Karya Utamaning Utama Memasuki Puncak, Atma Wedana Jro Mangku Gede I Wayan Tang Digelar 12 Agustus 2026
Seluruh Dudonan Karya Dilaksanakan Sesuai Sastra Agama dan Dresta Leluhur

Badung, PancarPOS | Rangkaian Karya Pitra Yadnya “Ngewangun Nyawa Wedana Utamaning Utama, Atma Wedana, Maligia Kurung Metatah” bagi almarhum Jro Mangku Gede I Wayan Tang terus memasuki tahapan penting. Setelah prosesi Ngaben, Nganyut, hingga berbagai upacara penyucian dilaksanakan, keluarga besar Paibon Bandesa Tangkas Kori Agung Delod Bingin, Ungasan kini memusatkan perhatian pada pelaksanaan puncak Atma Wedana yang akan digelar pada Rabu (12/8/2026).
Ketua Panitia Karya sekaligus Wakil Manggala Karya, I Komang Gede Swastika, mengatakan seluruh rangkaian karya telah berjalan sesuai dudonan upacara yang telah ditetapkan. Setiap tahapan memiliki makna spiritual sebagai proses penyucian atma agar dapat mencapai tingkatan yang lebih luhur. “Rangkaian Upacara Atma Wedana ini sudah dimulai sejak beberapa hari lalu. Semua tahapan kami laksanakan secara bertahap sesuai sastra agama Hindu dan dresta yang diwariskan para leluhur,” ujarnya pada Senin sore (10/8/2026).
Menurut Gede Swastika, rangkaian diawali dengan prosesi melukat sebagai simbol penyucian lahir dan batin, dilanjutkan dengan ngekeb dan metatah bagi anggota keluarga yang mengikuti rangkaian Manusa Yadnya. Selanjutnya dilaksanakan prosesi Manah Toyaning lan Mendak Dateng yang menjadi bagian penting dalam tahapan Atma Wedana.

Ia menjelaskan, prosesi tersebut merupakan bagian dari penyucian berbagai sarana upacara yang akan dipergunakan dalam karya, sekaligus memohon tirta suci sebagai dasar pelaksanaan tahapan berikutnya dalam rangkaian Atma Wedana. “Semua sarana yadnya terlebih dahulu disucikan agar pelaksanaan karya berlangsung sesuai ketentuan agama. Harapannya seluruh rangkaian mendapat tuntunan dan anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” jelasnya.
Setelah itu, keluarga melanjutkan prosesi Nunas Don Bingin di Catus Pata Desa Adat Ungasan sebagai bagian dari dudonan karya. Rangkaian kemudian diteruskan dengan Ngajum Sekah lan Sangge serta Muspayang ke Hyang Guru Paibon sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan memohon restu agar seluruh tahapan karya berjalan lancar. Menurut Gede Swastika, seluruh prosesi tersebut memiliki tujuan utama menyucikan atma sehingga dapat meningkat kedudukannya menjadi Dewa Pitara.
“Melalui seluruh tahapan ini kami memohon agar atma yang diupacarai memperoleh penyucian dan akhirnya mencapai kedudukan yang luhur sesuai tujuan Atma Wedana,” katanya. Sebelumnya, pada Minggu (9/8/2026), keluarga juga telah melaksanakan sejumlah prosesi, di antaranya Ngulapin ke Segara, Ngadegang Tapini, Maguru Dadi, Mesiwa Rare Angon, Mapenggalang Sasih, Lumbung Suci, Dapur Suci, Ngingsah, Negtegang, hingga Nuur Pakulih.

Pada malam harinya dilanjutkan dengan prosesi Ngendag, Merajah, Sungkeman Biaukala lan Ngekeb, serta Ngerumrum lan Mekemit. Sementara pada Selasa (11/8/2026), keluarga kembali melaksanakan Meben Mesumping Keladi yang dilanjutkan dengan Ngerumrum lan Mekemit sebagai persiapan menuju puncak karya. Ia juga mengatakan, seluruh keluarga besar bersama krama pengayah saat ini masih terus menyiapkan berbagai sarana upacara, banten, dan perlengkapan yadnya agar pelaksanaan puncak Atma Wedana dapat berlangsung dengan sempurna.
“Semua persiapan terus kami matangkan. Ini merupakan karya Paibon sehingga seluruh keluarga bergotong royong ngayah sebagai bentuk bakti kepada leluhur,” ujarnya seraya menjelaskan, puncak Atma Wedana pada Rabu (12/8/2026) akan menjadi tahapan paling sakral dalam keseluruhan rangkaian karya. Pada hari tersebut akan dilaksanakan prosesi Maligia Kurung, Mapurwa Daksina, Metiti Mamah Kebo, Memukur, Mejaya-jaya, serta tahapan penyucian lainnya sesuai dudonan karya.
Menurutnya, seluruh prosesi tersebut merupakan puncak penyempurnaan perjalanan suci atma sebelum akhirnya dimuliakan melalui rangkaian yadnya yang telah diwariskan secara turun-temurun. “Kami berharap seluruh rangkaian karya dapat berjalan lancar, memberikan kerahayuan bagi keluarga, serta mengantarkan atma almarhum mencapai kedudukan yang utama sesuai ajaran agama Hindu,” katanya.

Ia menegaskan, Karya Pitra Yadnya yang dilaksanakan bukan sekadar tradisi adat, melainkan wujud bhakti keluarga kepada leluhur yang telah memberikan kehidupan dan tuntunan bagi generasi penerus. Melalui karya ini, keluarga besar Paibon Bandesa Tangkas Kori Agung Delod Bingin berharap nilai-nilai gotong royong, ngayah, dan penghormatan kepada leluhur tetap lestari serta diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya Bali. ama/ksm









