Daerah

Terobosan Radikal Anak Muda Gianyar! Teknologi Jepang Tanpa Asap Siap Ubah Wajah Krisis Sampah Bali

Denpasar, PancarPOS | Pemerintah Provinsi Bali kini benar benar tancap gas dalam menuntaskan persoalan klasik yang kian mendesak: krisis sampah. Langkah strategis itu diwujudkan melalui percepatan pembangunan infrastruktur Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik PSEL di kawasan TPA Suwung, Pesanggaran, yang digadang gadang menjadi solusi permanen bagi persoalan sampah perkotaan di Bali.

Proyek PSEL ini bukan sekadar proyek biasa. Ia masuk dalam tujuh proyek prioritas nasional yang dirancang untuk mentransformasi sampah menjadi energi bersih, sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ketahanan energi secara simultan. Dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.000 ton sampah per hari, fasilitas ini akan menampung dan mengelola sampah dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung dua wilayah dengan volume sampah tertinggi di Bali.

Kolaborasi lintas daerah antara Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar, dan Pemerintah Kabupaten Badung menjadi fondasi utama dalam percepatan proyek ini. Sinergi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak lagi bisa ditangani secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan terintegrasi dan berbasis teknologi.

Made Hiroki, pengusaha muda Bali pemilik Aksara Property. (foto: ist)

Di tengah upaya besar pemerintah, muncul sebuah terobosan yang justru datang dari sektor swasta, bahkan dari generasi muda Bali sendiri. Made Hiroki, pengusaha muda asal Gianyar yang bergerak di bawah bendera Aksara Cristy Legal, tampil membawa gagasan inovatif yang berpotensi menjadi game changer dalam pengelolaan sampah di Pulau Dewata.

Hiroki secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap pembangunan PSEL di TPA Suwung. Namun lebih dari itu, ia menghadirkan solusi alternatif berbasis teknologi Jepang yang diklaim mampu mengolah sampah tanpa menghasilkan asap, sebuah klaim yang jika terbukti akan menjawab kekhawatiran publik terkait dampak lingkungan dari teknologi pengolahan sampah konvensional.

Teknologi yang diperkenalkan tersebut dinamakan Propolis, sebuah mesin pengolah sampah berbasis inovasi Jepang yang dikembangkan dengan pendekatan ramah lingkungan. Untuk memperkuat kredibilitas teknologi ini, Hiroki bahkan menghadirkan langsung ahli dari Jepang untuk memaparkan cara kerja dan keunggulan sistem tersebut.

Sebagai langkah konkret, Made Hiroki akan menggelar pertemuan penting pada hari Jumat pukul 13.00 WITA di Pamela Restaurant Renon. Dalam agenda tersebut, ia akan mengundang Gubernur Bali, Wakil Gubernur Bali, Wali Kota Denpasar, Bupati Badung, serta sejumlah pejabat daerah se Bali untuk melihat langsung demonstrasi dan pemaparan teknologi Propolis.

Langkah ini bukan sekadar presentasi bisnis, melainkan upaya membangun kepercayaan publik dan pemerintah terhadap inovasi lokal yang mengadopsi teknologi global. Hiroki menegaskan bahwa solusi sampah di Bali tidak bisa hanya bergantung pada proyek besar pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif sektor swasta dan masyarakat.

Made Hiroki angkat bicara secara terbuka menyusul viralnya unggahan di media sosial. (foto: ist)

Kehadiran inovasi ini sekaligus menjadi simbol bahwa anak muda Bali tidak tinggal diam melihat persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Dengan keberanian, visi, dan akses terhadap teknologi global, generasi baru mulai mengambil peran strategis dalam menentukan arah masa depan Bali.

Di tengah tekanan volume sampah yang terus meningkat, langkah langkah progresif seperti ini menjadi harapan baru. Jika kolaborasi antara pemerintah dan inovator lokal seperti Made Hiroki dapat terjalin dengan kuat, bukan tidak mungkin Bali akan menjadi model nasional bahkan internasional dalam pengelolaan sampah berbasis energi bersih. ang/ama/ksm/kel

Back to top button