Pariwisata dan Hiburan

Semesta Masolah: Yayasan Rare Semesta dan SMPN Satap Besakih Angkat Talenta Seni Lewat Panggung dan Film Dokumenter


Karangasem, PancarPOS | Yayasan Rare Semesta bersama SMP Negeri Satu Atap (Satap) Besakih menggelar acara “Semesta Masolah: Pentas Talenta Seni Budaya dan Pemutaran Film Dokumenter” pada Sabtu, 8 Agustus 2026, bertempat di Tapa Agung View, Besakih. Acara ini menjadi ruang apresiasi sekaligus edukasi bagi para siswa dalam mengasah bakat seni budaya di tengah keterbatasan yang ada.
Pendidikan dan Kebudayaan yang Tak Terpisahkan

Ketua Yayasan Rare Semesta, Putu Gede Asnawa Dikta, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling berkelindan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebagai bagian dari Krama Wed Besakih, ia memandang penting adanya upaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Besakih sejak usia dini.

Ia menyebut, SMP Negeri Satu Atap Besakih merupakan satu-satunya sekolah menengah pertama di Desa Besakih, dengan mayoritas siswanya berasal dari keluarga prasejahtera. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk dapat membuka peluang kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, peningkatan kualitas SDM secara akademis perlu diimbangi dengan penguatan pemahaman terhadap tradisi, budaya, dan seni di lingkungan tempat mereka tumbuh.

“Kolaborasi ini bukan hanya media edukasi, tetapi juga media apresiasi yang memberi ruang berlatih dan pentas bagi para talenta Satap Besakih. Semesta Masolah hadir sebagai ruang gerak untuk tetap berinovasi di tengah berbagai keterbatasan,” ujarnya.

Yayasan Rare Semesta bersama SMP Negeri Satu Atap (Satap) Besakih menggelar acara “Semesta Masolah: Pentas Talenta Seni Budaya dan Pemutaran Film Dokumenter” pada Sabtu, 8 Agustus 2026. (foto: ist)

Ia berharap, langkah sederhana ini dapat menjadi pemantik bagi seluruh pihak untuk bersama-sama memperkuat kualitas pendidikan di daerah. Dalam kesempatan tersebut, turut diserahkan secara simbolis “Punia Semesta” Cihna Bakti, sebagai bentuk komitmen menjaga keberlangsungan peradaban pendidikan di Besakih melalui SMP Negeri Satu Atap Besakih.
Peran Film Dokumenter bagi Desa Adat

Acara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan Pembangunan Desa Adat, Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, Putu Bayu Putra Mahendra, S.STP., M.Si., yang sekaligus tampil sebagai narasumber dengan materi “Peran Film Dokumenter untuk Potensi Penguatan Seni, Budaya, dan Pengembangan Desa Adat”.

Ia menjelaskan, secara regulasi, upaya semacam ini termasuk dalam ranah penguatan dimensi Pawongan dalam konsep Tri Hita Karana. Menurutnya, film dokumenter berperan ganda: menjadi saksi bisu sekaligus juru bicara yang menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan masa depan desa adat.

Melestarikan Tradisi Yadnya lewat Layar
Narasumber dari Universitas Markandeya, Ida Bagus Arya Lawa Manuaba, S.Pd., M.Pd., membawakan materi “Potensi Film Dokumenter Budaya dalam Penguatan Tradisi dan Budaya secara Holistik”. Dalam paparannya bertajuk “Parasparam Bhavayantah”, ia menyoroti pentingnya melestarikan pelaksanaan tradisi Yadnya sebagai wujud kerja sama antara manusia dan Dewata, melalui siklus korban suci (yajna).

Sementara itu, narasumber dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Nyoman Atheny Pramasastra Dewi, menyampaikan materi “Potensi Film Dokumenter Budaya dalam Penguatan Seni”, sekaligus memaparkan pakem-pakem dasar dalam seni Tari Bali. Suatu karya seni lahir dari proses yang tulus, proses ini akan menghadirkan taksu.

Panggung Talenta Satap Besakih
Kepala SMP Negeri Satu Atap Besakih, yang diwakili oleh I Gede Anggan Bayu Permana, S.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kolaborasi yang rutin terjalin dengan Yayasan Rare Semesta. Ia menilai, yayasan tersebut memiliki kepedulian nyata dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Desa Besakih.

“Kami termotivasi karena mendapatkan atensi khusus. Kami juga mengucapkan terima kasih karena pada kesempatan ini difasilitasi untuk menampilkan Tari Puspanjali, Tari Margapati, Tari Condong, Tari Joged, serta penampilan talenta seni suara Satap Besakih,” ungkapnya.

Ia menambahkan, talenta seni suara sekolahnya sebelumnya berhasil meraih Juara 1 dalam ajang lomba tingkat Provinsi Bali. Anggan menegaskan, SMP Negeri Satu Atap Besakih sejatinya kaya akan potensi, namun pengelolaannya membutuhkan komitmen bersama yang berkelanjutan dari berbagai pihak.

Acara Semesta Masolah ini menjadi bukti bahwa sinergi antara lembaga pendidikan, akademisi, pemerintah, dan komunitas dapat membuka ruang lebih luas bagi anak-anak daerah untuk berkarya, sekaligus menjaga warisan seni dan budaya Besakih tetap hidup dari generasi ke generasi. tim/ama/ksm


Back to top button