Gubernur Koster: PLTS Jadi Solusi Hindari Krisis Listrik Mulai 2027

Denpasar, PancarPOS | Gubernur Bali Wayan Koster mengingatkan pentingnya mempercepat kemandirian energi di Pulau Dewata sebagai langkah mengantisipasi meningkatnya kebutuhan listrik yang diperkirakan mencapai lebih dari 1.400 megawatt (MW) pada 2027.
Peringatan tersebut disampaikan Koster saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan Kawasan Rendah Emisi di Denpasar, Rabu (5/8/2026). Menurutnya, Bali tidak boleh terus bergantung pada pasokan listrik dari luar daerah melalui jaringan kabel bawah laut karena memiliki risiko tinggi terhadap gangguan.
“Mengapa harus kita kendalikan Bali mandiri energi? Karena kabel bawah laut itu bisa putus kapan saja akibat faktor alam maupun faktor lainnya. Karena itu saya mengajak semua beralih menggunakan PLTS,” ujar Koster.
Ia menjelaskan, saat ini kebutuhan listrik Bali telah mencapai sekitar 1.200 MW dengan kapasitas sistem sekitar 1.400 MW. Namun, pertumbuhan sektor pariwisata, investasi, dan jumlah penduduk akan menyebabkan kebutuhan listrik meningkat tajam dalam waktu dekat.
Jika tidak segera diantisipasi melalui pembangunan sumber energi baru, Bali berpotensi menghadapi pemadaman bergilir yang akan berdampak terhadap aktivitas masyarakat maupun industri pariwisata.
“Kalau tidak disiapkan dari sekarang, mulai 2027 listrik bisa bergilir. Kawasan pariwisata seperti Badung, Denpasar, dan Gianyar tidak boleh mengalami kondisi seperti itu,” tegasnya.
Menurut Koster, penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi solusi paling realistis karena sumber energi matahari tersedia melimpah di Bali sepanjang tahun.
Selain menghasilkan listrik yang lebih murah, PLTS juga tidak menimbulkan polusi udara maupun emisi karbon sehingga mendukung target Bali menjadi provinsi hijau.
Ia mengaku telah memasang PLTS atap di rumah pribadinya di Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng, sebagai bentuk komitmen terhadap penggunaan energi bersih.
Koster juga mengajak masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik karena dinilai lebih hemat, ramah lingkungan, dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang harganya terus meningkat.
Menurutnya, transisi menuju energi bersih harus dilakukan secara bertahap namun konsisten agar Bali memiliki sistem energi yang lebih tangguh sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon.
“Kami ingin Bali menjadi provinsi yang ramah lingkungan dengan energi yang bersih, udara yang sehat, dan pariwisata yang semakin berkualitas,” katanya.
Ia menegaskan, ketahanan energi merupakan bagian penting dari masa depan Bali. Karena itu, seluruh pemerintah kabupaten/kota diminta mendukung kebijakan percepatan penggunaan PLTS atap dan kendaraan listrik agar Bali benar-benar mampu mewujudkan kemandirian energi dalam beberapa tahun mendatang. mas/ama/*








