Hukum dan Kriminal

Kecewa Ashram Ditutup, Dalam 7 Kali 24 Jam MDA dan PHDI Bali Terancam Perdata dan Pidana


Denpasar, PancarPOS | Majelis Ketahanan Krama Bali Nusantara melayangkan somasi kepada Majelis Desa Adat (MDA) dan Parisada Hindu Dharma Indoensia (PHDI) Bali terkait kasus penutupan ashram di Bali yang dituding dipicu akibat terbitnya SKB MDA dan PHDI Bali. Melalui kuasa hukumya, Adv. I Ketut Nurasa, SH.,MH., yang juga Ketua Majelis Ketahanan Krama Bali Nusantara langsung menyampaikan somasi untuk melakukan musyawarah dan dialog secara terbuka ke Kantor MDA dan PHDI Bali, Denpasar, Selasa (4/5/2021). “Kita sampaikan somasi musyawarah dan dialog terbuka untuk memohon, mengharapkan dan menyarankan MDA dan PHDI mencabut SKB itu dan tolong dipahami itu. Karena punya ga mereka kewenangan dan eksekusi seperti itu, bahkan aparat hukum pun tidak bisa melakukan itu,” bebernya.

1th#ik-16/4/2021

Dikatakan, tujuan somasi ini, agar sebagai orang yang sama-sama orang Bali dan sama-sama Hindu agar tidak ada miss komunikasi. “Maksudnya agar tidak ada pernyataan yang arogan dan sudah sampai menyalahkan, bahkan sampai persekusi dan eksekusi dengan cara sewenang-wenang tanpa dasar hukum,” tegasnya, seraya mengaku somasi ini sebagai bentuk kekecewaan karena sebagai ketua umat beragama, tapi dengan semetonnya sendiri, seperti ini menyelesaikan masalah dengan membuat SKB dan pernyataan yang memicu arogansi umat,” bebernya. Karena itu, sebagai bentuk kekecewaan dan ingin mencari keadilan melakukan somasi dan mengancam akan melakukan gugatan hukum secara perdata dan pidana jika dalam waktu 7 hari belum ada respon dan tanggapan dari MDA dan PHDI Bali.

“Kami harapkan dalam waktu 7 kali 24 jam ini sudah ada pertemuan dan dialog. Sekarang kami menunggu, tapi jika tidak ada atensi dan tidak ada perhatian dan itikad baik, maka akan ada upaya hukum. Entah secara pidana dan perdata. Gambaran kami itu bisa memenuhi unsur hukum perdata dan pidana. Harapan kami beliau MDA dan PHDI Bali lebih bijaksana di jaman Covid agar Bali tetap aman, damai dan shanti,” tutupnya. Sayang baik MDA maupun PHDi Bali belum bisa menanggapi somasi tersebut saat dihubungi via pesan WhatsApp sampai berita ini diturunkan. Seperti sebelumya diketahui, sejumlah ashram ditutut, salah satunya di Desa Adat Kesiman menutup Ashram Krishna Balaram di Jalan Pantai Padang Galak, Kesiman, Denpasar Timur pada Minggu (18/4/2021).

1th-ksm#5/2/2021

Penutupan dilakukan Jro Bendesa Adat Kesiman I Ketut Wisna didampingi prajuru adat dan pacalang serta dihadiri berbagai komponen masyarakat dari Forum Komunikasi Taksu Bali, karena Ashram tersebut diduga mengembangkan ajaran Sampradaya non dresta Bali, sehingga dinilai menyimpang dari ajaran Agama Hindu. Namun proses penutupan berjalan kondusif dijaga aparat keamanan. Saat dikonfirmasi, Ketut Wisna mengungkapkan, penutupan dilakukan karena aktivitas di Asram Krisna Balaram bertentangan degan dresta adat Bali di wewidangan (wilayah) Desa Adat Kesiman. tim/ama/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close