Nasional

Fenomena Terbakarnya Ogoh-Ogoh, Refleksi atas Penyimpangan Tradisi Sakral


Denpasar, PancarPOS | Menjelang Hari Raya Nyepi, tradisi pengerupukan di Bali identik dengan arak-arakan ogoh-ogoh yang melambangkan penetralisiran unsur negatif. Namun, belakangan ini, terjadi fenomena di mana ogoh-ogoh terbakar sebelum atau saat hari pengerupukan, menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat adat dan pemerhati budaya.

Salah satu insiden terjadi di Banjar Wangaya Klod, Denpasar, di mana ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna (ST) Suralaga ludes terbakar pada Minggu (23/3/2025) sore, lima hari sebelum malam pengerupukan. Kebakaran diduga akibat percikan api dari mesin las saat proses penyesuaian tinggi ogoh-ogoh. Meskipun telah dilakukan upaya pencegahan dengan membasahi bagian luar dan dalam ogoh-ogoh, api tetap menyambar dan menghanguskan karya seni tersebut.

Tradisi ogoh-ogoh sejatinya memiliki nilai sakral yang erat kaitannya dengan ritual Nyepi. Ogoh-ogoh dibuat sebagai simbol Bhuta Kala, kekuatan negatif yang harus dinetralisir. Puncak dari tradisi ini adalah arak-arakan ogoh-ogoh pada malam pengerupukan, sehari sebelum Nyepi, yang kemudian diakhiri dengan pembakaran sebagai simbol pemusnahan energi negatif.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran makna di mana ogoh-ogoh tidak hanya diarak pada malam pengerupukan, tetapi juga dalam berbagai festival sebelum Nyepi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan penyimpangan dari filosofi asli tradisi tersebut. Beberapa pihak mengkritik waktu pementasan yang tidak sesuai dengan Hari Pengerupukan, yang seharusnya menjadi momen utama arak-arakan ogoh-ogoh.

Fenomena terbakarnya ogoh-ogoh sebelum atau saat pengerupukan ini memicu refleksi mendalam di kalangan masyarakat Bali. Banyak yang melihat kejadian ini sebagai tanda bahwa tradisi sakral tidak boleh diselewengkan atau dijadikan sekadar hiburan tanpa memahami makna dan filosofi di baliknya. Penyimpangan dari pakem tradisi diyakini dapat membawa konsekuensi yang tidak diinginkan, baik secara spiritual maupun sosial.

Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen masyarakat Bali untuk kembali memahami dan menghormati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi ogoh-ogoh. Melestarikan tradisi sesuai dengan filosofi aslinya tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memastikan keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. ama/ama


Back to top button