Besarnya Dampak MBG di Bali: 225 Dapur, 14 Ribu Relawan dan Harapan Mencetak Generasi Emas 2045

Gianyar, PancarPOS | Pertemuan pengurus Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Bali yang berlangsung di SPPG Pering, Kabupaten Gianyar, Sabtu (13/6/2026), tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Di balik suasana penuh keakraban yang diwarnai permainan, kejutan, dan gelak tawa, terselip pembahasan serius mengenai masa depan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program strategis nasional yang diyakini mampu mengubah wajah Indonesia menuju Generasi Emas 2045.
Kegiatan tersebut dihadiri para kepala SPPG, pengurus, koordinator wilayah, mitra, yayasan, hingga relawan dari berbagai daerah di Bali. Mereka berkumpul untuk memperkuat koordinasi sekaligus mengevaluasi perjalanan program yang kini mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kepala SPPG Kuta dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kebersamaan yang terbangun di antara seluruh unsur pendukung menjadi energi besar untuk terus menjalankan pelayanan.
“Alhamdulillah, malam hari ini banyak sekali surprise dan game-game yang seru. Teman-teman jangan lupa nanti update story supaya momen kebersamaan kita hari ini bisa terus dikenang. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah berkolaborasi, baik dari tim support, supplier yang membantu menyediakan berbagai kebutuhan, rekan-rekan, sampai para relawan. Karena tanpa mereka, kita tidak mungkin bisa terus berjalan sampai hari ini,” ujarnya.
Ia juga memuji kualitas sumber daya manusia yang dimiliki SPPG saat ini.
“Saya rasa SM kita sangat bagus semua. Jadi terima kasih kepada teman-teman. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan dan selanjutnya saya kembalikan kepada Ibu untuk melanjutkan acara,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Abadhi Mandiri Pangan (AMP), Anak Agung Istri Yuli Savita Sari atau yang akrab disapa Gek Yuli, menyampaikan paparan panjang mengenai perjalanan, tantangan, hingga filosofi besar di balik Program Makan Bergizi Gratis.
Ia memulai sambutannya dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu yang hadir, termasuk para kepala dapur dari berbagai daerah.
“Mungkin Bu Warden, terima kasih sudah mengunjungi semuanya. Kemudian KA di dapur-dapur yang lain, mungkin kita perkenalkan dulu satu per satu. Bu Wade mana? Ini Bu Wade, KA SPPG kita,” ujarnya sembari memperkenalkan para kepala dapur yang hadir.
Menurut Gek Yuli, ada kepala-kepala SPPG yang bertanggung jawab mendampingi sejumlah wilayah di Bali. Ia menyebut ada yang menangani Bali wilayah satu, wilayah dua, hingga wilayah tiga.
Ia juga sempat menyampaikan bahwa perwakilan dari Tabanan belum dapat hadir tepat waktu karena masih terjebak kemacetan.
“Tabanan belum datang ya? Masih macet. Nanti akan saya perkenalkan terakhir. Coba mitranya dulu yang mewakili Ibu Putri,” katanya.
Di hadapan seluruh peserta, Gek Yuli mengingatkan bahwa keberhasilan dapur-dapur MBG bertahan hingga saat ini tidak terjadi begitu saja. Ada kerja keras, koordinasi, dan komunikasi yang terus dibangun sejak awal.
“Yayasan kami bisa membuka dapur sampai running sampai saat ini. Sebenarnya hari ini saya juga mengundang korwil. Kenapa? Karena dapur kita ini bisa berjalan sampai sekarang salah satunya karena kita berkoordinasi dengan baik,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta seluruh pengurus tidak pernah lelah menjaga hubungan baik.
“Ke depan tetap komunikasi, kerja sama, kolaborasi. Itu yang paling penting menurut saya. Tolong dipertahankan. Semoga ke depannya kita bisa lebih baik lagi,” tegasnya.
Menurut Gek Yuli, berbagai rintangan pasti akan muncul. Namun, selama seluruh elemen tetap memiliki tujuan yang sama, tantangan tersebut dapat diatasi.
“Apa pun nanti rintangannya, ketika kita bersama, ketika kita semuanya satu visi dan satu misi, saya yakin semuanya akan berhasil,” katanya disambut tepuk tangan peserta.
Dalam kesempatan itu, Gek Yuli juga mengungkapkan besarnya dampak ekonomi yang akan ditimbulkan Program Makan Bergizi Gratis apabila seluruh target dapur di Bali berhasil diwujudkan.
“Ini kan baru satu dapur dan beberapa dapur saja. Artinya kalau di Bali nanti sudah ada 225 dapur yang berdiri, coba dihitung. Belum vendor, belum petani langsung, belum sopir yang membawakan bahan makanan,” ujarnya.
Menurut perhitungannya, satu dapur rata-rata melibatkan sekitar 60 hingga 70 orang.
“Itu rata-rata di angka hampir 60 sampai 70 orang. Dengan keberadaan MBG sebenarnya sudah ada sekitar 14 ribu anak-anak muda yang bisa bergabung melalui MBG sebagai relawan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, istilah relawan digunakan karena mereka tidak bekerja dengan pola hubungan kerja formal seperti pekerja pada umumnya.
“Kenapa namanya relawan? Karena tidak punya persatuan UMR dan bekerjanya juga tidak memakai basis sistem kerja seperti biasanya. Mereka bekerja sekitar lima jam sehari,” jelasnya.
Namun demikian, Gek Yuli mengingatkan agar keberadaan relawan tidak dipandang sebelah mata. Menurutnya, perhatian terhadap perlindungan mereka harus menjadi agenda bersama.
“Peningkatan kesejahteraannya harus menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai ada kecelakaan tetapi mereka tidak memiliki hak BPJS atau tabungan untuk masa depan. Bagaimana caranya percepatan itu harus dipikirkan bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa MBG merupakan program negara yang lahir melalui proses percepatan.
“MBG ini adalah percepatan. Program negara ini adalah program yang luar biasa besar. Memang ada problem, ada dinamika. Saya tidak akan berkomentar soal itu. Tetapi program ini pada dasarnya bagus,” katanya.
Gek Yuli bahkan mengaku pernah menulis kajian ilmiah mengenai proses pelaksanaan program tersebut.
“Saya pernah menulis paper tentang bagaimana proses ini berjalan. Karena MBG ini ibarat bayi yang baru lahir tetapi langsung dipaksa menjadi besar. Jadi proses adaptasinya sangat cepat,” tuturnya.
Menurutnya, pada awal pelaksanaan masih banyak masyarakat yang belum memahami program tersebut. Bahkan, ada anggapan bahwa program berjalan terlalu cepat sehingga memunculkan berbagai kekurangan.
“Mungkin masyarakat belum punya rasa memiliki karena program ini sukses lebih dahulu. Tetapi sekarang MBG terus menyesuaikan diri. Dari yang awalnya dianggap banyak pemborosan, sekarang mulai efisiensi, efisiensi, dan efisiensi,” jelasnya.
Ia mengatakan, setelah seluruh pihak mulai memahami ritmenya, semua orang akhirnya berpikir tentang hal yang sama, yakni bagaimana memastikan kebutuhan dapur untuk esok hari dapat terpenuhi dengan baik.
“Setelah semuanya berjalan, orang-orang mulai berpikir bagaimana mempersiapkan besok, bagaimana memasukkan barang ke dapur, bagaimana memastikan pelayanan tetap berjalan,” katanya.
Lebih jauh, Gek Yuli meminta masyarakat tidak hanya melihat MBG dari besarnya anggaran yang dikeluarkan negara.
“Jangan dianggap ini sekadar investasi dengan pembakaran anggaran yang besar. Prinsipnya adalah membentuk Indonesia tahun 2045,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak Indonesia saat ini membutuhkan asupan gizi sesuai kajian akademik agar tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh.
“Anak-anak kita saat ini membutuhkan asupan kalori yang memang dibutuhkan menurut kajian akademis. Jangan sampai nanti kita menghasilkan generasi muda yang hebat secara bakat, hebat secara intelektual, tetapi fisiknya tidak kuat,” ujarnya.
Untuk menggambarkan pentingnya gizi, Gek Yuli menggunakan analogi dunia olahraga.
“Bayangkan ada anak yang pikirannya luar biasa, bakatnya luar biasa, tetapi baru bermain bola 30 menit sudah capek. Padahal kemampuannya hebat. Itu karena fisiknya tidak bisa diadu selama 90 menit,” katanya.
Menurutnya, kondisi seperti itu sering terlihat dalam berbagai pertandingan olahraga.
“Kita sering melihat pertandingan sepak bola, voli, atau pertandingan lainnya. Babak pertama luar biasa, unggul satu gol, semua optimistis menang. Tetapi masuk babak kedua mulai kehabisan tenaga dan akhirnya kehilangan momentum. Nah, hal seperti itulah yang ingin kita cegah melalui Program Makan Bergizi Gratis,” pungkasnya. ama/ksm









