Nasional

Lapas Perempuan Kerobokan Perkuat Ketahanan Pangan Lele dan Sayuran Hidroponik, Wujud Nyata Implementasi Asta Cita Presiden


Denpasar, PancarPOS | Semangat kemandirian dan ketahanan pangan kini terus tumbuh di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Kerobokan. Selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan 13 program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Lapas Perempuan Kerobokan konsisten memperkuat program pembinaan produktif melalui budidaya ikan lele dan sayuran hidroponik.

Langkah nyata ini menjadi bagian dari komitmen besar dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan pembinaan warga binaan berbasis produktivitas hijau atau Green Correctional System. Tak sekadar menjadi rutinitas pembinaan, program ini kini menjelma ikon kemandirian di lingkungan Lapas.

Selama periode hingga Oktober 2025, kegiatan budidaya ikan lele di LPP Kerobokan telah menunjukkan hasil menggembirakan. Dalam setahun terakhir, tiga kali panen dilakukan dengan total lebih dari 50 kilogram lele konsumsi. Sebagian besar hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur sehat warga binaan, sementara sisanya dijadikan media pembelajaran kewirausahaan di bidang perikanan.

Warga binaan pun dilibatkan secara aktif, mulai dari perawatan kolam, pemberian pakan, hingga panen. “Melalui kegiatan ini, warga binaan belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan arti kemandirian. Panen yang dihasilkan adalah buah dari kerja keras bersama dan menjadi simbol perubahan positif di dalam Lapas,” ujar Kepala Lapas Perempuan Kerobokan, Ni Luh Putu Andiyani, saat ditemui di sela kegiatan panen.

Tak hanya di sektor perikanan, semangat kemandirian juga tumbuh subur di lahan pertanian terbatas yang dimanfaatkan secara kreatif. Beragam sayuran seperti kangkung, pokcoy, cabai rawit, dan terong rutin dipanen. Selama tahun 2025, enam kali panen konvensional tercatat menghasilkan sekitar 15 kilogram sayur segar.

Inovasi pertanian modern juga terus dikembangkan lewat sistem hidroponik bertingkat yang memproduksi pokcoy, selada, dan seledri setiap enam minggu sekali, dengan hasil rata-rata 2 kilogram per siklus. Meski hasilnya masih digunakan untuk konsumsi internal, kegiatan ini telah berhasil menumbuhkan nilai-nilai kemandirian dan keterampilan praktis yang bisa menjadi bekal hidup warga binaan selepas masa hukuman.

Program ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap Asta Cita Presiden poin keempat, yakni pemerataan pembangunan ekonomi berbasis kemandirian komunitas, sekaligus pelaksanaan arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Brigjen Pol Dr. Mashudi, agar Lapas dan Rutan di seluruh Indonesia menjadi sentra pembinaan produktif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dengan langkah-langkah nyata tersebut, Lapas Perempuan Kerobokan tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga menanamkan semangat kemandirian dan perubahan, menjadikan ketahanan pangan sebagai wujud nyata transformasi pemasyarakatan yang produktif dan berkelanjutan. ama/ksm


Back to top button