Gaya Hidup dan Kuliner

Saptana Jagaraga Tetap Ngayah di Masa Pandemi


Gianyar, PancarPOS | Komunitas Saptana Jagaraga yang kerap terdengar di bumi seni Gianyar tidak mau vacum di masa pandemi. Cara demi cara dlakukan untuk tetap eksis dalam seni pertunjukan di masa dampak Covid 19 yang melanda negeri ini. Apalagi 90 persen penghasilan anggotanya dengan mengandalkan panggilan seni pertunjukan dari pelaku seni dan pihak pariwisata yang kian terputus total. Untuk mengurangi dampak pandemi sudah dilakukan pembagian sembako untuk anggota dan untuk seniman tua yang ada di lingkungan desa yang diambil langsung dari uang kas.

1bl#ik-29/5/2021

Komonitas seni yang bermarkas di Desa Singapadu, Gianyar ini terdiri dari kumpulan anak anak muda dari beberapa banjar akan kian tenggelam di masa pandemi. Namun penciptaan karya tabuh tetap berlangsung dan sudah sempat direkam beberapa bulan lalu yang diunggah di sejumlah sosial media untuk menunjukankan bahwa komunitas ini masih hidup. Selain itu juga bertujuan agar para anggota bisa melakukan upaya bangkit di masa pandemi ini. Untuk itulah, Pembina Utama Komunitas, I Wayan Darya memberi ide baru berkreasi gambelan slonding yang hanya membutuhkan tenaga 8 sampai 10 orang agar bisa tetap ngayah.

1th-ksm#5/2/2021

“Jadi kita tetap bisa ngayah dengan menerapakan protokol kesehatan dengan jumlah pemain gambelan 8 sampai 10 orang dan tidak lupa tetap gunakan masker. Anggota kami bagi menjadi 8 kelompok pada slonding ini, kalau ada panggilangan ngayah jadi tinggal tunjuk kelompok yang dapat giliran,” ujar Ketua Komunitas I Wayan Kariana yang biasa disapa Doyok. Sementara itu, Wayan Darya mengakui slonding sebagai seni pertunjukan tahun ini terlihat tetap eksis di beberapa media sosial, sehingga membuat komunitas ini tidak mau tertingalan. “Ya tahun-tahun ini banyak slonding yang bangkit dan ada parade juga dengan konsep rekaman, bahkan di tingkat remaja,” imbuhnya.

1th#ik-10/5/2021

Dikatakan sebagai generasi harus tahu gambelan slonding yang menjadi salah satu tabuh khas yang klasik, karena gambelan terbilang sudah sangat tua. “Untuk Komunitas Saptana Jagaraga yang sempat buat heboh PKB tahun 2015, saya bikinkan gaya tabuh yang modern,tapi tidak meningalkan pakemnya, agar bisa diterima di telinga penikmat seni,” tegasnya. ipo/ama


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button