APJI Rayakan HUT ke-41 Lewat Lomba Tumpeng Se-Nusantara, Kini Resmi Jadi Pengawas Dapur Program MBG

Denpasar, PancarPOS | Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) se-Nusantara merayakan ulang tahun ke-41 dengan cara berbeda dan penuh makna, pada Sabtu (18/10/2025). Perayaan kali ini dilakukan serentak di seluruh Indonesia melalui Zoom, namun bukan sekadar pertemuan virtual. APJI juga menggelar lomba internal pembuatan tumpeng di setiap daerah sebagai simbol kekuatan tradisi kuliner Nusantara. “Cara kita merayakan ulang tahun itu dengan melakukan Zoom se-Nusantara, tapi tidak hanya Zoom call, melainkan juga lomba internal tentang pembuatan tumpeng,” ujar Ketua Umum APJI Bali, Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha.
Ia menjelaskan, tumpeng memiliki makna sakral yang mendalam. “Tumpeng itu bentuknya kerucut ke atas, melambangkan gunung atau sesuatu yang menuju ke Tuhan Yang Maha Esa,” katanya. Menariknya, tradisi ini dikombinasikan dengan filosofi kuliner Bali. “Karena tumpeng itu nasi kuning, di Bali kita punya nasi yasa. Saya baru tahu juga setelah menjadi Ketua APJI, ada yang memberitahu maknanya. Kenapa ada udang? Udang itu melambangkan maritim. Kenapa tidak dikupas dengan cangkang dan kakinya yang tajam? Itu simbol weapon atau pertahanan, kekuatan,” jelasnya.
Selain udang, komposisi nasi yasa juga sarat simbol. “Kenapa ada telur? Karena telur melambangkan fertility atau kesuburan, berasal dari ayam. Lalu ada kacang-kacangan, itu simbol hasil kebun dan pertanian. Jadi itu yang ingin kita tampilkan di APJI bahwa tradisi kuliner itu penting, jangan sampai diakui negara lain atau hilang filosofinya,” tegasnya. Lomba tumpeng diikuti oleh seluruh pengurus APJI dari Sabang sampai Merauke, dengan puncak acara berupa potong tumpeng bersama di masing-masing daerah. “Kita lombakan se-Nusantara dan menampilkan tumpeng-tumpeng terbaik, serta melakukan potong tumpeng bersama-sama di daerah masing-masing,” tambahnya.
Dari kegiatan ini, APJI juga membuat video konten berdurasi 50 detik tentang proses pembuatan tumpeng, mulai dari menanak nasi hingga menghiasnya. “Kita bikin konten video tentang pembuatannya dan menilai bukan hanya hasil tumpengnya, tapi juga proses pembuatannya. Seluruh Nusantara ikut, dari Papua, Kalimantan, Sulawesi, Jawa. Yang paling maksimal, besar, dan lengkap adalah dari Pulau Jawa,” ungkapnya. Di Bali sendiri, filosofi tumpeng dikaitkan dengan nilai spiritual. “Kalau di Bali, nasi kuning itu lebih ke arah spiritual, disajikan di pura-pura dan dibagikan ke masyarakat yang beribadah saat hari raya besar. Jadi konsepnya lebih sakral,” ujarnya.
Peringatan HUT APJI kali ini juga bertepatan dengan tonggak baru peran organisasi tersebut di tingkat nasional. “Sekarang APJI sudah ditunjuk oleh negara menjadi pengawas resmi dapur-dapur MBG,” tegasnya. MBG (Menu Bergizi Gratis) merupakan program Presiden Prabowo untuk mengurangi kasus keracunan serta meningkatkan standar gizi dan higienitas makanan anak-anak di seluruh Indonesia. “Sebelumnya APJI sudah menyiapkan tenaga-tenaga SPPG dari Kesatuan Percepatan Pembangunan, yang merupakan anak-anak S1 dari seluruh Nusantara jumlahnya ribuan. Kami men-training mereka secara profesional agar bisa menjadi pengawas di dapur MBG,” jelasnya.
“Sekarang APJI lebih dipercaya lagi oleh pemerintah setelah diberikan surat keputusan resmi untuk menjadi pengawas dapur MBG. Jadi kemarin di rumah saya sebagai Ketua Umum, bersamaan seluruh Nusantara di tempat masing-masing, kami rayakan ulang tahun dan potong tumpeng,” lanjutnya. APJI berkomitmen melestarikan tradisi kuliner Indonesia dengan menjadikannya bagian dari pendidikan gastronomi. “Kami ingin mensosialisasikan tumpeng dan kuliner tradisional lewat festival-festival yang sudah rutin diadakan. APJI ingin berkolaborasi, mengambil area tertentu di festival dan menghadirkan makanan-makanan anggota APJI, juga mengadakan talkshow sosialisasi tentang tumpeng atau kuliner tradisional yang kini dikenal dengan gastronomi,” ujarnya.
Keseriusan APJI dalam dunia gastronomi juga terlihat ketika Ketua Umum APJI diundang oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam acara Wonderful Indonesia Gastronomy di Meru dan St. Regis. “Saya diundang bersama 40 orang lainnya oleh Ibu Menteri dan Deputi Pariwisata. Acara ini di-host langsung oleh Kementerian Pariwisata, dihadiri Ibu Menteri yang sekaligus menjadi pembicara,” katanya. Acara tersebut memiliki tiga area utama. “Pertama, talkshow di Meru dengan tokoh nasional dan internasional bidang gastronomi. Kedua, pameran stand makanan Indonesia yang dikemas naik kelas dengan cerita. Ketiga, promosi kuliner dengan menghadirkan jurnalis internasional mainstream seperti Vogue Travel and Research, bahkan Vogue yang kemarin juga menghadirkan Pak Prabowo sebagai pembicara,” paparnya.
Ketua Umum APJI juga hadir dalam acara penutupan tersebut. “Dari 40 partisipan yang sebagian besar media internasional, saya ikut menyaksikan penutupan. Ke depan semoga makin banyak kuliner lokal yang bisa naik kelas dan masuk dalam acara gastronomi karena ini pertama kali dilakukan. Penting bagi kita menjaga kearifan lokal lewat kuliner yang nantinya dikemas menjadi gastronomi,” ujarnya. Ia mencontohkan, makanan tradisional seperti nasi yasa bisa masuk kategori gastronomi jika dikelola dengan tepat. “Kita mulai dari ceritanya, filosofinya, lalu bikin standar resepnya dan dijelaskan detailnya. Jadi siapapun yang membaca bisa tahu isi dan maknanya,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan kembali posisi APJI. “Kalau untuk pengurus itu sudah ada standarnya, kalau anggota karena kita sebenarnya kemarin ulang tahun ke-41, tapi di Bali baru menggeliat dari tahun lalu. Begitu kami memegang amanah, ada program dari Pak Presiden tentang MBG jadi kita langsung ngebut,” ujarnya sambil tersenyum. Tak jarang masyarakat masih salah paham dengan singkatan APJI. “Bahkan banyak yang miss, dikira APJI itu asosiasi pengusaha jasa internet, padahal kita adalah Asosiasi Pengusaha Jasa Boga,” candanya.
Kini APJI Bali mulai memperluas potensi dengan menggandeng berbagai pelaku usaha kuliner. “Di Bali mungkin tidak hanya catering, tapi semua penyedia jasa makanan apapun jenisnya. Termasuk winery seperti Hatten Wine, Nuris, Blangko Restaurant, Kopi Pangeran, Ny. Warti Buleleng yang sudah legendaris, hingga beberapa catering dari restoran-restoran besar,” pungkasnya optimistis. ama/ksm









