Krama Bernapas Lega, Desa Adat Ungasan Gelar Ngaben Hingga Metatah Massal Gratis Ringankan Beban Biaya

Badung, PancarPOS | Di saat banyak keluarga di Bali harus memutar otak karena biaya upacara adat yang terus melonjak, Desa Adat Ungasan di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung justru menghadirkan solusi nyata yang membuat ribuan krama merasa lega. Desa adat ini kembali menggelar upacara massal Nyawa Wedana Utama–Atma Wedana (Memukur), Metatah, Nilapati Agung, dan Ngingkup Agung dengan biaya yang sangat terjangkau bagi masyarakat.
Jika selama ini biaya ngaben dan nyekah sering membuat warga harus menjual tanah, meminjam uang, bahkan berutang demi menjalankan kewajiban adat dan agama, di Desa Adat Ungasan semuanya dibuat jauh lebih ringan. Krama hanya dikenakan punia Rp1,5 juta untuk ngaben dan Rp2 juta untuk nyekah. Sementara untuk metatah massal digelar gratis tanpa pungutan biaya.
Program ini langsung menjadi perhatian masyarakat karena dianggap mampu menjawab persoalan nyata yang selama ini dirasakan banyak keluarga Bali. Sebab bukan rahasia lagi, biaya upacara adat di Bali kini bisa mencapai ratusan juta rupiah, tergantung besar kecilnya pelaksanaan yadnya.
Upacara besar ini dipusatkan di Wantilan Nusa Bangsal, Banjar Kelod, Desa Adat Ungasan ini, disaksikan langsung oleh Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa beserta prajuru. Rangkaian karya suci berlangsung hingga Budha Umanis Julungwangi, 3 Juni 2026. Persiapannya sendiri ternyata sudah dimulai sejak Februari 2026 lalu dengan melibatkan banyak pihak dan krama adat dari berbagai banjar di wilayah Desa Adat Ungasan.
Prosesi pembukaan digelar Selasa, 19 Mei 2026 melalui upacara Melaspas Pengorong, Mejaya-Jaya, dan Dharmatula yang dipuput langsung oleh Pengrajeg atau Yajamana Karya, Ida Ratu Agung Nabe Wayahan Suta Dharna Jaya Giri. Suasana pembukaan terlihat sangat ramai dan penuh nuansa kebersamaan. Krama dari berbagai banjar datang sejak pagi hari. Mereka mengenakan pakaian adat lengkap sambil membawa semangat ngayah untuk menyukseskan karya besar tersebut.
Panitia dan seluruh penanggung jawab Sawa lan Atma Wedana Desa Adat Ungasan juga tampak sibuk mengatur jalannya acara. Tidak sedikit warga yang mengaku bersyukur karena akhirnya kembali bisa mengikuti karya massal setelah terakhir digelar sembilan tahun lalu. Jumlah peserta yang ikut dalam upacara massal ini tergolong sangat besar. Tercatat ada 56 sawa ngaben, 135 sawa nyekah, dan 65 peserta metatah massal.
Ketua Panitia Sawa Wedana, Atma Wedana, Metatah, Nilapati Agung, dan Ngingkup Agung Desa Adat Ungasan, I Made Suada, S.Ag., M.Si. mengatakan karya besar ini merupakan bentuk kebersamaan dan kepedulian desa adat terhadap masyarakat.
Menurutnya, upacara ini tidak hanya menjadi kegiatan ritual semata, tetapi juga solusi sosial bagi warga yang selama ini terbebani biaya upacara adat. “Untuk peserta metatah sebanyak 65 orang dan gratis. Untuk ngaben dikenakan punia Rp1,5 juta dan nyekah Rp2 juta,” ujar I Made Suada.
Ia mengatakan angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan biaya upacara mandiri yang biasa dilakukan masyarakat Bali. Bahkan untuk satu keluarga saja, biaya ngaben dan nyekah bisa mencapai ratusan juta rupiah. I Made Suada mengaku dirinya sendiri pernah mengalami besarnya biaya tersebut ketika menggelar upacara keluarga.
“Pengalaman pribadi saya, biaya ngaben mencapai sekitar Rp300 juta. Karena sampai nyekah total hampir Rp400 juta. Jadi apa yang dilakukan Desa Adat Ungasan di bawah kepemimpinan Jero Disel Astawa benar-benar membantu masyarakat,” katanya. Pernyataan itu langsung menggambarkan bagaimana beratnya beban ekonomi yang sering dipikul masyarakat Bali dalam menjalankan tradisi adat dan agama.
Di satu sisi, masyarakat ingin tetap menjalankan kewajiban adat dengan baik karena itu merupakan warisan leluhur dan bagian dari keyakinan spiritual. Namun di sisi lain, biaya yang sangat besar sering membuat warga merasa tertekan. Karena itulah, karya massal seperti yang dilakukan Desa Adat Ungasan dianggap menjadi jalan tengah yang sangat penting. Tradisi tetap berjalan, nilai adat tetap terjaga, namun masyarakat tidak harus terbebani secara berlebihan.
Menurut I Made Suada, karya massal terakhir kali dilaksanakan Desa Adat Ungasan pada tahun 2017. Setelah sembilan tahun berlalu, antusiasme masyarakat ternyata tetap sangat tinggi. “2017 terakhir digelar. Tahun ini 2026. Selanjutnya akan dijadwalkan setiap lima tahun sekali. Berarti berikutnya tahun 2031,” jelasnya.
Keputusan menjadikan karya massal sebagai agenda rutin lima tahunan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Banyak warga berharap program seperti ini terus dijaga karena sangat membantu krama. Selain itu, karya massal juga memperkuat rasa persaudaraan antarkrama. Seluruh banjar saling membantu, bergotong royong, dan ngayah bersama demi kesuksesan yadnya.
I Made Suada menjelaskan karya suci ini melibatkan banyak banjar di wilayah Desa Adat Ungasan. Di antaranya Banjar Kauh, Banjar Kertha Lestari, Banjar Santhi Karya, Banjar Werdi Kosala, Banjar Wana Giri, Banjar Sari Karya, Banjar Kangin, Banjar Angga Sari, Banjar Giri Darma, Banjar Bakung Sari, Banjar Langui, Banjar Cengiling dan sejumlah banjar lainnya.
Suasana gotong royong benar-benar terasa selama persiapan karya berlangsung. Mulai dari membuat sarana upacara, menyiapkan tempat, memasang penjor, hingga mempersiapkan konsumsi dilakukan bersama-sama. Banyak warga mengaku bangga karena tradisi ngayah masih sangat kuat di Desa Adat Ungasan. Semangat kebersamaan itulah yang membuat karya besar bisa berjalan lancar.
Tidak hanya masyarakat lokal, karya ini juga diikuti warga dari luar Desa Adat Ungasan seperti Tuban, Jimbaran, dan Kedonganan yang memiliki pura paibon di wilayah Ungasan. “Karya ini digelar atas aspirasi masyarakat adat. Selain warga Desa Adat Ungasan, juga diikuti warga Tuban, Jimbaran, dan Kedonganan yang memiliki pura paibon di Ungasan,” ujar I Made Suada.
Untuk menyukseskan karya besar ini, Desa Adat Ungasan menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit. Total dana yang dipakai mencapai sekitar Rp5 miliar. Dana tersebut berasal murni dari Desa Adat Ungasan ditambah punia dari masyarakat serta para pengusaha di wilayah Ungasan.
Besarnya anggaran itu menunjukkan keseriusan desa adat dalam melayani kebutuhan spiritual masyarakatnya. Namun menariknya, walaupun dana yang dipakai sangat besar, beban warga justru dibuat seringan mungkin.
Kondisi ini membuat banyak warga merasa sangat terbantu. Sebab selama ini tidak sedikit keluarga yang harus menabung bertahun-tahun demi bisa menggelar upacara ngaben dan nyekah. Bahkan ada juga warga yang terpaksa menunda upacara karena terkendala biaya.
Karena itulah, karya massal seperti ini dianggap bukan hanya kegiatan adat biasa, tetapi juga bentuk kepedulian sosial dari desa adat kepada masyarakat. Selain membantu secara ekonomi, karya ini juga memiliki makna spiritual yang sangat mendalam bagi umat Hindu Bali.
Nyawa Wedana dan Atma Wedana merupakan bagian penting dalam rangkaian penyucian roh leluhur. Begitu juga metatah yang menjadi simbol pengendalian diri dan kedewasaan bagi umat Hindu. Masyarakat yang ikut dalam karya ini terlihat sangat antusias dan penuh rasa syukur. Banyak keluarga datang bersama anggota keluarga lainnya untuk mengikuti prosesi dengan khidmat.
Suasana sakral sangat terasa di area Wantilan Nusa Bangsal. Iringan gamelan Bali, dupa yang mengepul, serta berbagai sarana upacara membuat nuansa religius begitu kuat. Warga juga tampak kompak menggunakan pakaian adat Bali. Kaum ibu sibuk membawa banten dan perlengkapan upacara, sementara kaum pria membantu berbagai persiapan teknis di lapangan.
Tidak sedikit generasi muda yang ikut ngayah dalam karya besar ini. Hal itu menjadi tanda bahwa tradisi adat Bali masih tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Puncak Atma Wedana dijadwalkan berlangsung pada Redite Pon Julungwangi, 31 Mei 2026. Prosesi tersebut akan dipuput tujuh sulinggih.
Mereka adalah Ida Ratu Rsi Agung Nabe Wayahan Suta Dharma Jaya Giri, Ida Peranda Budha, Ida Peranda Kusamba, Ida Pandita Mpu Miyasa Dharma Eka Sari, Ida Bhagawan Magada Prabu Dwijananda, Ida Pedanda Gede Putra Sebali Arimbawa, dan Ida Pandita Mpu Siwa Natha Dharma.
Sementara rangkaian Parikrama Ngaskara, Mapetik, Meras, Pepegat, dan Metapak pada Minggu, 24 Mei 2026 akan dipuput lima sulinggih. Ritual tersebut juga direncanakan dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Badung I Nyoman Adi Arnawa. sur/ama/ksm









