Wagub Giri Prasta Tegaskan Imlek Jadi Energi Besar Pembangunan Bali Era Baru
Harmoni Tionghoa dan Bali Menggelora di Sanur

Denpasar, PancarPOS | Gelombang harmoni lintas budaya kembali ditegaskan di Pulau Dewata. Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali yang digelar di Hongkong Garden, Sanur, Denpasar, Jumat (20/2/2026). Dalam momentum yang sarat makna itu, Giri Prasta membacakan sambutan Gubernur Bali Wayan Koster yang menegaskan bahwa relasi Tionghoa dan Bali bukan sekadar sejarah, melainkan fondasi kuat pembangunan Bali ke depan.
Dalam sambutan tertulisnya, Gubernur Koster menekankan bahwa hubungan kekerabatan antara masyarakat Tionghoa dan Bali telah terjalin ratusan tahun lamanya. Ikatan itu bukan hubungan simbolik, melainkan akulturasi yang hidup, tumbuh, dan berakar dalam sendi-sendi budaya Bali.
“Akulturasi budaya Tionghoa dan Bali dapat kita lihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari arsitektur pura, penggunaan pis bolong dalam upacara, seni, hingga tradisi dan kuliner. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa napas kebersamaan telah tumbuh dan menyatu dalam harmoni,” tegas Giri Prasta saat membacakan pesan gubernur.
Pernyataan tersebut bukan retorika kosong. Dalam sejarah panjang Bali, pengaruh Tionghoa tampak jelas pada ornamen arsitektur, ragam hias, hingga simbol-simbol spiritual yang digunakan dalam praktik keagamaan Hindu Bali. Pis bolong, misalnya, menjadi salah satu bukti konkret akulturasi yang tidak pernah dipersoalkan, justru dipelihara sebagai kekayaan bersama.
INTI Bali dalam konteks ini dinilai memegang peran strategis. Organisasi tersebut tidak hanya menjadi wadah komunitas Tionghoa, tetapi juga jembatan kebangsaan yang memperkuat persatuan dalam bingkai NKRI. Semangat ini dinilai sejalan dengan visi Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru yang tengah dijalankan Pemerintah Provinsi Bali.
Tema perayaan tahun ini, “Satu Langkah, Banyak Warna, Merajut Kebersamaan”, disebut sangat relevan dengan kondisi sosial Indonesia saat ini. Bali, sebagai miniatur Indonesia, telah membuktikan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan energi kolektif.
“Tidak ada mayoritas atau minoritas. Yang ada adalah kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar Indonesia,” tegasnya lantang.
Momentum Imlek, lanjutnya, tidak boleh berhenti pada seremoni budaya. Ia harus menjadi titik tolak penguatan sinergi dalam tiga pilar utama: memperkuat ekonomi kerakyatan melalui kolaborasi dengan UMKM, menjaga stabilitas sosial berbasis toleransi, serta mengawal visi 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125 sebagai arah pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan.
Ketua INTI Bali, Putu Agung Prianta, dalam sambutannya mengingatkan bahwa Imlek adalah refleksi sekaligus komitmen.
“Indonesia tidak dibangun oleh satu warna, melainkan oleh keberanian banyak warna untuk berjalan bersama,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa relasi Tionghoa dan Bali telah terjalin sejak era Dinasti Tang. Salah satu kisah yang kerap dirujuk adalah perkawinan raja Bali dengan putri Tiongkok, Kang Ching Wie, yang menjadi simbol awal akulturasi budaya. Jejaknya masih terasa hingga kini, baik dalam ornamen bangunan, praktik sosial, maupun tradisi kuliner.
Memasuki Tahun Kuda Api, ia menyebut simbol kuda melambangkan gairah, energi, kecepatan, dan kemandirian. Semangat itu, menurutnya, harus diterjemahkan dalam nasionalisme yang inklusif dan kolaboratif.
Sementara itu, Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Zhang Zhisheng, menegaskan bahwa Tiongkok dan Indonesia adalah dua negara berkembang utama sekaligus kekuatan penting di kawasan Global Selatan.
Ia memaparkan bahwa hubungan bilateral kedua negara terus menunjukkan tren positif. Total perdagangan bilateral pada 2025 mencapai USD 167,5 miliar atau meningkat 13,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia ke Tiongkok tercatat USD 82,2 miliar, naik 15,6 persen.
Di sektor pariwisata, 1,34 juta wisatawan Tiongkok daratan berkunjung ke Indonesia sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, 537.000 wisatawan memilih Bali sebagai destinasi, meningkat 19 persen dibandingkan 2024. Angka ini menunjukkan Bali tetap menjadi magnet utama wisatawan Tiongkok.
“Kami berharap kerja sama pragmatis di berbagai bidang akan berkembang lebih cepat dan lebih baik di Tahun Kuda, seperti kuda yang berlari kencang,” ujarnya optimistis.
Perayaan Imlek bersama INTI Bali berlangsung meriah dan penuh simbol. Salah satu prosesi yang paling dinanti adalah yu sheng, tradisi mengaduk sayur bersama yang melambangkan doa akan rezeki melimpah dan kemakmuran. Para tamu undangan serentak mengangkat sumpit tinggi-tinggi saat mengaduk, simbol harapan agar keberuntungan meningkat setinggi-tingginya.
Atraksi barongsai dan liong yang energik mengguncang ruangan, disambut tepuk tangan meriah para undangan. Tarian tradisional Tionghoa dan alunan musik oriental mempertegas nuansa perayaan. Dominasi warna merah dan emas menghadirkan suasana hangat, penuh optimisme, dan keyakinan akan masa depan yang lebih baik.
Lebih dari sekadar perayaan tahun baru, Imlek bersama INTI Bali menjadi panggung penegasan bahwa harmoni bukan slogan kosong. Ia adalah praktik hidup sehari-hari yang telah teruji oleh sejarah panjang Bali.
Di tengah tantangan global dan dinamika sosial yang terus berubah, pesan yang mengemuka di Sanur malam itu jelas: keberagaman adalah kekuatan. Dan Bali, dengan segala akulturasinya, telah membuktikan bahwa persaudaraan lintas etnis bukan hanya mungkin, tetapi menjadi fondasi kokoh menuju masa depan Bali Era Baru. mas/ama/*









