Politik dan Sosial Budaya

Sat Kerthi Loka Bali Disebut Sebagai Terobosan Visioner Gubernur Koster, Pakar Lingkungan: Bali Butuh Pemimpin Temperamental dan Berani!


Denpasar, PancarPOS | Gagasan besar Sat Kerthi Loka Bali yang digagas oleh Gubernur Bali Dr. Ir. Wayan Koster, M.M. semakin terasa nyata manfaatnya di tengah masyarakat. Bukan sekadar wacana, program ini dinilai sebagai terobosan visioner yang lahir dari pemikiran jangka panjang seorang pemimpin yang benar-benar mencintai Bali — lengkap dengan segala dinamika baik maupun buruknya.

Pandangan ini disampaikan oleh tokoh hukum dan lingkungan hidup Dr. Ida Bagus Putu Astina, S.H., M.H., M.B.A., C.L.A., lulusan terbaik Universitas 17 Agustus 1945 Semarang dengan predikat cumlaude lewat disertasi bertema pengolahan limbah B3 dan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPD Masyarakat Pemantau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Provinsi Bali, Dr. Astina menilai bahwa kepemimpinan Gubernur Koster telah menghadirkan keberanian dan ketegasan dalam mengatasi persoalan akut Bali: sampah dan limbah.

“Masalah sampah sudah dari dulu jadi masalah besar. Mau pakai incinerator sekalipun, selama ini penyelesaiannya tak pernah tuntas. Pemerintah pusat bingung, pemerintah daerah bingung, masyarakat pun ikut bingung,” tegasnya.

Namun menurutnya, arah kebijakan yang diambil Gubernur Koster sangat jelas. Salah satunya adalah dorongan pengelolaan sampah secara mandiri dan berbasis sumber. Hal ini bukan hanya gagasan semata, tapi berdasar kuat pada regulasi, yakni Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, khususnya Pasal 29 ayat (1) huruf e yang menyatakan larangan membuang sampah tidak pada tempatnya.

“Ini bukan sekadar opini. Gubernur Koster punya dasar hukum yang kuat. Dan keberaniannya untuk tegas harus diapresiasi. Kita butuh pemimpin seperti itu. Bali perlu pemimpin yang berani, bahkan kalau perlu sedikit temperamental — karena Bali tidak bisa dikelola dengan santai,” tandas pemilik pabrik pengolahan limbah B3 di Desa Pengambengan, Jembrana ini.

Menurut Dr. Astina, gaya kepemimpinan ceplas-ceplos namun tegas dari Gubernur Koster justru menjadi aset penting dalam menyelamatkan Bali dari krisis ekologi dan budaya. Tak hanya memiliki kemampuan teknis (skill), tetapi juga mindset, sikap (attitude), dan karakter kepemimpinan yang utuh, sehingga seluruh kebijakan yang dijalankan memiliki arah yang jelas dan keberpihakan pada Pulau Dewata.

“Beliau paham betul Undang-Undang. Beliau tidak ingin terserempet hukum karena kebijakan yang ngawur. Itulah pemimpin sejati. Tak hanya melindungi alam dan budaya Bali, tapi juga melindungi dirinya dan masyarakatnya dari jebakan hukum,” ujar Astina.

Lebih lanjut, ia memprediksi bahwa sistem pengelolaan sampah yang mandiri, jika dilakukan dengan baik, akan melahirkan putra daerah yang menjadi pengusaha lokal dan investor mandiri di bidang pengelolaan sampah. “Kalau prosesnya benar, Pemda tidak perlu keluar banyak anggaran. Malah sebaliknya, Pemda bisa mendukung dengan insentif atau hibah. Contohnya di Badung, pengolahan sampah Nusa Dua diberikan typing fee oleh pemerintah daerah,” ungkapnya.

Menurutnya, sinergi seperti ini adalah model keberlanjutan ideal. Masyarakat ikut berpartisipasi, investor lokal tumbuh, dan pemerintah bisa mengalihkan anggaran ke sektor lain. Inilah skema ekonomi sirkular yang sesungguhnya — di mana pengelolaan lingkungan menjadi sumber daya ekonomi.

Sebagai CEO dan Owner BIWI Group, Dr. Astina berharap model-model seperti ini bisa diadopsi secara luas di seluruh Bali. Ia pun kembali menegaskan bahwa semua kebijakan lingkungan yang berani harus dilandasi cinta dan komitmen terhadap tanah kelahiran.

“Kalau bukan karena rasa cinta terhadap Bali, tidak mungkin Pak Gubernur seberani itu mengambil keputusan yang kadang tidak populer. Tapi justru itu pemimpin sejati — berani demi Bali, bukan demi pencitraan,” pungkasnya. mas/ama


Back to top button