Nasional

Tersus LNG di Desa Adat Sidakarya Kebutuhan Pulau Dewata, Lolak: Lokasi Lain Tidak Efisien


Denpasar, PancarPOS | Rencana terminal khusus (Tersus) atau tempat penampungan Liquid Natural Gas (LNG) di wilayah Desa Adat Sidakarya mendapat respon positif berbagai kalangan agar bisa dilanjutkan dan dipercepat. Karena Kota Denpasar menjadi tempat yang paling ideal dari kabupaten/kota di Bali lainnya. Hal itu ditegaskan mantan Anggota DPD RI Perwakilan Bali dua periode I Kadek Arimbawa belum lama ini. Meskipun aksi penolakan belum berkesudahan, akan lebih baik agar pembangunan terminal khusus (Tersus) gas alam cair tersebut segera diwujudkan, dari pada ditawarkan ke kabupaten-kabupaten lain di Bali.

Pembangunan infrastruktur terminal gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di Desa Sidakarya. (foto: ist)

“Jika tidak bisa atau terjadi penolakan, sekiranya coba ditawarkan ke Kabupaten Klungkung, Buleleng atau Karangasem, misalnya,” sentil Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Bali itu, karena itu ia menyebut bahwa pembangunan Terminal LNG atau liquefied natural gas ini adalah kebutuhan bagi Pulau Dewata, sehingga mau tak mau harus bisa diwujudkan. “Karena Bali harus mandiri dalam hal penyediaan energi, khususnya energi bersih. Lagi pula kita tak boleh bergantung pada pasokan energi dari Jawa,” tegas politisi kelahiran Desa Kamasan, Klungkung yang biasa dikenal Lolak tersebut.

Tapi Lolak menambahkan kalau dibilang lokasi ideal, maka Kota Denpasar sebagai ibu kota provinsi sekaligus pusat bisnis dan memiliki jumlah penduduk yang padat, adalah lokasi yang tepat. “Kebutuhan energi listrik relatif lebih tinggi, sekaligus menjadi penyangga bagi Badung dan Gianyar,” ujarnya. Hanya saja lokasi ideal ini ini lahah seakan-akan ditolak oleh desa adat lain, yakni Desa Adat Intaran yang sebenarnya jauh dan tidak menjadi lokasi proyek tersebut. Sehingga jika ingin mengajukan kabupaten lain bisa menjadi pengganti akan menjadi tidak efisien.

Terminal LNG di kawasan Sidakarya ini merupakan upaya untuk mewujudkan ketahanan energi nasional, utamanya dalam memenuhi kebutuhan listrik di Bali. (foto: ist)

“Memang menjadi tidak efisien terkait lokasi, namun karena menjadi kebutuhan, maka perlu solusi agar tercapai keterwujudan pembangunan terminal LNG dimaksud,” tambah sosok pelawak terkenal itu. Diketahui, isu transisi energi hangat menjadi pembicaraan pemimpin dunia. Bahkan dalam ajang KTT G7 yang dihadiri Presiden Jokowi pun topik yang dibahas yakni perubahan iklim, energi, dan kesehatan. Untuk itu, kemandirian energi yang bersih bagi Palau Dewata semakin diperlukan. Untuk itulah Bali memerlukan energi bersih yaitu LNG (Liquifiied Natural Gas) Sidakarya yang dilengkapi dengan terminal.

Dimana perencanaan terminal tersebut dibangun Lokasi di di blok khusus kawasan Tahura I Gusti Ngurah Rai. Kehadiran terminal tersebut nantinya mendukung kemandirian energi Bali dan pariwisata yang ramah lingkungan. beban puncak kelistrikan Bali mengalami penurunan yang signifikan dari 900 MW menjadi 600 MW selama pandemik. Namun ketersediaan kelistrikan Bali akan mengalami rebound dalam kurun 1 sampai 2 tahun ke depan. Sehingga perlu menyiapkan kapasitas dan daya mampu kelistrikan Bali dengan tepat.

Relokasi Terminal LNG di kawasan Sidakarya. (foto;: ist)

Mengingat Bali tidak memiliki Sumber Daya Alam dan Mineral untuk pembangkit listrik, sehingga diperlukan kerja sama kelistrikan dengan membangun berbagai insfrastruktur penunjang. Selain benefit, kerja sama kelistrikan ini diharapkan juga mendatangkan profit untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kebutuhan Bali akan energi jelas akan semakin bertambah, hal tersebut dikarenakan populasi yang semakin meningkat, sejalan dengan kebutuhan energi, maka Bali harus menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan seperti halnya LNG (Liquifiied Natural Gas) yang dilengkapi dengan terminal. Dimana perencanaan terminal tersebut dibangun di luar kawasan mangrove. ama/ksm


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button