Pertanian Bali Tumbuh 6,35 Persen, Rektor Dwijendra University Nilai Diversifikasi Ekonomi Mulai Berjalan

Denpasar, PancarPOS | Pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di Provinsi Bali yang mencapai 6,35 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Triwulan II 2026 dinilai menjadi sinyal positif bagi struktur perekonomian daerah. Di tengah perlambatan pertumbuhan sektor pariwisata, sektor pertanian justru tampil sebagai salah satu motor utama yang menjaga stabilitas ekonomi Bali.
Rektor Dwijendra University sekaligus Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Bali, Gede Sedana, mengatakan capaian tersebut menunjukkan arah pembangunan ekonomi Bali mulai bergerak menuju struktur yang lebih seimbang dan tidak lagi hanya bertumpu pada sektor pariwisata.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 6,35 persen melampaui pertumbuhan ekonomi Bali secara keseluruhan yang tercatat 5,78 persen pada Triwulan II 2026.
Selain itu, sektor pertanian juga menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali dengan kontribusi mencapai 12,85 persen. Posisi tersebut berada di bawah sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum yang memberikan kontribusi sebesar 21,91 persen.
Menurut Gede Sedana, capaian tersebut memperlihatkan bahwa sektor pertanian mampu menjadi penyangga ekonomi ketika pertumbuhan sektor pariwisata mulai melambat.
“Pertumbuhan sektor pertanian sebesar 6,35 persen menunjukkan struktur ekonomi Bali mulai lebih seimbang. Ketergantungan terhadap sektor pariwisata perlahan dapat dikurangi karena sektor riil berbasis pedesaan kembali menunjukkan kinerja yang kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya kinerja hampir seluruh subsektor pertanian.
Produksi tanaman pangan, khususnya padi, mengalami peningkatan sekitar 5,12 persen. Kondisi tersebut didukung oleh penerapan teknologi budidaya yang semakin baik, kondisi cuaca yang mendukung, serta optimalisasi sistem irigasi tradisional Subak yang menjadi kekuatan pertanian Bali.
Selain tanaman pangan, permintaan terhadap komoditas hortikultura seperti buah-buahan, sayuran, dan tanaman hias juga terus meningkat. Produk-produk tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, tetapi juga menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri kuliner dan pariwisata Bali.
Pada subsektor peternakan, produksi daging sapi, ayam, dan telur mengalami peningkatan seiring stabilnya pasokan pakan dan tingginya konsumsi masyarakat.
Sementara itu, subsektor perikanan juga menunjukkan tren positif melalui peningkatan hasil tangkapan laut maupun budidaya perikanan yang didukung perkembangan teknologi, kondisi cuaca yang kondusif, serta meningkatnya permintaan pasar.
Menurut Gede Sedana, pertumbuhan sektor pertanian membawa dampak luas terhadap pemerataan pembangunan ekonomi karena sebagian besar aktivitas pertanian berada di wilayah pedesaan.
“Sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja yang sangat besar. Ketika sektor ini tumbuh, maka pendapatan petani meningkat, ekonomi desa bergerak, dan kesejahteraan masyarakat ikut terdorong,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan produksi pertanian juga berkontribusi terhadap stabilitas harga pangan di Bali.
Produksi yang melimpah membantu menjaga pasokan bahan pangan sehingga mampu menekan inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food). Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
Lebih jauh, Gede Sedana menilai pertumbuhan sektor pertanian merupakan bukti nyata bahwa diversifikasi ekonomi Bali mulai berjalan.
Selama beberapa dekade, perekonomian Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata. Namun pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap satu sektor membuat ekonomi daerah menjadi rentan terhadap berbagai guncangan global.
Karena itu, menurutnya, sektor pertanian harus terus diperkuat agar menjadi bantalan ekonomi (economic buffer) ketika sektor pariwisata mengalami perlambatan.
“Pertanian bukan pesaing pariwisata, tetapi harus menjadi mitra strategis. Produk-produk pertanian lokal dapat menjadi pemasok utama kebutuhan hotel, restoran, katering, hingga industri pariwisata lainnya,” jelasnya.
Ia menilai integrasi antara pertanian dan pariwisata akan menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat Bali.
Dengan semakin banyaknya hotel dan restoran menggunakan produk lokal, maka perputaran ekonomi akan tetap berada di Bali sekaligus mengurangi kebocoran ekonomi akibat tingginya ketergantungan terhadap produk impor maupun pasokan dari luar daerah.
Untuk memperkuat sektor pertanian ke depan, Gede Sedana mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian, pemanfaatan teknologi modern, hilirisasi produk pertanian, penguatan kelembagaan petani, serta perluasan akses pasar.
Ia optimistis apabila sektor pertanian terus berkembang seiring meningkatnya kualitas sektor pariwisata, maka Bali akan memiliki fondasi ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
“Pertumbuhan sektor pertanian yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Bali menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi mulai bergerak ke arah yang lebih sehat. Ini harus terus dijaga agar kesejahteraan masyarakat semakin merata di seluruh Bali,” pungkasnya. ama/ksm









