Adi Wiryatama Serahkan 2.000 Bibit Alpukat dan Pupuk Petroganik ke Petani Tabanan, Tegaskan Komitmen Perjuangkan Jalan Usaha Tani

Tabanan, PancarPOS | Masa reses anggota DPR RI dimanfaatkan secara maksimal oleh I Nyoman Adi Wiryatama, anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, untuk turun langsung ke masyarakat di daerah pemilihannya. Tokoh senior Bali yang juga dikenal sebagai mantan Bupati Tabanan dua periode serta mantan Ketua DPRD Provinsi Bali ini kembali menunjukkan komitmennya terhadap sektor pertanian dengan menyambangi para petani di sejumlah desa di Kabupaten Tabanan.
Dalam kunjungan tersebut, Adi Wiryatama secara simbolis menyerahkan 2.000 pohon bibit alpukat siap tanam kepada kelompok-kelompok tani. Bibit alpukat yang diserahkan memiliki ukuran rata-rata 50 cm dan sudah melalui tahap persemaian yang matang, sehingga dapat langsung ditanam di lahan pertanian. Selain bibit, ia juga menyerahkan bantuan pupuk organik merek Petroganik yang berasal dari Kementerian Pertanian RI.
“Bantuan ini merupakan bagian dari program pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian untuk mendukung para petani kita, khususnya yang bergerak di sektor hortikultura. Kita ingin agar petani di Tabanan dapat meningkatkan produksi, sekaligus memperkuat posisi mereka dalam menghadapi tantangan pasar,” ujar Adi Wiryatama di sela-sela penyerahan bantuan.
Dalam suasana dialog yang berlangsung hangat dan terbuka, para petani menyampaikan berbagai aspirasi dan tantangan yang mereka hadapi. Salah satu isu utama yang mencuat adalah persoalan akses jalan usaha tani. Para petani mengungkapkan bahwa distribusi pupuk dan sarana produksi pertanian saat ini sudah mulai lancar, berkat perhatian dari pemerintah pusat dan daerah. Namun demikian, keterbatasan infrastruktur jalan tani masih menjadi hambatan serius, terutama di wilayah-wilayah perbukitan seperti yang banyak terdapat di Tabanan.
“Kalau jalan usaha tani tidak memadai, untuk mengangkut hasil panen saja susah. Biaya sewa kendaraan naik, hasil panen jadi tidak efisien. Otomatis keuntungan petani menurun,” ungkap salah satu petani yang hadir dalam pertemuan itu.
Menanggapi aspirasi tersebut, Adi Wiryatama menegaskan bahwa perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan petani bukan hanya soal memberikan bantuan benih dan pupuk, tetapi juga menyangkut pembangunan infrastruktur pendukung yang memadai. Ia menekankan pentingnya pembangunan jalan usaha tani agar petani dapat lebih mudah mengakses lahan, serta memperlancar distribusi hasil panen ke pasar.
“Kalau jalan usaha tani ini bisa kita benahi, maka hasil panen akan lebih cepat sampai ke pasar, tidak rusak, dan biaya distribusinya juga lebih ringan. Itu artinya, keuntungan petani meningkat, dan kehidupan mereka lebih sejahtera. Ini yang akan kami terus perjuangkan di Komisi IV DPR RI,” tegasnya.
Lebih jauh, Adi Wiryatama juga mendorong agar petani di Tabanan tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga mulai berpikir soal hilirisasi dan pengolahan hasil tani. Dengan begitu, nilai tambah dari komoditas seperti alpukat tidak hanya dinikmati oleh tengkulak atau pedagang besar, melainkan juga oleh para petani itu sendiri.
“Saat ini alpukat punya pasar yang besar, tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Kalau kita serius kelola dari hulu sampai hilir, petani bisa sejahtera. Apalagi kalau sudah punya koperasi atau BUMDes yang kuat untuk pasarkan hasil tani secara kolektif,” kata politisi senior dari PDI Perjuangan itu.
Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para petani, yang merasa diperhatikan dan didengarkan langsung oleh wakil rakyatnya. Mereka berharap agar kunjungan semacam ini bisa dilakukan secara rutin, agar komunikasi antara rakyat dan wakilnya tidak putus, serta kebutuhan riil masyarakat tani bisa lebih cepat ditindaklanjuti.
Adi Wiryatama menutup kegiatan tersebut dengan komitmen untuk terus mengawal kebijakan pro-petani, baik melalui jalur legislasi maupun pengawasan. Ia juga menyatakan akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar usulan pembangunan jalan usaha tani di Tabanan segera mendapatkan respon konkret.
“Saya tidak ingin petani kita hanya jadi objek program. Mereka harus didampingi, diberdayakan, dan dimudahkan aksesnya. Petani harus jadi subjek pembangunan pertanian yang mandiri dan bermartabat,” tutupnya. ama/ksm








