2021 tercatat terkonfirmasi positif 381 orang (340 orang melalui Transmisi Lokal, 40 PPDN dan 1 PPLN), sehingga totalnya tembus 3.148 orang. Sementara yang sembuh sebanyak 379 orang, dan 9 orang dinyatakan meninggal dunia. Terkait belum juga turunnya angka terkonfirmasi positif di Bali, pemerhati sosial yang juga Penglingsir Puri Peguyangan, Anak Agung Ngurah Gede Widiada, mengaku juga ingin ikut memberikan masukan kepada pemerintah. Apalagi melihat masyarakat tidak mau konsen mengukuti wacana maupun, surat edaran dan himbauan pemerintah selama ini. Bahkan mereka seakan-akan tidak berdaya menghadapi situasi seperti ini.

1bl#bn-7/1/2021

“Saya juga melihat kurang seriusnya pemerintah melakukan edukasi. Seperti kurang serius melakukan sosialisasi face to face oleh pemerintah maupun Satgas yang dibentuk. Karena hanya sekedar himbauan dan jadi biasa begitu, sehingga tidak menarik diperhatikan apalagi dilakukan,” ungkap Anggota DPRD Denpasar itu, seraya menyebutkan dalam situasi seperti ini, perlu adanya sentuhan langsung pemerintah. Misalnya jika harus melakukan protokol kesehatan (Prokes), maka sebelumnya warga banjar harus dihadirkan dan diberikan edukasi di setiap banjar. “Jika harus menjaga jarak ya harus jaga jarak. Misalnya Ibu PKK dipanggil 20 orang perwakilannya dengan menjaga jarak. Dengan memberikan informasi yang benar bahwa proses ini tidak akan selesai dalam hitungan tahun. Tapi kita berusaha agar bisa segera selesai. Karena kapan selesainya siapa pun di dunia ini tidak bisa memprediksi,” katanya.

Di sisi lain, sebagai pemerintah sudah melakukan upaya yang maksimal dengan vaksinasi, membentuk Satgas, Prokes 3M dan sebagainya. “Nah sekarang ibu-ibu dan bapak-bapak itu yang juga berperan untuk ikut bersama-sama bersama kita untuk menyelesaikan pandemi ini,” imbuhnya. Selama ini menurutnya, sosialisasi dikelola dengan datar seperti itu. Padahal sebagai manusia pada intinya tidak akan merasa takut kalau tidak melihat, sehingga kapan rasa takutnya sudah di bawah rasa beraninya baru akan sadar. Tapi sekarang dirasakan sudah terlambat, padahal jika dari awal bisa bersikap tegas akan menjadi lebih baik dari sekarang. “Mungkin capek juga pemerintah dengan upaya segala macam, karena ini kan situasi yang seperti bom begitulah, namun kita tidak lihat bentuknya, tapi bisa mematikan kita. Jadi perlu ada upaya-upaya strategis yang lebih dekat dan tegas dengan berani mengambil sikap yang tidak populer. Meskipun kita tahu akan menjadi tidak populer, akibat pemahaman orang yang berbeda-beda,” jelasnya.

1bl-bn#7/1/2020

Ditegaskan Wakil Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Bali itu, kebijakan yang tidak populer tersebut, memang sudah dilakukan pemerintah, tapi harus diteruskan dengan semakin tegas sesuai tahapan sosialisasi. “Jika belum juga selesai, maka lakukan tindakan tegas. Sekarang kan tindakan hanya push up, menyapu, denda begitu. Harusnya dilakukan sesuatu yang lebih strike, seperti didudukan di kantor untuk diberi pemahaman,” usulnya. Sementara itu, soal vaksinasi diakui hanya sebagai upaya menangkal, namun tetap tidak bisa menghindari terkena kembali. Tapi upaya ini seharusnya dilakukan saat kasus tidak banyak, namun kenyataannya sudah seperti ini, maka suka atau tidak suka sudah tidak ada pilihan lain lagi. Apalagi jumlah penduduk sangat banyak dan padat, sehingga sudah membawa dampak ekonomi. Ditambah lagi, masyarakat dari awal tidak paham betul proses ini akan berjangka panjang, kerena dikira saat new normal persoalan sudah selesai, dan pengalaman peradaban selama 100 tahun ke belakang tidak pernah ada situasi seperti ini.

“Hal itulah yang menyebabkan rasa takut masyarakat tidak muncul. Lalu rasa berani melebihi rasa takut, jadi kita tidak pakai masker dan sering buka. Kegiatan adat juga sudah normal, walaupun tidak memakai gamelan. Namun di sejumlah tempat sudah mulai memakai gamelan dan mereka yang punya kerjaaan berkerumun, mengundang resepsi dan lain sebagainya,” sentilnya. Sedangkan penjagaan Satgas Covid-19 di tingkat desa adat hanya bisa hadir dan duduk saja. Sedangkan situasi seperti ini, terus berjalan dan aktifitas masyarakat juga berjalan normal. “Kenapa tidak memanggil misalnya sekehe teruna yang bisa diajak jadi agen informasi yang benar mengenai bahaya Covid-19 ini. Duduk ajak di banjar dan kasi orang yang ahli menjelaskan. Bahkan seperti di Jepang bisa tampilkan videonya. Sehingga ada pemahaman pola pikir mereka yang tersentuh. Tapi kan sekarang yang berkerumun 15 orang minum-minum masih ada kok. Jalan jauh-jauh seperti di Jalan Nangka bisa kita lihat,” sebutnya.

1th-ksm#5/2/2021

Pihaknya yakin, jika kasus sudah mulai datar akan muncul kesadaran itu, karena semuanya sudah berpendidikan dan memiliki intelektual. “Karena ini adalah pandemi, bukan wabah. Jadi bukalah sekarang pariwisata, siapa yang akan ke sini? Karena negara lain juga masih tutup dan loacdown,” tegasnya, sekaligus meminta agar masyarakat harus mulai mengubah pola pikir, seperti para petani di Subak Sembung, kenapa masih bisa bahagia? “Karena sekarang kita harus siap-siap miskin dalam satu tahun lah, setelah pandemi ini. Kita mulai dari Bali yang nol dulu. Terus bangkit kembali, karena kita tidak akan bisa instan 3 bulan dan tidak mungkin itu,” tandasnya, karena pemerintah menghadapi situasi seperti ini sudah sangat berat. Makanya pemerintah ke depan juga harus kembali berani melakukan kebijakan perubahan anggaran. Sejenis efisiensi karena memang tidak mungkin ada dana yang masuk dari pajak tahun berikutnya. “Sekarang pemerintah kan tidak punya kemampuan lagi karena pemasukan sudah tidak ada pajak. Apa yang bisa kita harapkan dari situasi seperti ini, karena roda perekonomian dunia tidak berputar. Oleh karena itu, semua pihak mari kita ajak berpikir jangka panjang. Tapi selama itu, kita juga ingin adanya percepatan, misalnya dengan vaksin, taat Prokes, inilah yang membutuhkan gandengan tangan kita bersama. Dan jangan ada pencitraan politik,” tutupnya. ama/ksm

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close