Daerah

Awal Tahun 2026, Gubernur Koster Kumpulkan Media:  100 Tahun Haluan Bali Tak Boleh Gagal


Denpasar, PancarPOS | Gubernur Bali Wayan Koster mengawali tahun 2026 dengan langkah yang sarat makna politik, budaya, dan arah pembangunan jangka panjang Bali. Bertempat di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Minggu (4/1/2026) sore, Gubernur Bali dua periode ini menggelar jumpa ramah tamah bersama insan media dan wartawan dari berbagai platform, baik cetak, elektronik, maupun media siber. Pertemuan yang berlangsung hangat sejak pukul 17.00 WITA ini menjadi pertemuan resmi pertama Gubernur Koster dengan awak media di tahun 2026.

Dalam suasana dialogis yang cair namun sarat substansi, Gubernur Koster secara terbuka menyampaikan pandangan, refleksi, sekaligus penegasan arah kebijakan strategis Pemerintah Provinsi Bali ke depan, khususnya terkait komitmen besar “100 Tahun Haluan Bali” sebagai peta jalan pembangunan Bali berkelanjutan berbasis budaya, adat, dan kearifan lokal.

Gubernur Koster hadir mengenakan busana merah, berdiri di hadapan para jurnalis dengan latar ornamen khas Bali yang artistik, mencerminkan identitas budaya yang selama ini menjadi roh utama kebijakan pembangunannya. Dengan gaya komunikasi lugas dan tegas, Koster menekankan bahwa 100 Tahun Haluan Bali bukan sekadar dokumen kebijakan, melainkan visi besar yang harus dijalankan secara konsisten lintas generasi.

“Haluan Bali ini dirancang untuk 100 tahun ke depan. Ini bukan program jangka pendek, bukan juga sekadar jargon politik. Ini adalah arah besar agar Bali tetap ajeg, berdaulat secara budaya, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” tegas Koster di hadapan awak media.

Ia menjelaskan bahwa konsep 100 Tahun Haluan Bali merupakan kristalisasi dari berbagai regulasi strategis yang telah dikeluarkan selama kepemimpinannya, mulai dari Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, Pergub tentang Pelindungan Kebudayaan Bali, hingga kebijakan pembangunan ekonomi kerthi Bali yang menempatkan manusia, alam, dan budaya sebagai satu kesatuan tak terpisahkan.

Menurut Koster, tantangan terbesar dari visi besar tersebut bukan pada perumusan konsep, melainkan pada konsistensi implementasi. Oleh karena itu, ia secara khusus meminta peran aktif media sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengawal, mengawasi, sekaligus menyosialisasikan kebijakan agar dipahami secara utuh oleh masyarakat.

“Saya sangat berharap dukungan media. Tanpa media, program sebesar apa pun akan sulit dipahami masyarakat. Media punya peran strategis untuk menjelaskan, mengedukasi, sekaligus mengkritisi secara konstruktif agar arah pembangunan Bali tidak melenceng,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Koster juga menyampaikan pesan dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang disebutnya memberikan perhatian serius terhadap keberlanjutan Bali sebagai daerah dengan kekhasan budaya yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, bahkan di dunia. “Bu Mega berpesan agar Haluan Bali ini benar-benar dijalankan,” ungkap Koster.

Ia menambahkan, dukungan politik dari PDI Perjuangan menjadi faktor penting dalam memastikan kebijakan pro-Bali dapat berjalan konsisten, terutama di tengah tekanan globalisasi, kapitalisasi pariwisata, dan arus investasi yang sering kali mengabaikan aspek keberlanjutan.

Dalam dialog bersama wartawan, Gubernur Koster juga menyinggung pentingnya reformasi pariwisata Bali agar tidak lagi semata-mata berorientasi pada kuantitas wisatawan, tetapi kualitas dan dampak ekonomi yang adil bagi krama Bali. Ia menegaskan bahwa pariwisata Bali ke depan harus berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat.

“Pariwisata massal sudah terbukti menimbulkan banyak masalah, mulai dari kemacetan, sampah, alih fungsi lahan, sampai degradasi nilai budaya. Kita harus berani melakukan koreksi. Ini tidak populer, tapi harus dilakukan demi Bali jangka panjang,” kata Gubernur Koster.

Ia menyadari bahwa kebijakan penataan pariwisata, termasuk penertiban usaha ilegal dan penguatan regulasi wisatawan mancanegara, kerap menuai kritik. Namun, menurutnya, kritik tersebut adalah bagian dari dinamika demokrasi yang sehat selama tetap berbasis data dan niat baik untuk Bali.

Pertemuan ramah tamah ini juga menjadi ruang refleksi bagi Gubernur Koster atas perjalanan kepemimpinannya selama dua periode. Ia mengakui bahwa tidak semua kebijakan berjalan mulus, terutama saat Bali dihantam pandemi Covid-19 yang memukul sektor pariwisata hingga ke titik nadir. Namun, dari krisis tersebut, Bali belajar pentingnya diversifikasi ekonomi dan ketahanan daerah. “Kita belajar banyak dari pandemi. Bali tidak boleh bergantung pada satu sektor saja. Pertanian, UMKM, industri kreatif, dan ekonomi berbasis desa adat harus diperkuat,” jelasnya.

Di hadapan insan pers, Koster menekankan bahwa tahun 2026 menjadi fase penting untuk memastikan kesinambungan kebijakan strategis Bali pasca kepemimpinannya. Ia menyebut bahwa Haluan Bali harus menjadi pegangan siapa pun pemimpin Bali ke depan, agar pembangunan tidak berubah-ubah setiap pergantian kepala daerah. “Haluan Bali ini harus dijaga bersama,” tegasnya.

Para wartawan yang hadir menyambut baik keterbukaan Gubernur Koster dalam forum tersebut. Sejumlah isu aktual turut mengemuka dalam sesi dialog, mulai dari penataan transportasi, pengendalian alih fungsi lahan, penguatan desa adat, hingga peran media di era disrupsi digital dan maraknya informasi tidak terverifikasi.

Menanggapi hal itu, Gubernur Koster mengajak media untuk tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik, akurasi, dan keberimbangan dalam pemberitaan. Ia menilai, di tengah derasnya arus informasi digital, media arus utama memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penjaga nalar publik. “Media sekarang diuji. Saya percaya wartawan Bali punya integritas,” katanya.

Acara ramah tamah ini berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Selain dialog serius, pertemuan juga diwarnai canda ringan dan kebersamaan, mencerminkan hubungan yang relatif terbuka antara Pemerintah Provinsi Bali dan insan pers.

Pertemuan perdana di awal tahun 2026 ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Gubernur Koster menempatkan media sebagai mitra strategis dalam mengawal arah besar Bali ke depan. Dengan 100 Tahun Haluan Bali sebagai kompas, Koster berharap seluruh elemen, termasuk pers, akademisi, tokoh adat, dan masyarakat luas, dapat berjalan seirama menjaga Bali tetap ajeg, lestari, dan bermartabat di tengah perubahan zaman. ama/ksm/*


Back to top button