Daerah

Kasus Anjing Rabies di Bali Menggila, Ngurah Aryawan Minta Pemerintah Serius


Denpasar, PancarPOS I Anjing kembali menggigit tiga warga yang beralamat Desa Padangsambiankaja, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar. Ketiga korban yang sempat digigit anjing liar itu berisiko tinggi tertular virus rabies. Hal itu, diungkapkan oleh Politisi Partai Gerindra, I Ketut Ngurah Aryawan, di bawah asuhan Ketua DPD Partai Gerindra Bali, Mulyawan Arya alias Degajah, pada Jumat (17/5/2024). Caleg DPRD Kota Denpasar di Dapil Denpasar Barat terpilih itu, meminta agar warga di Bali, khususnya di Kota Denpasar lebih waspada terpada anjing rabies yang kasusnya semakin menggila. Ia juga mendesak Pemerintah Kota Denpasar dan Provinsi Bali dalam hal ini jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali lebih serius mencegah dan harus melakukan vaksin lokal atau VAR (Vaksin Anti Rabies) secara menyeluruh di wilayah penyebaran anjing rabies. “Kami minta penanganan rabies diintensifkan. Jangan sampai jatuh korban tewas terus menerus. Berita-berita di media soal rabies sangat memprihatinkan kita,” tegas Ketua Karang Taruna Kota Denpasar dua periode ini.

1bl#ik-025.9/5/2024

Ia meminta pemerintah untuk segera melakukan langkah-langkah kongkret terkait maraknya kasus rabies. “Jangan sampai nunggu masyarakat jadi korban dulu, baru ada gerakan-gerakan pencegahan. Segera lakukan langkah antisipatif yang diperlukan,” tegasnya. Dia menilai, masyarakat di Kota Denpasar sangat berpeluang terancam kasus rabies. Penyebabnya, banyak anjing liar yang ada di Ibu Kotanya Bali ini. “Ini ditambah lagi dengan anjing maupun hewan peliharaan warga masyarakat yang belum tersentuh vaksinasi,” tegasnya. Karena itu, dia pun meminta instansi terkait melakukan langkah-langkah strategis. Diawali dengan mendata peliharaan masyarakat yang belum memperoleh vaksinasi, termasuk hewan penyebar rabies lain yang liar atau tanpa pemilik. “Ini tentu harus dipastikan. Jumlah hewan tentu saja terkait dengan jumlah vaksin yang harus disediakan,” katanya. Dia pun meminta dinas terkait untuk mengambil sikap yang tepat terkait hewan-hewan penyebar rabies yang liar ini. Apakah mencarikan orang yang mengadopsi atau jalan lain, sehingga anjing liar bisa ditekan.

Lantas terkait warga masyarakat  yang sudah positif terkena rabies, hal ini tentu saja memerlukan penanganan. Dinas Kesehatan Kota Denpasar dan Provinsi Bali tentu saja harus menyiapkan vasinasi antirabies (VAR) yang cukup, ketika diperlukan termasuk fasilitas perawatan dan penanganan korban. Ia juga meminta agar dilakukan eliminasi terhadap anjing-anjing liar sebagai solusi pamungkas hindari rabies. “Saya berharap agar anjing-anjing liar dieliminasi saja, supaya tidak berbahaya. Masyarakat harus lakukan pemeliharaan anjing dengan benar. Pakaikan peneng (identitas). Kalau tidak, Pemprov harus eliminasi saja anjing tersebut, tidak ada pilihan lain,” ujarnya, karena merasa sangat gerah dengan kasus-kasus rabies di Bali yang terus memakan korban nyawa. Menurutnya, tidak ada jalan lain kecuali eliminasi anjing liar dan pembawa rabies. “Saya sudah sering sampaikan, anjing-anjing jangan diliarkan, ikat di rumah. Mau berapa pun vaksin sulit berantas rabies, kalau anjing dibiarkan berkeliaran. Sebab, anjing bisa gigit monyet, bisa gigit kucing,” ungkap Andre sapaan politisi muda milenial ini.

1th#ik-072.21/8/2023

Menurutnya, populasi anjing di Bali saat ini jumlahnya sudah ratusan ribu ekor, sehingga sangat mengkhawatirkan jika sampai anjing liar menggigit hewan lain, maka akan semakin sulit untuk mengatasi persoalan rabies. Dia mencontohkan kalau sampai anjing menggigit monyet, lalu monyetnya masuk hutan. Ini sangat berbahaya. “Karena itu, saya mengimbau kepada masyarakat, kalau punya anjing agar diikat di rumah dan lakukan vaksinasi. Mau seberapa banyak pun VAR (Vaksin Anti Rabies), itu tidak akan cukup kalau anjingnya tetap dilepas sampai puluhan ribu ekor,” katanya, seraya mengingatkan, Pemprov Bali memang sempat menargetkan Bali bisa bebas rabies. Namun, jika rakyatnya tidak mau berpartisipasi, sulit untuk mencapai target tersebut. “Jadi, mari kita bersama-sama. Mau segunung dikasi VAR, akan habis jika tidak ada partisipasi masyarakat,” tandasnya. Sayangnya, ketika dihubungi Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Nyoman Sunada tidak merespon, bahkan mengaku sering sibuk ketika diminta tanggapan sampai berita ini diturunkan. ama/ksm

Baca Juga :


Back to top button