Politik dan Sosial Budaya

Mahyeldi Dukung Pemajuan Kebudayaan Koto Gadang Koto Anau Jadi Destinasi Wisata Dunia


Solok, PancarPOS | Peninggalan sejarah memiliki potensi besar bagi kemakmuran masyarakatnya. Jika tidak dijadikan cagar budaya, keberadaannya akan mengalami kepunahan. Menyikapi hal tersebut, Dra. Zusneli Zubir, M.Hum., Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat (BPNB Sumbar) memprakarsai Penyusunan Grand Design Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau yang digelar pada 3 – 4 April 2021 di Depan Balai Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kabupaten Solok, Kecamatan Lembang Jaya, Provinsi Sumatera Barat.

1bl-bn#4/2/2020

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah saat membuka acara tersebut mengatakan, masyarakat Minangkabau dengan ketinggian budayanya dikenal dengan semangat gotong royongnya yang dituangkan dalam falsafah ‘adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah’. “Syarak mangato adat mamakai. Di Sumatera Barat, menyatu antara budaya dengan nilai-nilai agama, yaitu Islam. Inilah kekhasan yang dimiliki oleh masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat. Dan kekhasan ini perlu diwariskan dan ditransformasikan,” paparnya.

Seperti juga disampaikan Mahyeldi, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memprogramkan Kawasan Gunung Talang, Kabupaten Solok untuk menjadi objek wisata destinasi nasional dan internasional. Koto Gadang Koto Anau sebagai salah satu nagari yang berada di Kawasan Gunung Talang sebaiknya memanfaatkan kesempatan ini guna berbenah dan juga meningkatkan sumber daya manusianya agar memiliki daya tarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan tersebut. Karena itu, Pemprov Sumbar sangat mendukung pemajuan kebudayaan di Nagari Koto Gadang Koto Anau.

1bl-bn#15/6/2020

Mahyeldi juga mengatakan, satu-satunya daerah di dunia yang bisa kita melihat secara sekaligus empat danau, empat gunung, air panas dan dingin secara berdampingan, dan keunikannya yang lain, hanya ada di Kabupaten Solok. Pemerintah Kanagarian Koto Gadang Koto Anau bertindak sebagai panitia penyelenggara acara tersebut, didukung oleh ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, tokoh masyarakat, bundo kanduang, dan masyarakat setempat. Selain Gubernur Mahyeldi, acara juga dihadiri oleh Mulyadi Marcos, SE., MM. (Plh. Bupati Solok), Nasripul Romika, S.Sos. (Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok), Drs. Aprimas, MM. (mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat), Derliati, S.Sn, M.Pd. (mewakili Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Barat), Wardarusmen, SE., MM. (Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat), Dra. Zusneli Zubir (Peneliti di BPNB Sumbar), Drs. Teguh Hidayat, M. Hum (Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat – BPCB Sumbar), Dr. I Ketut Wiranyana (Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara), Aminulatif, SE., M.Pd. (Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat), dan Herianto, S.E. (Kasi Sejarah, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok).

Selain itu juga dihadiri oleh Madra, SE, SH. (Anggota DPRD Kabupaten Solok), Jon Firman Pandu (Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Solok Periode 2021 – 2026), Camat Lembang Jaya, Prof. Dr. Tafdil Husni, SE., MBA. (Rektor Universitas Bung Hatta), Drs. Yoserizal, M.Sia. (Dosen FISIP UNAND), Onderus Zubir Dt. Bagindo Sati (Ketua Kerapatan Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau), Novi Lesmana (ahli waris Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan), Dra. Usjunaida (Ketua Bundo Kanduang Nagari Koto Gadang Koto Anau), Edi Setiawan, A.md (Walinagari Koto Gadang Koto Anau), dan lainnya.

1bl#ik-5/3/2021

Zusneli Zubir, Peneliti senior sejarah dan Ketua Kelompok Kerja Sejarah yang juga putri daerah Nagari Koto Gadang Koto Anau pada kata sambutannya mengatakan bahwa Koto Gadang Koto Anau adalah salah satu nagari tertua di Sumatera Barat, dapat dibuktikan dari peninggalan sejarah yang ada. Di Koto Anau bisa kita temui batu telapak kaki. Batu tersebut sama seperti batu yang ada di peninggalan Kerajaan Tarumanegara, Bogor. Selain itu juga ada Batu Balkon, masyarakat setempat menyebutnya Batu Congkak, juga ada Batu Megalit, semua memiliki banyak makna dan cerita untuk pelajaran bagi kita.

“Koto Anau juga memiliki kerajaan, bernama Kerajaan Koto Anau. Jika sebuah daerah memiliki sebuah kerajaan, tentu jadi pertanda memiliki budaya yang cukup tinggi. Baik pada bidang adat istiadat, kuliner, pakaian, sangat banyak ditemui di Koto Anau untuk kita gali. Kekayaan tersebut bisa menjadi magnet wisata. Karena itu, semua yang hadir di acara ini agar dapat ikut menyusun grand design pemajuan kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, karena keinginan kita tersebut dapat diwujudkan jika dilakukan secara bersama-sama, demi kemajuan Koto Gadang Koto Anau,” kata Zusneli Zubir.

1bl#bn-14/11/2020

Pada kesempatan yang sama, Jon Firman Pandu, Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Solok mengatakan, Kabupaten Solok mempersiapkan Pemajuan Kebudayaan, yang saat ini dilakukan di Nagari Koto Gadang Koto Anau. Ia berharap program ini didukung secara bersama-sama dari para pemuda-pemudi, stakeholder Nagari Koto Gadang Koto Anau, dengan bergandeng tangan memanfaatkan kesempatan sebagai pilot project pemajuan kebudayaan.

Acara pembukaan Penyusunan Grand Design Pemajuan Kebudayaan dan Peninjauan Objek Sejarah dan Budaya Koto Gadang Koto Anau Kabupaten Solok tersebut dimeriahkan dengan penampilan para generasi muda Koto Gadang Koto Anau membawakan Tari Piring, Tari Ambek-Ambek, Tari Mancak, dan silat. Kedatangan para tamu undangan diarak dari Kantor Walinagari hingga ke lokasi acara tersebut dengan permainan Momong dan Talempong, alat musik tradisi Koto Gadang Koto Anau, serta disambut dengan Tari Galombang.

1bl#bn-28/8/2020

Setelah acara tersebut dibuka oleh Gubernur Mahyeldi, acara dilanjutkan dengan makan bajamba di Balai Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau, dengan sajian kuliner tradisi milik daerah tersebut, yaitu: Palai Ayam, Palai Pensi, Dendeng Bakuah, Gulai Dadah, Karupuak Jangek, Lamang Sarikayo, dan lainnya. Usai makan bajamba, acara diteruskan dengan diskusi bersama untuk penyusunan grand design pemajuan kebudayaan, dilakukan di ruangan yang sama. Diskusi tersebut dibuka dengan doa bersama. Untuk memulai diskusi, Zusneli Zubir mengatakan bahwa beberapa peninggalan sejarah di Koto Gadang Koto Anau sudah ada yang dihancurkan, disemen, dirusak, akibat dari ketidaktahuan masyarakat pada benda-benda bersejarah milik daerahnya yang sangat bernilai.

Teguh Hidayat, Kepala BPCB Sumbar menanggapi, 10 objek pemajuan budaya harus diiventarisasi dengan baik. Cagar budaya hanya menumpang saja. Di Koto Gadang Koto Anau masih banyak objek yang diduga sebagai cagar budaya, tapi kuncinya adalah sertifikasinya sebagai cagar budaya yang harus segera diajukan. Jika ada objek peninggalan sejarah yang dirusak, bila bukan cagar budaya, tidak ada regulasi yang bisa ditetapkan hukumnya. Teguh Hidayat menyarankan kepada Pemerintah Nagari Koto Gadang Koto Anau agar membentuk Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk mendata objek peninggalan sejarah agar diajukan sebagai cagar budaya.

1bl#bn-7/1/2021

“Apakah betul objek yang mengalami pengrusakan yang disebut oleh Ibu Zusneli Zubir termasuk cagar budaya? TACB Kabupaten Solok perlu untuk menilai objek-objek yang diduga sebagai peninggalan sejarah. Secara pribadi saya mengatakan, Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan pantas jadi cagar budaya,” kata Teguh Hidayat. Ketut Wiranyana, Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara dengan wilayah kerja 5 provinsi di Sumatera menegaskan, berbicara grand design berarti berbicara program. Langkahnya, Pemerintah Kabupaten Solok membuat TACB untuk mencatat semua peninggalan sejarah di Koto Anau Koto Gadang, baik benda maupun tak benda. Setelah tahu potensi yang dimiliki, lalu prioritaskan mana yang bisa dilakukan terlebih dahulu, karena tidak mungkin semuanya untuk dilakukan secara bersamaan. Dari data tersebut lakukanlah pembenahan terhadap objek tersebut. hli/ama

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close