Konsul Kehormatan Ukraina di Denpasar Jemput Bola Rencana Pembukaan Pariwisata Bali
Peringatan 30 Tahun Hubungan Diplomatik Ukraina-Indonesia

Ukraina, PancarPOS | Pada 2 Juni 2022, Hubungan Kerjasama Bilateral antara Ukraina dan Indonesia akan memasuki masa 30 tahun. Tentu diharapkan kerjasama ke depan bisa terus ditingkatkan yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Provinsi Bali juga bisa menangkap peluang kerjasama ke depannya. Adapun sektor kerjasama yang menjadi fokus Ukraina terdiri atas 8 bidang seperti Pertanian, Pengolahan Makanan, Industri Energi, Mechanical Engineering, Transportasi dan Logistik, IT dan Telekomunikasi, Produk Farmasi dan Kesehatan, Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Melihat fokus pengembangan kerja sama Ukraina di atas, ada sebagian besar kesesuaian dengan arah prioritas kebijakan dan program pembangunan Bali Era Baru yang berdasarkan pola pembangunan semesta berencana dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Dengan makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sekala-niskala bagi kehidupan krama dan gumi Bali. Fokus pembangunan Bali diimplementasikan pada Jana Kerthi, Jagat Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Segara Kerthi, Atma Kerthi yang dikawal dengan menetapkan regulasi berupa Pergub dan Perda.
Sejalan dengan Program Pembukaan Bali untuk wisatawan mancanegara dan peringatan 30 tahun hubungan bilateral Ukraina dengan Indonesia, Konsul Kehormatan Ukraina di Denpasar – Bali, I Nyoman Astama, yang juga adalah Managing Director Pacific Holidays DMC, melakukan perjalanan ke Ukraina dari 30 Januari sampai 15 Februari 2022. “Perjalanan kali ini adalah untuk ‘menjemput bola’ dalam mengantisipasi rencana pembukaan Bali bagi wisatawan mancanegara, serta upaya kegiatan nyata dalam meningkatkan kerja sama bilateral kedua negara yang sudah terjalin baik selama ini. Selain itu kesempatan ini juga dijadikan sebagai suatu peluang untuk berkreasi dan berinovasi dalam melakukan diversifikasi mengantisipasi stagnannya kegiatan pariwisata dalam dua tahun terakhir ini. Tantangan juga tidak kecil apalagi perjalanan ini dalam musim dingin sampai minus 15 derajat dan maraknya pemberitaan media yang mengekspos memanasnya hubungan di perbatasan Ukraina dan Rusia,” ungkap Astama.

Astama seraya menambahkan bahwa banyak juga pertanyaan para sahabat yang menunjukkan kepedulian mereka dengan menanyakan keadaan dan situasi akan terjadinya perang Ukraina dan Rusia. Bahkan ada yang mengirimkan video dan tautan berita media menanyakan apakah benar perang Dunia Ketiga sudah terjadi dan sebagainya. Pemberitaan media sangat mudah memicu persepsi yang berbeda-beda, oleh karena itu berita objektif dari sumber terpercaya harus menjadi acuan. Pengecekan kembali kepada sumber berita dan kepada pihak-pihak terlibat dan berwenang menjadi suatu keharusan. Apalagi kita sudah memiliki banyak pengalaman dan melihat kejadian bahwa akibat mudahnya terjadi provokasi bisa menyebabkan terjadi kerusuhan dan bahkan perang saudara sampai hancurnya suatu negara.
“Koordinasi yang intens dan terkini dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi terakhir di Ukraina sebelum kami berangkat ke Kyiv, baik dengan Kedutaan Besar RI di Kyiv maupun Kementerian Luar Negeri Ukraina,” beber Astama. Berdasarkan komentar dari Kementerian Luar Negeri Ukraina dari Bagian Fungsi Misi Diplomatik menyatakan bahwa di wilayah teritorial Ukraina terdapat 129 Kedutaan Besar dan Konsulat dari negara asing serta misi-misi organisasi internasional. Per 24 Januari 2022 hanya empat negara mengumumkan keinginannya untuk mengevakuasi anggota keluarga dan staf atau mengijinkan mereka meninggalkan wilayah Ukraina secara sukarela, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Jerman.

Sedangkan negara-negara dan misi internasional lainnya tidak ada rencana untuk mengevakuasi atau mengurangi staf pada saat ini karena tidak cukup alasan untuk melalukan itu. Pada situasi saat ini sangatlah penting untuk menghindari langkah-langkah atau penyebaran informasi di ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketegangan dalam masyarakat karena itu berpengaruh pada ketidakstabilan perekonomian dan keuangan. “Pada saat seperti ini lah persatuan dan soliditas Ukraina dan para mitra dibutuhkan karena itu menjadi kekuatan bersama. Hal ini termasuk juga upaya-upaya kita untuk melakukan aksi nyata agar bisa keluar dari dampak pandemi saat ini,” tutupnya. ama/ksm









