Teknologi dan Otomotif

Bangkit dari Tekanan Aplikasi Asing, Sopir Lokal Canggu Bersatu di Bawah Tri Hita Trans, Desa Adat Ambil Alih Kendali Transportasi Bali


Badung, PancarPOS | Di tengah pusaran digitalisasi global dan tekanan aplikasi transportasi daring asing yang selama satu dekade terakhir menguasai denyut pergerakan wisatawan di Bali, sebuah arus balik perlahan menguat dari jantung pariwisata Canggu. Komunitas-komunitas transportasi lokal menyatakan sikap tegas: mereka siap bergabung, berkolaborasi, dan membangun ekosistem transportasi berbasis desa adat melalui platform Tri Hita Trans.

Deklarasi dukungan pada Sabtu (21/2/2026) malam itu, bukan sekadar manuver bisnis. Ia adalah refleksi panjang dari kegelisahan para sopir lokal yang merasa terpinggirkan di rumah sendiri. Di kawasan yang kini dipenuhi vila premium, beach club kelas dunia, restoran internasional, dan hunian digital nomad, para pengemudi tradisional justru menghadapi kenyataan pahit: ruang gerak menyempit, pelanggan berpindah ke aplikasi global, dan sistem komisi yang dianggap tidak berpihak pada kesejahteraan mereka.

Di sebuah pertemuan komunitas yang berlangsung hangat namun sarat makna, perwakilan Canggu Beach Transport (CBT), I Nengah Sudita, menyampaikan suara hati para sopir yang telah bertahun-tahun bergantung pada sektor ini. “Kami berdiri sejak 2009. Dulu anggota kami lebih dari 50 orang aktif. Order stabil, wisatawan datang langsung ke pos, dan kami bekerja dengan sistem kebersamaan. Tapi setelah aplikasi online masuk, pelan-pelan anggota kami berkurang. Banyak yang tidak sanggup bersaing dengan sistem harga dan potongan komisi,” ujar Sudita kepada PancarPOS.

Menurutnya, Tri Hita Trans menawarkan pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar platform pemesanan, tetapi sistem yang melibatkan desa adat sebagai bagian dari struktur ekosistem. “Yang membuat kami yakin adalah sistemnya jelas dan tidak memotong rezeki sopir terlalu besar. Desa adat dilibatkan, jadi ada kontrol sosial dan rasa memiliki. Ini bukan aplikasi luar yang hanya ambil untung lalu pergi,” tegasnya.

Canggu sebagai episentrum pariwisata modern Bali menjadi medan pertarungan paling nyata antara sistem tradisional dan teknologi global. Wisatawan kini terbiasa memesan kendaraan hanya dengan sentuhan layar. Diskon besar, promo agresif, dan sistem rating membuat aplikasi asing begitu dominan. Namun di balik kemudahan itu, muncul ketimpangan. Sopir lokal yang tidak terdaftar di aplikasi kehilangan pelanggan. Sementara yang bergabung pun harus menerima potongan komisi dan aturan ketat yang kadang tidak memahami konteks adat serta struktur wilayah Bali.

Gede Miasa dari komunitas Trinadi Pipitan Kayu Tulang Umabuluh menilai momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun konsolidasi menyeluruh. “Kita tidak bisa setengah-setengah. Sosialisasi harus sampai ke unit-unit kecil, ke pos JPB, Candi Beach, Tibubeneng, sampai Canggu. Kalau kita mau kuat, semua harus paham konsepnya,” kata Miasa. Ia menilai model Tri Hita Trans membuka peluang baru yang selama ini tidak pernah diberikan oleh platform global, yakni skema kepemilikan dan investasi berbasis website yang memungkinkan sopir memiliki saham atau bagian dalam sistem.

“Selama ini kita hanya mitra. Tidak punya suara dalam kebijakan. Dengan konsep kepemilikan ini, kita punya rasa memiliki. Kita tidak sekadar bekerja untuk aplikasi, tapi ikut membangun dan menikmati hasilnya,” ujarnya. Tak hanya aspek ekonomi, isu lingkungan juga menjadi sorotan utama. I Putu Gede Siarta dari Babakan Transport menegaskan bahwa masa depan transportasi Bali tidak bisa lepas dari transisi energi bersih. “Inovasi kendaraan listrik ini luar biasa. Kita dimudahkan mendapatkan unit mobil listrik dengan bunga rendah. Kalau ada charging station di jalur utama seperti ke Singaraja atau Karangasem, tentu sangat membantu operasional,” jelas Siarta.

Menurutnya, wisatawan mancanegara kini semakin peduli pada isu keberlanjutan. Bali sebagai destinasi global harus menunjukkan komitmen nyata terhadap transportasi ramah lingkungan. “Kalau kita bisa menawarkan layanan dengan mobil listrik, itu nilai tambah. Kita tidak hanya bicara tarif, tapi juga citra Bali sebagai destinasi hijau,” tambahnya. Tri Hita Trans sendiri dikembangkan oleh PT Sentrik Persada Nusantara. General Manager perusahaan tersebut, Pande Yuliasanjaya, menegaskan bahwa platform ini lahir dari kebutuhan riil pelaku lokal.

“Kami tidak ingin hanya menjadi ride-hailing biasa. Tri Hita Trans dibangun dengan filosofi Tri Hita Karana. Harmoni dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam harus tercermin dalam sistem operasional,” kata Pande. Ia menjelaskan bahwa harmoni dengan sesama diterjemahkan dalam sistem pembagian hasil yang lebih adil dan pelibatan koperasi serta desa adat. Harmoni dengan alam diwujudkan melalui dorongan penggunaan kendaraan listrik dan efisiensi operasional. Sementara harmoni dengan Tuhan tercermin dalam penghormatan terhadap adat dan nilai budaya lokal. “Kami juga sedang mendorong agar aplikasi ini berkembang ke sektor hotel, tiket wisata, dan ekonomi kerakyatan lainnya. Jadi ekosistemnya luas, tidak hanya transportasi,” jelasnya.

Pande menambahkan bahwa dukungan regulasi dari pemerintah daerah dan pemangku kebijakan menjadi faktor kunci agar sistem ini memiliki payung hukum kuat. “Kalau desa adat dan komunitas bersatu, daya tawar kita besar. Kita ingin aplikasi ini menjadi rumah bersama bagi driver lokal,” tegasnya. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah sopir menyampaikan pengalaman pribadi. Ada yang mengaku pendapatannya turun hingga 50 persen setelah wisatawan beralih ke aplikasi asing. Ada pula yang terpaksa menjual kendaraan karena cicilan tidak sanggup dibayar. “Saya pernah sehari hanya dapat satu order. Padahal dulu bisa tiga sampai lima trip. Biaya hidup naik, bensin naik, tapi pendapatan turun,” ungkap seorang sopir yang enggan disebut namanya.

Kondisi ini memunculkan kesadaran kolektif bahwa bertahan dengan pola lama bukan solusi. Namun menerima dominasi penuh platform global juga bukan pilihan ideal. Diperlukan model hibrida: digital, tetapi berakar pada nilai lokal. Tri Hita Trans mencoba menjawab kebutuhan itu. Sistemnya berbasis aplikasi digital dengan fitur pemesanan modern, tetapi kepemilikannya melibatkan unsur lokal. Desa adat tidak sekadar simbol, melainkan aktor yang memiliki peran dalam pengawasan dan distribusi manfaat. Selain itu, platform ini mendorong peningkatan kapasitas driver. Pelatihan bahasa asing, etika pelayanan, literasi digital, hingga pemahaman budaya Bali menjadi agenda penting. “Driver harus jadi duta budaya. Wisatawan sering bertanya soal pura, upacara, sejarah desa. Kalau kita bisa menjelaskan dengan baik, itu nilai tambah,” kata Sudita.

Menurutnya, kualitas layanan akan menjadi pembeda utama. Jika selama ini kompetisi hanya pada harga, maka ke depan harus bergeser ke kualitas dan identitas. Canggu sebagai kawasan internasional dapat menjadi laboratorium perubahan. “Kalau di Canggu berhasil, model ini bisa direplikasi ke Kuta, Ubud, Sanur, bahkan kawasan timur Bali,” ujarnya. Tri Hita Trans juga membuka peluang integrasi dengan koperasi desa. Skema pembagian keuntungan yang transparan diharapkan mampu memperkuat ekonomi krama desa. Di tengah dinamika tersebut, semangat solidaritas terasa kental. Para sopir menyadari bahwa tanpa persatuan, mereka akan terus terpecah dan lemah menghadapi korporasi global bermodal besar. “Kita jangan saling sikut. Kalau bersatu, kita kuat. Kalau sendiri-sendiri, habis kita,” ujar Miasa menutup diskusi.

Momentum ini menjadi titik balik penting. Bali dikenal sebagai pulau yang mampu menyerap modernitas tanpa kehilangan identitas. Kini sektor transportasi memasuki fase pembuktian. Apakah Tri Hita Trans mampu menjadi model transportasi berkelanjutan berbasis desa adat? Jalan masih panjang. Tantangan teknologi, modal, hingga perubahan perilaku konsumen menanti. Namun satu hal tak terbantahkan: kesadaran kolektif telah tumbuh. Sopir lokal tidak lagi sekadar bertahan. Mereka mulai merancang masa depan sendiri, dengan teknologi sebagai alat, bukan tuan. Di bawah panji Tri Hita Trans, mereka berharap kesejahteraan tidak lagi menjadi wacana, melainkan realitas. Bahwa di tanah Bali, modernitas dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan, membangun ekosistem transportasi yang adil, hijau, dan berakar pada nilai budaya. ama/ksm


Back to top button