Olahraga dan Pendidikan

Rektor Dwijendra: Mahasiswa PkM Harus Jadi Change Agent Percepatan Pembangunan Bali


Denpasar, PancarPOS | Universitas Dwijendra semakin memperkuat komitmennya dalam mendorong pembangunan Bali melalui pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tematik Tahun 2026. Program ini tidak hanya menjadi ruang implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan riil yang dihadapi masyarakat desa, mulai dari persoalan sampah, ketahanan pangan, hingga penguatan generasi muda dan pelestarian lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Rektor Dwijendra University, Gede Sedana saat memberikan sambutan dalam acara serah terima mahasiswa dan dosen peserta PkM di Desa Sibanggede dan Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (11/5/2026).

Dalam sambutannya, Sedana menegaskan mahasiswa harus hadir sebagai agen perubahan atau change agent yang mampu membawa dampak nyata bagi masyarakat desa melalui transfer ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan sosial. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading yang jauh dari persoalan masyarakat, melainkan harus menjadi bagian dari solusi pembangunan Bali.

Ia menjelaskan, kegiatan PkM yang dilaksanakan Dwijendra University diawali melalui kesepakatan bersama dengan pemerintah Desa Sibanggede dan Desa Sibangkaja. Kesepakatan tersebut difokuskan untuk mendorong peningkatan pembangunan desa melalui berbagai program prioritas yang memang dibutuhkan masyarakat.

Program yang dijalankan antara lain pengelolaan sampah berbasis sumber, penguatan ketahanan dan kedaulatan pangan, pengembangan ekowisata dan agrowisata, pemberdayaan generasi muda, hingga penguatan kesadaran sosial dan budaya masyarakat.

Menurut Sedana, program-program tersebut juga sejalan dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Bali melalui Nangun Sat Kerthi Loka Bali dengan Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

“Mahasiswa harus mampu hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa. Mereka harus menjadi change agent yang membawa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat,” tegasnya didampingi para wakil rektor dan Ketua LPPM Dwijendra University.

Ia menambahkan, keberadaan mahasiswa di desa bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan juga menjadi ruang pembelajaran sosial agar mahasiswa memahami kondisi riil masyarakat sekaligus melatih kepekaan terhadap tantangan pembangunan daerah.

Sementara itu, Kepala Desa Sibanggede, I Wayan Darmika menyambut positif kehadiran mahasiswa Dwijendra University di desanya. Ia berharap program PkM mampu membantu desa mempercepat penyelesaian sejumlah persoalan utama yang saat ini sedang dihadapi masyarakat.

Menurut Darmika, persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu tantangan besar yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi.

Ia menegaskan pengelolaan sampah berbasis sumber harus benar-benar dijalankan secara total oleh masyarakat agar masalah sampah di desa dapat segera dituntaskan.

Desa Sibanggede sendiri telah memiliki TPS3R sebagai fasilitas pengolahan sampah desa. Namun, pengelolaan TPS3R dinilai masih perlu diperkuat agar mampu memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang lebih optimal bagi masyarakat.

Karena itu, pihak desa berharap mahasiswa Dwijendra University dapat membantu meningkatkan kapasitas pengelola TPS3R, termasuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.

“Kami berharap mahasiswa dapat ikut memberikan edukasi langsung kepada masyarakat agar kesadaran pengelolaan sampah semakin kuat,” ujarnya.

Selain persoalan sampah, Desa Sibanggede juga berharap mahasiswa turut mendukung penguatan ketahanan pangan desa melalui penyuluhan dan pendampingan kepada petani, termasuk membantu petugas khusus yang telah dibentuk pemerintah desa.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Sibangkaja, Ni Nyoman Rai Sudani yang berharap sinergi antara desa dengan sivitas akademika Dwijendra University dapat terus diperkuat meskipun program PkM berlangsung dalam waktu terbatas.

Menurut Sudani, Desa Sibangkaja saat ini juga tengah menggencarkan gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber melalui berbagai langkah konkret seperti pembangunan tebe modern, penyediaan tempat sampah, hingga edukasi pemilahan sampah organik, non-organik, dan residu.

Karena itu, pihak desa berharap mahasiswa dapat membantu membangun kesadaran masyarakat agar semakin disiplin dalam memilah sampah dan mengoptimalkan pengelolaan melalui TPS3R.

Selain pengelolaan sampah, Desa Sibangkaja juga mendorong pelestarian sumber air dan kawasan suci melalui peningkatan kondisi Pura Beji yang berada di pinggir sungai.

Sudani berharap mahasiswa, khususnya dari Fakultas Teknik, dapat membantu membuat desain dan perencanaan pembangunan Pura Beji agar tetap memiliki nilai religius yang kuat sekaligus mendukung pelestarian lingkungan di kawasan tersebut.

“Kami berharap mahasiswa bisa membantu merancang pembangunan Pura Beji agar menjadi kawasan yang tetap sakral sekaligus tertata dengan baik,” katanya.

Pada akhir acara serah terima mahasiswa dan dosen PkM, Rektor Dwijendra University menyerahkan bantuan 6.000 bibit tanaman cabai, tomat, dan terong kepada kedua desa.

Bibit tersebut diserahkan bersama perwakilan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali untuk ditanam dan dibudidayakan bersama masyarakat dan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan desa.

Selain itu, Dwijendra University juga menyerahkan bantuan bibit tanaman nangka dan alpukat yang didukung oleh BPDAS Unda Anyar. Bibit pohon produktif tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan desa.

Tidak hanya fokus pada aspek lingkungan dan pangan, program PkM Dwijendra University juga menyasar penguatan kapasitas generasi muda desa.

Beberapa kegiatan yang diprogramkan antara lain pelatihan communication skill berbahasa Inggris, penguatan budaya lokal bagi generasi muda, peningkatan kesadaran hukum dan norma sosial, hingga sosialisasi berbagai program pembangunan Pemerintah Provinsi Bali agar lebih membumi di tengah masyarakat.

Melalui program tersebut, Dwijendra University ingin memastikan kehadiran perguruan tinggi benar-benar memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekaligus mempercepat pembangunan desa berbasis potensi lokal dan partisipasi masyarakat. ama/ksm


Back to top button