244 Subak di Bali Terancam Iklim Ekstrem, Distanpangan Siapkan Irigasi, Pompa Air dan Pengendalian Hama

Denpasar, PancarPOS | Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali terus memperkuat berbagai strategi mitigasi menghadapi dampak perubahan iklim yang berpotensi mengganggu sektor pertanian dan ketahanan pangan di Pulau Dewata. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur sumber daya air, optimalisasi sistem irigasi, hingga penguatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara ramah lingkungan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengatakan perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata bagi sektor pertanian. Perubahan pola curah hujan, musim kemarau yang semakin panjang, hingga ancaman kekeringan harus diantisipasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga.
“Perubahan iklim merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama. Oleh karena itu, Distanpangan Bali terus melakukan berbagai upaya adaptasi dan mitigasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga, sehingga ketahanan pangan masyarakat Bali tetap aman,” ujar Sunada di Denpasar, pada Rabu (22/7/2026).
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya tersebut, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian bersama Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Mataram yang membawahi wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Maluku Utara, memberikan bantuan pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pengairan.
Sepanjang 2026, sebanyak 199 unit saluran irigasi diperbaiki untuk meningkatkan distribusi air menuju lahan pertanian. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan 24 unit irigasi perpompaan, pembangunan irigasi perpipaan, 20 unit bangunan konservasi air, serta 20 unit pompa air guna meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya air, terutama di daerah yang rawan mengalami kekurangan air saat musim kemarau.
Berdasarkan hasil identifikasi Distanpangan Bali, terdapat 244 subak di seluruh Bali yang berpotensi terdampak kondisi iklim ekstrem. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian di antaranya Kabupaten Jembrana dengan potensi lahan terdampak seluas 44 hektare, Kabupaten Karangasem seluas 17 hektare, dan Kabupaten Buleleng seluas 1 hektare.
Data tersebut menjadi dasar bagi Pemerintah Provinsi Bali dalam menyusun langkah mitigasi secara terintegrasi bersama pemerintah kabupaten/kota, pekaseh subak, serta para penyuluh pertanian agar dampak perubahan iklim dapat ditekan semaksimal mungkin.
Selain memperkuat infrastruktur, Distanpangan Bali juga meningkatkan pengendalian hama dan penyakit tanaman melalui pemanfaatan Agens Pengendali Hayati (APH) yang lebih ramah lingkungan. Bantuan tersebut berasal dari Balai Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (BPTPHBUN) pada Tahun 2026.
Adapun bantuan yang disalurkan meliputi 1.132 kilogram APH padat dan 7.300 liter APH cair yang terdiri dari 5.500 liter serta tambahan 1.800 liter. Pemanfaatan APH diharapkan mampu menekan perkembangan organisme pengganggu tumbuhan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun keseimbangan ekosistem pertanian.
“Kami tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga terus memperkuat kapasitas petani agar mampu beradaptasi dengan perubahan iklim melalui penerapan budidaya yang sesuai kondisi cuaca, penggunaan varietas yang adaptif, efisiensi penggunaan air, serta pengembangan pertanian yang ramah lingkungan,” jelas Sunada.
Ia menegaskan keberhasilan menghadapi dampak perubahan iklim membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian hingga para petani.
“Kami terus mendorong sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani agar mampu menghadapi tantangan perubahan iklim secara bersama-sama. Dengan langkah mitigasi yang komprehensif, kami optimistis produksi pertanian Bali tetap terjaga sehingga mampu mendukung ketahanan pangan daerah,” tegasnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis. ama/ksm









