Daerah

Kolaborasi Tri Hita Trans dan Desa Adat Perkuat Posisi Sopir Lokal Bali di Tengah Persaingan Global


Badung, PancarPOS | Kehadiran platform digital baru bernama Tri Hita Trans besutan PT Sentrik Persada Nusantara mulai dirasakan manfaatnya oleh para pengemudi transportasi pariwisata di Bali, khususnya yang beroperasi di sekitar Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Platform ini tidak hanya menawarkan sistem operasional berbasis aplikasi, tetapi juga mengedepankan kolaborasi strategis dengan Desa Adat sebagai fondasi penguatan ekosistem transportasi lokal.

Salah satu yang merasakan langsung dampaknya adalah Wayan Agus Prima Mahendra, Supir Transportasi Koka. Ia mengaku aplikasi Tri Hita Trans memberi harapan baru bagi para driver yang selama ini bergelut dengan tingginya biaya operasional dan potongan aplikasi yang dinilai memberatkan.

“Konsepnya bagus karena kita pakai kerja sama Desa Adat, yang mana di Bali sangat kuat. Selama ini kendala di bandara itu harga mobil mahal, sementara potongan aplikasi lain cukup besar. Kadang dapat sedikit, kadang tidak dapat sama sekali. Saya berharap Tri Hita Trans ini menjadi solusi agar para driver bisa mendapatkan penghasilan yang lebih konsisten dan transparan,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis (26/2/2026).

Menurut Agus, persoalan utama driver bandara bukan hanya persaingan ketat, tetapi juga ketidakpastian pendapatan. Dalam sehari, penghasilan bisa fluktuatif, sementara biaya cicilan kendaraan, bahan bakar, hingga perawatan tetap berjalan. Skema bagi hasil yang lebih adil di Tri Hita Trans menjadi salah satu daya tarik utama yang membuatnya tertarik bergabung.

Momentum Soft Launching Tri Hita Trans menjadi penanda awal penguatan peran BUPDA dalam pengelolaan transportasi digital di Bali. (foto: tra)

Selain menawarkan sistem pembagian hasil yang dinilai lebih proporsional, Tri Hita Trans juga memfasilitasi para pengemudi untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Fasilitas ini menjadi angin segar, terutama bagi driver yang ingin memiliki kendaraan sendiri atau memperbaiki armada agar tetap layak operasional.

Agus mengaku sebelumnya tidak pernah berurusan dengan perbankan. Minimnya pengalaman dan kekhawatiran soal proses administrasi membuatnya ragu. Namun melalui pendampingan dari manajemen Tri Hita Trans, proses pengajuan KUR menjadi lebih mudah dan cepat.

“Proses pengajuan KUR yang dibantu oleh pihak Tri Hita Trans tergolong cepat dan tidak menyulitkan. Hanya membutuhkan dokumen dasar seperti KTP dan Kartu Keluarga. Tenor panjang tersedia hingga lima tahun. Syarat utama memiliki riwayat kredit yang bersih. Saya belum pernah berurusan dengan bank sebelumnya. Tapi karena dibantu prosesnya, akhirnya lolos KUR dengan bunga rendah. Sangat membantu untuk operasional harian,” jelasnya.

Skema pembiayaan dengan bunga ringan dan tenor panjang tersebut memberikan ruang napas bagi para driver untuk mengatur arus kas. Dengan cicilan yang terukur, mereka bisa fokus meningkatkan kualitas layanan kepada wisatawan tanpa dibayangi tekanan finansial berlebihan.

Lebih dari sekadar aplikasi transportasi, Tri Hita Trans dinilai membawa pendekatan berbeda karena menempatkan Desa Adat sebagai mitra strategis. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat legitimasi operasional di tingkat lokal, tetapi juga memastikan adanya kontribusi sosial bagi komunitas adat setempat.

Aplikasi Tri Hita sebagai platform transportasi hijau berbasis desa adat yang terintegrasi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelindo Benoa. (foto: ist)

Model kemitraan berbasis komunitas ini dianggap selaras dengan karakter Bali yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kearifan lokal. Sinergi antara teknologi digital dan struktur sosial Desa Adat diharapkan mampu menciptakan sistem transportasi yang lebih tertib, adil, dan berkelanjutan.

Bagi para supir pariwisata, terutama yang beroperasi di kawasan bandara, kehadiran Tri Hita Trans menjadi alternatif baru di tengah dinamika industri transportasi online yang semakin kompetitif. Harapannya, dengan sistem yang lebih transparan, dukungan akses perbankan, serta kolaborasi berbasis budaya, kesejahteraan driver lokal bisa meningkat tanpa harus meninggalkan akar sosial dan tradisi Bali.

Di tengah geliat pariwisata yang terus bergerak, sinergi antara platform digital dan Desa Adat ini menjadi sinyal bahwa transformasi teknologi tidak harus berbenturan dengan budaya. Justru, ketika keduanya berjalan beriringan, yang diuntungkan bukan hanya perusahaan atau pengguna jasa, tetapi juga para driver sebagai tulang punggung layanan transporSinergi Tri Hita Trans dan Desa Adat: Angin Segar bagi Supir Pariwisata di Bali

BADUNG – Kehadiran platform digital baru bernama Tri Hita Trans besutan PT Sentrik Persada Nusantara mulai dirasakan manfaatnya oleh para pengemudi transportasi pariwisata di Bali, khususnya yang beroperasi di sekitar Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Platform ini tidak hanya menawarkan sistem operasional berbasis aplikasi, tetapi juga mengedepankan kolaborasi strategis dengan Desa Adat sebagai fondasi penguatan ekosistem transportasi lokal.

Salah satu yang merasakan langsung dampaknya adalah Wayan Agus Prima Mahendra, Supir Transportasi Koka. Ia mengaku aplikasi Tri Hita Trans memberi harapan baru bagi para driver yang selama ini bergelut dengan tingginya biaya operasional dan potongan aplikasi yang dinilai memberatkan.

“Konsepnya bagus karena kita pakai kerja sama Desa Adat, yang mana di Bali sangat kuat. Selama ini kendala di bandara itu harga mobil mahal, sementara potongan aplikasi lain cukup besar. Kadang dapat sedikit, kadang tidak dapat sama sekali. Saya berharap Tri Hita Trans ini menjadi solusi agar para driver bisa mendapatkan penghasilan yang lebih konsisten dan transparan,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis (26/2/2026).

Menurut Agus, persoalan utama driver bandara bukan hanya persaingan ketat, tetapi juga ketidakpastian pendapatan. Dalam sehari, penghasilan bisa fluktuatif, sementara biaya cicilan kendaraan, bahan bakar, hingga perawatan tetap berjalan. Skema bagi hasil yang lebih adil di Tri Hita Trans menjadi salah satu daya tarik utama yang membuatnya tertarik bergabung.

Aplikasi Tri Hita sebagai platform transportasi hijau berbasis desa adat yang terintegrasi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelindo Benoa. (foto: ist)

Selain menawarkan sistem pembagian hasil yang dinilai lebih proporsional, Tri Hita Trans juga memfasilitasi para pengemudi untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Fasilitas ini menjadi angin segar, terutama bagi driver yang ingin memiliki kendaraan sendiri atau memperbaiki armada agar tetap layak operasional.

Agus mengaku sebelumnya tidak pernah berurusan dengan perbankan. Minimnya pengalaman dan kekhawatiran soal proses administrasi membuatnya ragu. Namun melalui pendampingan dari manajemen Tri Hita Trans, proses pengajuan KUR menjadi lebih mudah dan cepat.

“Proses pengajuan KUR yang dibantu oleh pihak Tri Hita Trans tergolong cepat dan tidak menyulitkan. Hanya membutuhkan dokumen dasar seperti KTP dan Kartu Keluarga. Tenor panjang tersedia hingga lima tahun. Syarat utama memiliki riwayat kredit yang bersih. Saya belum pernah berurusan dengan bank sebelumnya. Tapi karena dibantu prosesnya, akhirnya lolos KUR dengan bunga rendah. Sangat membantu untuk operasional harian,” jelasnya.

Skema pembiayaan dengan bunga ringan dan tenor panjang tersebut memberikan ruang napas bagi para driver untuk mengatur arus kas. Dengan cicilan yang terukur, mereka bisa fokus meningkatkan kualitas layanan kepada wisatawan tanpa dibayangi tekanan finansial berlebihan.

Lebih dari sekadar aplikasi transportasi, Tri Hita Trans dinilai membawa pendekatan berbeda karena menempatkan Desa Adat sebagai mitra strategis. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat legitimasi operasional di tingkat lokal, tetapi juga memastikan adanya kontribusi sosial bagi komunitas adat setempat.

Model kemitraan berbasis komunitas ini dianggap selaras dengan karakter Bali yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kearifan lokal. Sinergi antara teknologi digital dan struktur sosial Desa Adat diharapkan mampu menciptakan sistem transportasi yang lebih tertib, adil, dan berkelanjutan.

Bagi para supir pariwisata, terutama yang beroperasi di kawasan bandara, kehadiran Tri Hita Trans menjadi alternatif baru di tengah dinamika industri transportasi online yang semakin kompetitif. Harapannya, dengan sistem yang lebih transparan, dukungan akses perbankan, serta kolaborasi berbasis budaya, kesejahteraan driver lokal bisa meningkat tanpa harus meninggalkan akar sosial dan tradisi Bali.

Di tengah geliat pariwisata yang terus bergerak, sinergi antara platform digital dan Desa Adat ini menjadi sinyal bahwa transformasi teknologi tidak harus berbenturan dengan budaya. Justru, ketika keduanya berjalan beriringan, yang diuntungkan bukan hanya perusahaan atau pengguna jasa, tetapi juga para driver sebagai tulang punggung layanan transportasi pariwisata di Pulau Dewata.tasi pariwisata di Pulau Dewata. tra/ama/ksm


Back to top button