Nasional

Selamatkan Ketahanan Pangan, Bali Diingatkan Hadapi Ancaman “Godzilla El Nino” 


Denpasar,  PancarPOS | Di tengah capaian membanggakan Provinsi Bali yang berhasil menempati peringkat ketiga nasional dalam Indeks Ketahanan Pangan (IKP) tahun 2025 dengan skor 79,88, ancaman serius justru mulai membayangi sektor pertanian Pulau Dewata. Fenomena “Godzilla El Nino” yang diprediksi memicu kekeringan ekstrem berkepanjangan dinilai dapat menjadi ancaman nyata terhadap stabilitas pangan Bali apabila tidak diantisipasi secara serius dan terstruktur.

Peringatan keras itu disampaikan Rektor Dwijendra University sekaligus Ketua DPD HKTI Bali, Gede Sedana. Menurutnya, capaian ketahanan pangan Bali yang saat ini melampaui rata-rata nasional sebesar 73,00 tidak boleh membuat pemerintah maupun masyarakat lengah terhadap ancaman perubahan iklim global.

Ia menegaskan, informasi dari BMKG terkait fenomena El Nino dengan intensitas tinggi harus dijadikan alarm serius bagi Bali yang selama ini masih bertumpu pada sektor pertanian dan sistem irigasi tradisional subak.

“Ketahanan pangan Bali memang kuat saat ini, tetapi ancaman kekeringan ekstrem akibat Godzilla El Nino bisa memukul sektor pertanian jika tidak diantisipasi melalui strategi adaptasi dan mitigasi yang tepat,” tegasnya di Denpasar, pada Senin (11/5/2026).

Menurut Gede Sedana, langkah pertama yang harus dilakukan adalah strategi adaptasi di tingkat petani. Adaptasi tersebut dilakukan melalui penyesuaian pola tanam, kalender tanam, pemilihan varietas tanaman, hingga pengelolaan air yang lebih efisien.

Ia menjelaskan, pola tanam yang sebelumnya menggunakan skema padi–padi–palawija perlu disesuaikan menjadi padi–palawija–palawija guna menekan kebutuhan air di tengah ancaman kekeringan panjang.

“Semua tergantung ketersediaan air irigasi dari sungai, bendung, maupun mata air. Karena itu pola tanam harus realistis sesuai kondisi air di lapangan,” ujarnya.

Tak hanya itu, penyesuaian jadwal tanam juga dinilai krusial. Petani didorong untuk mempercepat pengolahan lahan dan tidak menunda masa tanam agar tetap dapat memanfaatkan sisa ketersediaan air secara optimal.

Dalam konteks Bali, kata dia, sistem subak memiliki peran vital dalam mengatur distribusi dan alokasi air, baik di internal subak maupun antar-subak. Apabila koordinasi distribusi air gagal dilakukan, maka risiko konflik dan gagal panen akan meningkat.

Di sisi lain, pemilihan varietas tanaman tahan kekeringan menjadi solusi yang tidak bisa ditunda lagi. Varietas padi maupun palawija yang tahan stres air serta memiliki umur panen lebih pendek harus mulai diperluas penggunaannya di Bali. “Petani tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada pola lama. Perubahan iklim memaksa adanya transformasi cara bertani,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan Teknik SRI (System of Rice Intensification) sebagai bagian dari strategi adaptasi modern pertanian Bali. Teknik ini menerapkan sistem pengairan macak-macak yang terbukti mampu menghemat penggunaan air tanpa menurunkan produktivitas pertanian.

Menurutnya, teknik SRI tidak hanya menghemat air, tetapi juga mendorong penggunaan pupuk organik yang mampu meningkatkan kemampuan tanah menyimpan cadangan air lebih lama. “Tanah yang sehat akan lebih kuat menghadapi musim kering panjang,” ungkapnya.

Lebih jauh, Gede Sedana menilai Bali membutuhkan penguatan pertanian cerdas iklim atau Climate-Smart Agriculture. Pendekatan ini menekankan pentingnya sistem pertanian yang produktif namun tetap adaptif terhadap ancaman perubahan iklim.

Karena itu, penyuluhan dan pelatihan kepada petani harus diperkuat. Petani disebut tidak boleh dibiarkan menghadapi ancaman El Nino sendirian tanpa dukungan teknologi dan informasi yang memadai.

Selain strategi adaptasi, ia juga menekankan pentingnya strategi mitigasi untuk mencegah dampak kerugian yang lebih besar. Mitigasi ini terutama diarahkan untuk menekan risiko gagal panen yang dapat menghantam ekonomi petani Bali.

Salah satu strategi penting adalah penyusunan perencanaan air tahunan secara detail yang mencakup kebutuhan air baku, air irigasi, hingga distribusi penggunaannya. Menurutnya, informasi tersebut harus disiapkan secara akurat oleh Balai Wilayah Sungai Bali-Penida bersama instansi pengairan terkait. “Informasi air itu harus menjadi dasar penentuan pola tanam dan jadwal tanam,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya program pompanisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi untuk mengurangi kebocoran air di saluran induk maupun saluran tersier. Selama ini, kehilangan air akibat infrastruktur irigasi yang rusak dinilai masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah pertanian Bali.

Di tengah ancaman kekeringan, mekanisasi pertanian juga dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Penggunaan traktor dan alat pertanian modern diperlukan untuk mempercepat pengolahan lahan agar petani dapat bergerak lebih cepat memanfaatkan air yang tersedia.

Tak kalah penting, program asuransi pertanian harus diperluas agar petani memiliki perlindungan finansial apabila mengalami gagal panen akibat kekeringan atau puso. “Asuransi pertanian penting untuk mengurangi beban petani ketika terjadi bencana iklim,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa ancaman El Nino bukan hanya persoalan cuaca semata, melainkan ancaman serius terhadap ekonomi pedesaan, stabilitas pangan, hingga kesejahteraan masyarakat Bali secara keseluruhan.

Karena itu, koordinasi antarinstansi menjadi kunci penting. Informasi iklim dari BMKG harus dapat diterjemahkan secara cepat oleh instansi bidang pengairan dan pertanian, lalu diteruskan kepada petani melalui sistem subak.

Menurutnya, petani membutuhkan informasi yang cepat dan akurat agar dapat menentukan langkah antisipasi sebelum kekeringan semakin parah. “Kalau semua bergerak bersama, Bali masih sangat mungkin mempertahankan ketahanan pangannya meski menghadapi ancaman Godzilla El Nino,” pungkasnya. ama/ksm


Back to top button