Politik dan Sosial Budaya

Transportasi Lokal Bangkit! DPRD Badung Gaspol Dukung Tri Kita, Aplikasi Anak Bali Lawan Dominasi Global


Badung, PancarPOS | Peta persaingan transportasi di Bali mulai berubah. Di tengah kuatnya dominasi aplikasi transportasi daring berskala nasional dan global, sebuah gerakan berbasis lokal perlahan tapi pasti menyalakan optimisme baru. Namanya Tri Kita. Sebuah aplikasi transportasi yang lahir dari semangat kolaborasi Bali untuk Bali.

Dukungan politik pun tak setengah hati. Anggota Komisi III DPRD Badung, I Made Suryananda Pramana, secara terbuka menyatakan apresiasi dan komitmennya untuk mendorong aplikasi ini agar benar-benar menjadi solusi nyata bagi para sopir lokal yang selama ini terhimpit arus digitalisasi tanpa keberpihakan.

Pernyataan itu disampaikan Suryananda pada Kamis (26/2/2026) di Mangupura. Baginya, Tri Kita bukan sekadar platform digital. Ini adalah momentum kebangkitan ekonomi transportasi lokal yang selama beberapa tahun terakhir mengalami tekanan luar biasa.

“Kita melihat sendiri bagaimana sopir lokal makin sulit bersaing. Pendapatan menurun, ruang gerak terbatas, dan mereka seperti menjadi penonton di tanahnya sendiri. Harapan kami, dengan adanya Tri Kita, masyarakat lokal bisa kembali menggeliat dan mendapatkan penghasilan yang layak seperti sediakala,” tegasnya.

Momentum Soft Launching Tri Hita Trans menjadi penanda awal penguatan peran BUPDA dalam pengelolaan transportasi digital di Bali. (foto: tra)

Dominasi aplikasi global selama ini memang menciptakan dinamika baru. Di satu sisi, kemudahan teknologi mempermudah akses pelanggan. Namun di sisi lain, struktur pembagian hasil, sistem insentif, hingga kebijakan tarif seringkali tak sepenuhnya berpihak pada pelaku lokal.

Suryananda menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, Badung sebagai jantung pariwisata Bali harus memiliki sistem transportasi digital yang memberi ruang prioritas bagi warganya sendiri.

Tri Kita hadir dengan semangat itu. Aplikasi ini dirancang bukan hanya untuk menghubungkan penumpang dan sopir, tetapi membangun ekosistem ekonomi berbasis koperasi dan desa adat. Sebuah pendekatan yang memadukan teknologi modern dengan nilai lokal.

Ia menegaskan, gagasan membuat aplikasi transportasi lokal sebenarnya bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir, ide serupa pernah muncul, tetapi tidak berumur panjang. Kerap kali kandas di tengah jalan karena lemahnya koordinasi, kurangnya dukungan sistem, atau tidak solidnya kolaborasi antar pihak.

“Bedanya sekarang jelas. Ini bukan kerja satu pihak. Ada swasta sebagai penyedia teknologi, ada koperasi sebagai wadah resmi driver, ada dukungan pemerintah, dan tentu para sopir lokal sebagai pelaksana di lapangan. Ini kolaborasi multipihak yang terstruktur,” ujarnya.

Dalam skema yang dipaparkan, pengembangan teknologi ditangani oleh PT Sentrik Persada Nusantara sebagai penyedia sistem. Para sopir terhimpun dalam koperasi sehingga memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Pemerintah Kabupaten Badung dan Pemerintah Provinsi Bali memberikan dukungan regulasi dan sistem, agar operasional berjalan tertib dan berkelanjutan.

Sopir lokal Bali gunakan Tri Hita Trans di area penjemputan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Kamis (26/2/2026). (foto: tra)

Suryananda menyebut model ini sebagai “jembatan strategis” antara kepentingan bisnis dan kepentingan sosial. Ia yakin, ketika semua unsur duduk bersama dalam satu desain besar, maka peluang keberhasilan jauh lebih tinggi.

Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar aplikasi, melainkan keberanian untuk mengubah pola pikir. Bahwa transformasi digital tidak harus identik dengan dominasi luar. Bali bisa berdiri dengan identitas dan sistemnya sendiri.

Tri Kita, kata dia, harus menjadi simbol bahwa ekonomi digital juga bisa berakar pada nilai lokal. Konsepnya bukan semata-mata profit oriented, tetapi kesejahteraan kolektif.

Dukungan DPRD Badung menjadi sinyal kuat bahwa gerakan ini mendapat legitimasi politik. Namun Suryananda mengingatkan, dukungan itu harus diterjemahkan menjadi kerja nyata di lapangan.

Ia meminta seluruh stakeholder, mulai dari manajemen aplikasi, koperasi, hingga para driver, benar-benar berkomitmen. Jangan sampai inisiatif ini hanya menjadi euforia sesaat.

“Kalau mau berhasil, semua harus konsisten. Jangan setengah-setengah. Driver harus solid, manajemen harus transparan, pemerintah harus hadir dalam pengawasan. Kalau ini berjalan baik, saya yakin dampaknya besar,” katanya.

Lebih jauh, ia menyoroti aspek keberpihakan. Menurutnya, kebangkitan transportasi lokal bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal harga diri dan kedaulatan.

Bali selama ini dikenal sebagai destinasi wisata dunia. Ironis jika pelaku lokal justru terpinggirkan di sektor transportasi yang menjadi urat nadi mobilitas wisatawan.

Aplikasi Tri Hita sebagai platform transportasi hijau berbasis desa adat yang terintegrasi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelindo Benoa. (foto: ist)

Tri Kita diharapkan mampu menjadi ruang aman bagi sopir lokal untuk tumbuh kembali. Dengan sistem koperasi, keuntungan tidak mengalir keluar daerah sepenuhnya, tetapi berputar di dalam ekosistem lokal.

Suryananda menilai pendekatan berbasis koperasi juga selaras dengan semangat gotong royong yang menjadi karakter masyarakat Bali. Dalam sistem ini, driver bukan sekadar mitra individual, tetapi bagian dari struktur kolektif yang saling menopang.

Ia mengajak para sopir untuk tidak ragu bergabung dan membangun kepercayaan bersama. Keberhasilan aplikasi lokal sangat bergantung pada partisipasi aktif para pelaku di lapangan.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci. Publik perlu didorong untuk bangga menggunakan layanan transportasi berbasis lokal. Kesadaran kolektif inilah yang akan menjadi kekuatan utama.

“Kalau masyarakat mendukung, ini bisa viral dan jadi gerakan bersama. Kita ingin ini bukan sekadar aplikasi, tapi gerakan ekonomi Bali,” ujarnya.

Dalam konteks regulasi, ia memastikan DPRD Badung siap memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan sesuai kewenangan daerah. Namun ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan, baik dari sisi operasional maupun perlindungan konsumen.

Ke depan, Tri Kita diharapkan tidak hanya melayani transportasi penumpang, tetapi berkembang ke layanan lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pariwisata.

Transformasi digital memang tidak bisa dihindari. Namun, menurut Suryananda, digitalisasi harus memberi ruang keadilan. Teknologi seharusnya menjadi alat pemberdayaan, bukan alat peminggiran.

Ia optimistis, jika kolaborasi ini konsisten dijalankan, Badung bisa menjadi contoh model transportasi digital berbasis lokal di Indonesia. Momentum ini, kata dia, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Jangan sampai kesempatan emas ini terlewat.

Tri Kita kini bukan lagi sekadar wacana. Ia telah menjadi simbol harapan bagi ratusan bahkan ribuan sopir lokal yang mendambakan sistem yang lebih adil.

Aplikasi Tri Hita sebagai platform transportasi hijau berbasis desa adat yang terintegrasi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelindo Benoa. (foto: ist)

DPRD Badung telah menyatakan dukungan. Pemerintah daerah membuka ruang. Swasta menyediakan teknologi. Koperasi menjadi fondasi organisasi. Tinggal satu hal yang menentukan: keseriusan bersama untuk menjadikannya nyata.

Jika semua komponen bergerak seirama, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat, Tri Kita benar-benar menjadi aplikasi kebanggaan Bali. Aplikasi yang lahir dari kegelisahan, tumbuh dari kolaborasi, dan berkembang karena solidaritas. tra/ama/ksm


Back to top button