Gubernur Koster Dorong Bali Jadi Hub Ekspor Nusantara, Lepas Ekspor Perdana Salak Gula Pasir ke Tiongkok

Badung, PancarPOS | Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya menjadikan Bali sebagai hub ekspor produk unggulan Nusantara. Menurutnya, Pulau Dewata telah memiliki ekosistem ekspor yang kuat, didukung citra internasional, standar mutu yang diakui dunia, serta jaringan perdagangan yang terus berkembang sehingga sangat potensial menjadi pintu ekspor berbagai komoditas dari seluruh Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menghadiri Pengukuhan dan Pelantikan Dewan Pengurus Daerah Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (DPD GPEI) Bali Masa Bakti 2026–2031 di Teater Saba, The Keranjang Bali, Jalan By Pass Ngurah Rai, Kuta, Kamis (6/8).
Dalam sambutannya, Gubernur Koster mengungkapkan bahwa secara faktual Bali selama ini sudah berperan sebagai jalur ekspor berbagai produk dari sejumlah daerah di Indonesia. Namun, menurutnya, peran tersebut belum dikelola secara sistematis sehingga potensinya belum dimanfaatkan secara maksimal. “Faktanya sekarang sebenarnya sudah jadi hub, hanya saja belum dipolakan dan dikelola,” ujarnya.
Apabila dikelola dengan baik melalui sistem yang terintegrasi, Koster meyakini Bali mampu menjadi pusat distribusi ekspor nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Ia menilai kekuatan utama Bali terletak pada reputasi internasional yang telah dibangun selama puluhan tahun. Reputasi tersebut menjadi nilai tambah bagi produk-produk yang diekspor melalui Bali karena telah memiliki standar kualitas yang dipercaya pasar dunia.
“Karena Bali sudah punya branding dan standar mutu yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau sudah bersertifikat ekspor dari Bali, pasti laku. Itu yang membuat barang-barang yang dikirim dari Bali diterima oleh pasar dunia,” katanya.
Untuk mendukung cita-cita tersebut, Pemerintah Provinsi Bali tengah mempercepat pembangunan Pusat Kebudayaan Bali yang juga akan dilengkapi fasilitas Bali Expo sebagai pusat promosi dan perdagangan produk unggulan daerah.
Menurut Koster, proyek strategis tersebut dijadwalkan memasuki proses tender pada Desember 2026. “Kita berharap zona inti tuntas tahun 2027 dan mulai kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengelola zona komersial. Salah satu fasilitas unggulannya adalah Bali Expo. Doakan semoga segera terwujud,” ungkapnya.
Selain memperkuat infrastruktur perdagangan, Koster juga mengingatkan pentingnya meningkatkan nilai tambah produk ekspor Indonesia. Ia berharap pelaku usaha tidak hanya mengekspor komoditas dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga mendorong pengembangan industri pengolahan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar. “Kalau bisa, ekspor juga produk olahan supaya nilai jual naik,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri mengucapkan selamat kepada jajaran pengurus DPD GPEI Bali yang baru dilantik. Ia berharap kepengurusan baru mampu memperkuat perdagangan luar negeri Bali dan membuka akses pasar ekspor yang lebih luas.
“Jadikan ini sebagai momentum untuk memajukan sektor perdagangan Daerah Bali agar lebih banyak komoditi yang menembus pasar ekspor,” ujarnya.
Dyah Roro mengungkapkan pemerintah menargetkan nilai ekspor nasional tahun 2026 mencapai 315 miliar dolar Amerika Serikat. Hingga saat ini realisasinya telah mencapai sekitar 218 miliar dolar AS, sehingga diperlukan sinergi seluruh daerah untuk mengejar target tersebut.
Ia optimistis Bali mampu memberikan kontribusi signifikan melalui berbagai komoditas unggulan, terutama produk pertanian dan hortikultura seperti salak gula pasir, manggis, serta berbagai buah tropis yang memiliki permintaan tinggi di pasar internasional.
Ketua Umum DPD GPEI Bali periode 2026–2031, A.A. Ngurah Aditya Pradnyana Sunu, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Gubernur Koster yang dinilai menunjukkan perhatian besar Pemerintah Provinsi Bali terhadap pengembangan sektor ekspor.
“Terima kasih, ini adalah bentuk perhatian dan concern Bapak Gubernur pada sektor perdagangan, khususnya ekspor,” katanya.
Ngurah Sunu menegaskan komitmennya melanjutkan visi GPEI untuk meningkatkan kontribusi Bali terhadap pencapaian target ekspor nasional. Ia juga sejalan dengan gagasan Gubernur Koster agar Bali berkembang menjadi hub ekspor produk Nusantara.
Menurutnya, Bali tidak hanya memiliki peluang menjadi pusat perdagangan internasional, tetapi juga mampu mengembangkan konsep trade tourism yang mengintegrasikan perdagangan dengan sektor pariwisata. “Tak hanya menjadi pusat keuangan, kami ingin Bali menjadi pusat perdagangan produk Nusantara dan trade tourism,” ujarnya.
Prosesi pelantikan ditandai dengan penyerahan pataka oleh Sekretaris Jenderal DPP GPEI Toto Dirgantoro kepada Ketua Umum DPD GPEI Bali A.A. Ngurah Aditya Pradnyana Sunu sebagai simbol dimulainya kepengurusan baru.
Pada kesempatan yang sama juga dilakukan pelepasan ekspor perdana salak gula pasir asal Bali sebanyak 3,5 ton senilai 13 ribu dolar Amerika Serikat menuju Tiongkok. Pelepasan truk pengangkut komoditas ekspor tersebut dilakukan secara simbolis melalui pengibasan bendera oleh Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri didampingi Gubernur Koster serta para tamu undangan yang turut membunyikan ceng-ceng sebagai penanda dimulainya pengiriman.
Pelepasan ekspor perdana ini menjadi simbol optimisme terhadap semakin besarnya peluang produk-produk unggulan Bali dan daerah lain di Indonesia menembus pasar internasional melalui Bali sebagai gerbang perdagangan global. mas/ama/*









