Ekonomi dan Bisnis

Peternak Mengeluh, Konsumsi Daging Babi di Bali Aman



Denpasar, PancarPOS | Harga daging babi di pasaran masih normal atau dikisaran Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram. Apalagi para peternak masih mengeluhkan harga daging di peternak cukup murah. Sementara kondisi di tempat-tempat makan yang menjual olahan daging babi masih terlihat belum ada penurunan penjualan. Dengan demikian masyarakat diharapkan paham bahwa mengkonsumsi daging babi tetap aman dan peternak tidak dimainkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab agar mau menjual babinya dengan harga murah. Hal ini memberi bukti bahwa daging babi aman untuk dikomsumsi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali di kantor setempat bersama Dirjen Peternakan akan melaksanakan kegiatan kampanye makan olahan daging babi tetap aman untuk dikomsumsi. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi untuk mengkomsumsi babi begitu pula dengan peternak, sepanjang mengikuti rekomendasi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan melalui tim yang sudah disebar di lapangan.

3bl-ik#4/2/2020

Seperti diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si., menegaskan sejak akhir Desember 2019 hingga, Selasa (4/2/2020), jumlah babi mati di Bali yang diduga terserang flu babi Afrika atau African Swine Flu (ASF) sebanyak 808 ekor. Tersebar di Denpasar, Badung, Tabanan, Gianyar dan menyusul Klungkung namun jumlahnya sangat kecil. Wisnuardhana menegaskan penyakit yang mematikan ternak babi ini tidak bisa menjangkit ke manusia. Dijelaskan Wisnuardhana, pengungkapan kematian babi telah dilakukan dengan pengambilan 5 sampai 10 persen sampel babi mati baik melalui darah, daging dan kotoran (fases) di seluruh lokasi kejadian. Pengambilan sampel dilakukan Balai Besar Verteriner Denpasar untuk dikirimkan ke Balai Besar Veteriner Medan selanjutnya hasil telah disampaikan beberapa hari lalu oleh Balai Besar Verteriner Direktoral Jenderal Peternakan, Kementrian Pertanian RI. Dipastikan kematian babi disebabkan oleh ASF.

Baca | Petani Buah Naga di Buleleng Butuh Sertifikat Organik dan Packing House Standar Ekspor

Diketahui jumlah populasi babi di Bali saat ini sekitar 690.000 ekor. Populasi yang besar juga membuat banyak babi mati seperti yang juga terjadi di Medan dan berbagai tempat lainnya di Indonesia termasuk kasus di negara-negara lainnya. Tentunya tingginya arus barang ke Bali juga dicurigai sebagai salah satu penyebab menjangkitnya wabah flu babi Afrika. Kecurigaan lainnya sebagai faktor penyebab yakni pemberian makanan sisa hotel, restauran atau katering kepada ternak babi tanpa dimasak dengan baik sebelumnya. “Kita menduga, terjangkitnya babi ini pada peternakan-peternakan yang memberikan ternak babinya makanan-makanan sisa. Ya kemungkinan dari sampah hotel dan kemudian belum dimasak dengan baik, kita menduga dari sana penularannya. Karena awal penularan di Sanggaran (kawasan TPA Suwung, red). Kemungkinan disana memberikan makanan sisa yang belum dimasak dengan baik. Sekarang sudah ada empat yang kita identifikasi Denpasar, Badung, Tabanan, Gianyar menyusul di Klungkung juga ada ternak mati,” ungkapnya.

1th-bn#1/2/2020

Untuk itu pihaknya melalui tim yang telah dibentuk terus turun melaksanakan sosialisasi dan tidak hanya sebatas daerah yang ternaknya terjangkit saja agar wabah tidak meluas. Pendataan dan pengawasan kesehatan hewan terus diintensifkan bersama dinas terkait di kabupaten/kota se-Bali. Diketahui sejak enam hari lalu sudah tidak ada laporan babi mati akibat diserang ASF. Tim lapangan juga terus mensosialisasikan agar peternak memberi pakan babinya dengan baik serta menjaga kebersihan kandang. Karena flu babi Afrika sangat mudah menular lewat kontak fisik babi maka melalui bantuan yang telah diterima Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali dari Dirjen Peternakan berupa disinfektan dan alat semprot tim terus melakukan eliminir ASF pada kandang. Langkah antisipasi yang didukung penuh oleh Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali juga dengan melakukan sosialisasi agar penyakit yang tidak bisa terjangkit ke manusia ini tidak membuat harga daging babi di Bali anjlok.

Baca | Jelang Galungan, Petani Cabai Harap Harga Jual Naik

“Kami juga sampaikan terimakasih kepada GUPBI sudah banyak membantu kita melaksanakan sosialisasi dan edukasi. Kedepan apabila masih ada ternak yang mati segera melapor dan menjaga kebersihan kandang. Babi yang mati segera di kubur oleh karena didalamnya sudah ada virusnya, jadi jangan dibuang ke sungai dan jangan dijual saya kira itu hal penting harus kita lakukan. Tinggal ikuti rekomendasi dan petunjuk-petunjuk petugas kita di lapangan. Memberi pakan juga harus sehat. Kedua bagaimana kita menyakinkan peternak dan masyarakat bahwa ASF ini tidak menular kepada manusia,” tandas Wisnuardhana. eja/ama/jmg

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close