Denpasar, PancarPOS | PT Jasamarga Bali Tol (JBT) memastikan Jalan Tol Bali Mandara akan ditutup sementara selama pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948. Kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan Catur Brata Penyepian yang menjadi tradisi sakral masyarakat Bali, sekaligus bagian dari pengaturan lalu lintas menjelang periode libur panjang Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kepastian itu disampaikan dalam konferensi pers yang digelar manajemen PT Jasamarga Bali Tol di Denpasar, Kamis (12/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, jajaran direksi memaparkan kesiapan operasional perusahaan menghadapi dua momentum besar sekaligus, yakni perayaan Nyepi yang identik dengan keheningan total di Pulau Dewata serta lonjakan mobilitas kendaraan menjelang dan sesudah Lebaran.
Direktur Utama PT Jasamarga Bali Tol, I Ketut Adiputra Karang, menjelaskan bahwa penutupan ruas Tol Bali Mandara akan berlangsung selama 32 jam penuh. Penutupan dimulai pada 18 Maret 2026 pukul 23.00 WITA hingga 20 Maret 2026 pukul 07.00 WITA. Selama periode tersebut seluruh aktivitas kendaraan di ruas tol yang menghubungkan kawasan Nusa Dua, Bandara I Gusti Ngurah Rai, hingga Benoa akan dihentikan. Langkah ini sejalan dengan pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Bali yang mengharuskan seluruh aktivitas masyarakat dihentikan sementara.

Menurut Adiputra, kebijakan tersebut bukan sekadar aturan operasional perusahaan, melainkan bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal dan nilai spiritual masyarakat Bali yang menjadikan Nyepi sebagai momentum refleksi dan penyucian diri. “Penutupan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Bali. Selama Nyepi seluruh aktivitas dihentikan, termasuk operasional jalan tol,” jelasnya.
Meski jalan tol ditutup, pihak Jasamarga Bali Tol tetap menyiagakan petugas di sejumlah titik strategis untuk mengantisipasi kemungkinan situasi darurat. Langkah ini diambil agar akses tetap bisa dibuka secara terbatas apabila terjadi kondisi yang membutuhkan penanganan cepat. “Apabila terjadi kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera, jalan tol akan kami buka sementara untuk keperluan tersebut,” ujarnya.
Penanganan situasi darurat ini biasanya berkaitan dengan layanan medis, evakuasi, maupun kondisi keamanan tertentu yang membutuhkan mobilitas cepat. Untuk memastikan pengawasan berjalan optimal, Jasamarga Bali Tol juga menggandeng berbagai pihak dalam pengamanan selama masa penutupan tol. Koordinasi dilakukan dengan aparat kepolisian, unsur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut yang memiliki wilayah operasional di kawasan Teluk Benoa, serta dukungan desa adat di wilayah sekitar.

Peran desa adat dinilai sangat penting dalam menjaga kesucian pelaksanaan Nyepi. Desa adat di kawasan Pedungan dan Sanggaran turut dilibatkan dalam pengawasan agar tidak ada aktivitas kendaraan yang melintas di ruas tol selama Nyepi berlangsung. Selain itu, sekitar 10 petugas akan disiagakan di sejumlah gerbang tol untuk memantau situasi serta memastikan tidak ada kendaraan yang memasuki jalan tol selama periode penutupan.
“Pengamanan ini kami lakukan bersama aparat kepolisian dan juga koordinasi dengan Polsek Benoa serta unsur keamanan lainnya,” tambahnya. Di sisi lain, manajemen PT Jasamarga Bali Tol juga memproyeksikan adanya peningkatan volume kendaraan yang cukup signifikan pada periode libur Lebaran tahun ini. Meskipun Bali bukan wilayah utama arus mudik seperti Pulau Jawa, mobilitas kendaraan tetap diprediksi meningkat karena tingginya aktivitas wisatawan domestik yang memanfaatkan libur panjang untuk berkunjung ke Bali.
Selain itu, mobilitas masyarakat lokal yang melakukan perjalanan antarwilayah di Bali juga turut berkontribusi terhadap peningkatan volume kendaraan. Berdasarkan proyeksi perusahaan, puncak arus kendaraan di Tol Bali Mandara diperkirakan terjadi pada 25 Maret 2026. Pada tanggal tersebut jumlah kendaraan yang melintas diprediksi mencapai sekitar 57.000 kendaraan dalam satu hari. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, volume kendaraan harian tercatat berada di kisaran 52.000 kendaraan.
“Jika dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 52.000 kendaraan, diperkirakan terjadi peningkatan sekitar 5.000 kendaraan,” jelas Adiputra. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Tol Bali Mandara tetap menjadi jalur vital transportasi di kawasan selatan Bali. Jalan tol ini menghubungkan berbagai titik penting seperti Bandara Ngurah Rai, kawasan wisata Nusa Dua, Pelabuhan Benoa, serta akses menuju pusat Kota Denpasar. Karena itu, kesiapan operasional menjadi faktor penting untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas selama periode libur panjang.

Sebagai bagian dari langkah antisipasi, Jasamarga Bali Tol juga menyiapkan stok kartu tol prabayar untuk memenuhi kebutuhan pengguna jalan. Menjelang periode Lebaran, perusahaan menyiapkan sekitar 15.000 kartu tol prabayar guna menghindari potensi antrean kendaraan di gerbang tol akibat keterbatasan kartu transaksi. Selain itu, Jasamarga Bali Tol juga terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mengakses layanan jalan tol.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah penggunaan aplikasi Travoy yang dikembangkan oleh Jasa Marga. Melalui aplikasi tersebut, pengguna jalan dapat memantau kondisi lalu lintas secara real time melalui jaringan kamera CCTV yang terpasang di sepanjang ruas tol.nFitur ini memungkinkan pengendara mengetahui kondisi kepadatan lalu lintas sebelum memasuki jalan tol sehingga dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik. Selain itu, aplikasi Travoy juga menyediakan layanan bantuan darurat yang dapat diakses langsung oleh pengguna jalan jika mengalami kendala selama perjalanan.
Pengguna juga dapat melihat riwayat transaksi tol secara digital sehingga penggunaan kartu tol menjadi lebih transparan dan mudah dipantau. Digitalisasi layanan ini menjadi bagian dari transformasi pelayanan Jasa Marga dalam meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengguna jalan tol. Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat, keberadaan infrastruktur jalan tol seperti Tol Bali Mandara memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas wilayah. Sejak diresmikan, tol sepanjang sekitar 12,7 kilometer ini telah menjadi jalur vital yang mempercepat mobilitas masyarakat di kawasan selatan Bali.

Namun di balik fungsinya sebagai infrastruktur modern, pengelolaan tol di Bali tetap harus selaras dengan nilai budaya dan tradisi lokal yang kuat. Penutupan tol saat Nyepi menjadi simbol bahwa pembangunan infrastruktur di Bali tetap menghormati nilai spiritual dan kearifan lokal masyarakat. Hari Raya Nyepi sendiri merupakan momen sakral bagi umat Hindu di Bali yang ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Empat pantangan utama tersebut meliputi amati geni (tidak menyalakan api atau lampu), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), serta amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Pada hari tersebut seluruh aktivitas dihentikan, termasuk penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, aktivitas pelabuhan, hingga kegiatan ekonomi. Pulau Bali benar-benar memasuki fase keheningan total selama 24 jam penuh. Karena itu, penutupan Jalan Tol Bali Mandara menjadi bagian dari implementasi prinsip amati lelungan yang melarang masyarakat bepergian selama Nyepi berlangsung. PT Jasamarga Bali Tol berharap masyarakat dapat memahami kebijakan ini serta mempersiapkan perjalanan dengan baik menjelang periode Nyepi maupun libur Lebaran. ama/ksm
