Daerah

Langit Denpasar Segera Bebas Kabel Semrawut, Perumda Siapkan Jaringan Bawah Tanah


Denpasar, PancarPOS | Wajah Kota Denpasar bersiap mengalami perubahan besar. Pemandangan kabel udara yang selama ini semrawut dan memenuhi langit kota secara bertahap akan menghilang, digantikan jaringan utilitas bawah tanah yang lebih rapi, aman, dan modern. Menariknya, proyek penataan tersebut dilakukan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Program Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) yang dikelola Perumda Bhukti Praja Sewaka Darma menjadi salah satu inovasi strategis Pemerintah Kota Denpasar dalam mewujudkan wajah kota yang lebih estetik sekaligus meningkatkan kualitas infrastruktur telekomunikasi.

Direktur Utama Perumda Bhukti Praja Sewaka Darma, I Nyoman Putrawan, mengatakan proyek percontohan (pilot project) SJUT di Klaster Sanur sepanjang sekitar 3 kilometer telah selesai dikerjakan. Jalur tersebut membentang terutama di sepanjang Jalan Danau Tamblingan, salah satu kawasan pariwisata utama di Bali.

Pembangunan yang dimulai pada September 2025 itu berhasil diselesaikan pada Desember 2025 dan kini siap dimanfaatkan oleh seluruh penyedia layanan telekomunikasi.

“Proyek SJUT di Sanur sepanjang 30 kilometer sudah rampung dan siap difungsikan. Dasar hukumnya telah diatur melalui Perda Nomor 1 Tahun 2026 dan Peraturan Wali Kota mengenai tarif. Perumda mendapat penugasan resmi dari Pemerintah Kota Denpasar untuk mengelola sekaligus mengawal pemanfaatan jaringan utilitas terpadu ini,” ujar Putrawan di Denpasar, Selasa (4/8/2026).

Menurut Putrawan, sebelum dioperasikan berbagai pengujian teknis telah dilakukan bersama seluruh provider telekomunikasi yang beroperasi di Kota Denpasar dengan pendampingan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) Bali.

Pengujian tersebut juga disaksikan langsung oleh Dinas PUPR Kota Denpasar, Dinas Komunikasi dan Informatika, hingga Sekretaris Daerah Kota Denpasar. Hasilnya, seluruh sistem jaringan telekomunikasi bawah tanah dinyatakan berjalan dengan baik dan siap digunakan.

Keberhasilan proyek di Sanur menjadi pijakan bagi tahap berikutnya. Kini penataan memasuki kawasan pusat Kota Denpasar yang meliputi delapan ruas jalan utama, termasuk kawasan heritage Jalan Gajah Mada dan Jalan Sulawesi.

Kawasan yang menjadi titik nol Kota Denpasar tersebut dipilih karena merupakan pusat aktivitas perdagangan, wisata, dan budaya. Penataan jaringan utilitas dilakukan secara terpadu agar selaras dengan program revitalisasi kawasan kota yang sedang dijalankan Pemerintah Kota Denpasar.

Targetnya, pengerjaan tahap kedua tersebut dapat diselesaikan pada Desember 2026, sebelum kemudian dilanjutkan ke ruas-ruas jalan lainnya pada 2027 sesuai master plan pengembangan SJUT.

Putrawan menegaskan, salah satu keunggulan utama proyek ini adalah tidak menggunakan dana APBD. Seluruh pembiayaan dilakukan melalui skema business to business (B2B) antara Perumda Bhukti Praja Sewaka Darma dengan Badan Usaha Pelaksana (BUP) yang dipilih melalui proses bidding.

“Ini menjadi salah satu model pembiayaan infrastruktur yang inovatif. Tidak ada pembebanan APBD. Seluruh investasi berasal dari kerja sama bisnis dengan mitra,” tegasnya.

Bahkan, berdasarkan hasil Feasibility Study (FS), kerja sama tersebut tidak hanya menghadirkan infrastruktur baru, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi Pemerintah Kota Denpasar.

Dalam skema tersebut, Perumda diproyeksikan memperoleh pendapatan melalui mekanisme revenue sharing sebesar sekitar 7 hingga 8 persen dari mitra pengelola jaringan.

Artinya, selain mempercantik wajah kota, keberadaan SJUT juga berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Perumda.

Putrawan menjelaskan, proyek SJUT saat ini difokuskan untuk penataan kabel telekomunikasi dan serat optik. Sementara itu, kabel listrik milik PT PLN (Persero) memiliki karakteristik teknis yang berbeda sehingga akan ditangani secara bertahap oleh PLN.

Menurutnya, jaringan listrik memiliki tingkat keamanan dan spesifikasi teknis yang jauh lebih kompleks dibanding jaringan telekomunikasi sehingga memerlukan investasi lebih besar.

Sebagai langkah awal, PLN telah melakukan uji coba penurunan kabel bawah tanah sepanjang sekitar 300 meter di kawasan Sanur menggunakan anggaran internal perusahaan.

Ke depan, diharapkan penataan kabel listrik dapat mengikuti pembangunan SJUT sehingga kawasan pusat Kota Denpasar benar-benar bebas dari kabel udara.

Dengan semakin banyaknya provider yang memanfaatkan jaringan bawah tanah tersebut, pemandangan tiang-tiang penuh kabel yang selama ini menjadi persoalan estetika kota akan berangsur menghilang.

Selain meningkatkan keindahan kota, penataan kabel bawah tanah juga dinilai mampu meningkatkan keamanan jaringan, mengurangi risiko gangguan akibat cuaca ekstrem, serta mempermudah proses pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.

Putrawan mengajak seluruh penyedia layanan telekomunikasi memanfaatkan fasilitas SJUT sebagai bentuk komitmen bersama membangun Denpasar yang lebih modern.

“Tujuan utama SJUT adalah menciptakan estetika kota sekaligus menghadirkan infrastruktur telekomunikasi yang lebih tertata. Kami mengajak seluruh provider bersama-sama memanfaatkan jaringan ini agar Kota Denpasar semakin rapi, modern, dan bebas dari kesemrawutan kabel udara,” katanya.

Program SJUT menjadi salah satu langkah nyata transformasi wajah Kota Denpasar menuju kota cerdas (smart city) yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memperhatikan kualitas tata ruang dan kenyamanan masyarakat. Dengan model pembiayaan tanpa APBD, proyek ini dinilai menjadi contoh kolaborasi inovatif antara pemerintah daerah dan dunia usaha dalam menghadirkan infrastruktur publik yang berkelanjutan. tra/ama/ksm


Back to top button