Daerah

Gubernur Koster Yakin Bali Jadi Laboratorium Dunia, Kearifan Lokal Pertanian Berbasis Budaya


Denpasar, PancarPOS | Gubernur Bali, Wayan Koster, meyakini Bali memiliki potensi besar menjadi laboratorium dunia dalam pengembangan kearifan lokal berbasis pertanian dan budaya. Keyakinan itu didasarkan pada kekayaan tradisi pertanian Bali yang hingga kini masih menyatu dengan nilai adat, budaya, dan spiritual masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Kantor Gubernur Bali, Kamis (2/7/2026).

Menurut Koster, sistem pertanian Bali memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain karena setiap proses bercocok tanam selalu diiringi nilai-nilai budaya, mulai dari pembibitan, pengairan, pemeliharaan hingga panen.

“Di Bali, bertani bukan sekadar menanam. Ada upacara dan upakara yang mengiringi mulai dari pembibitan, pengairan hingga panen. Semua itu menjadi satu kesatuan budaya yang hanya dimiliki Bali,” ujarnya.

Ia menjelaskan kekayaan budaya tersebut menjadikan sistem pertanian Bali memiliki dimensi sosial, spiritual, dan ekologis yang sangat kuat. Kondisi itu menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Bali di tengah perubahan global yang semakin menghargai nilai-nilai lokal dan pembangunan berkelanjutan.

Koster mengungkapkan konsep pertanian berbasis budaya Bali bahkan telah dipresentasikannya dalam forum internasional di London. Salah satu yang mendapat perhatian adalah keberadaan Peraturan Daerah tentang Pertanian Organik yang disebut sebagai regulasi pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mengatur pengembangan pertanian organik secara menyeluruh.

Menurutnya, masyarakat dunia kini mulai kembali mencari identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi. Bali dinilai berada pada posisi yang menguntungkan karena sejak lama telah memiliki jati diri yang kuat melalui adat, tradisi, dan budaya yang tetap hidup dalam kehidupan masyarakat.

“Kita di Bali tidak perlu lagi mencari jati diri karena sudah memilikinya sejak dahulu. Tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali,” tegas Koster.

Ia berharap kalangan akademisi, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dapat terus bersinergi mengembangkan sistem pertanian berbasis budaya sebagai kekuatan pembangunan Bali sekaligus referensi bagi dunia dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. mas/ama/*


Back to top button