Didukung BRI Fellowship Journalism 2024, I Wayan Surnantaka Tuntaskan Gelar Magister Manajemen di FEB Unud
Lulus 3 Semester Raih Predikat Cumlaude

Denpasar, PancarPOS | Perjalanan pendidikan dan karier jurnalistik I Wayan Surnantaka, S.T., M.M., kembali mencatatkan tonggak penting. Jurnalis senior yang dikenal sebagai sosok militan dalam mencari berita tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana dengan predikat pujian (cumlaude), IPK 3,97.
Yang menarik, pendidikan jenjang magister tersebut mampu diselesaikannya hanya dalam tiga semester atau sekitar satu tahun empat bulan. Ia tercatat mulai diterima masuk Program Studi Magister Manajemen FEB Universitas Udayana pada Selasa, 2 Juli 2024 dan dinyatakan lulus pada Jumat, 9 Januari 2026.
Capaian tersebut menjadi perjalanan akademik yang cukup istimewa, mengingat selama lebih dari dua dekade Surnantaka justru dikenal luas sebagai seorang jurnalis yang berkecimpung langsung di dunia media, mulai dari televisi, media cetak hingga media siber.
Tidak hanya itu, latar belakang pendidikan sarjananya juga tidak berkaitan langsung dengan jurnalistik. Surnantaka merupakan lulusan S1 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Udayana tahun 2002. Bahkan, ketika menempuh pendidikan sarjana, ia berhasil menyelesaikan studi hanya dalam waktu tiga tahun sembilan bulan dan tercatat sebagai lulusan terbaik dan tercepat Fakultas Teknik Universitas Udayana.
Kini, setelah menyandang gelar Magister Manajemen, perjalanan akademik dan profesional tersebut menjadi kombinasi yang memperkaya kiprahnya sebagai jurnalis sekaligus pimpinan media. Surnantaka merupakan penerima BRI Fellowship Journalism 2024 Batch V. Dukungan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pendidikannya selama menempuh studi magister.

Atas dukungan yang diberikan, Surnantaka menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada BRI beserta seluruh tim yang telah memberikan support selama proses pendidikan berlangsung. “Terima kasih banyak BRI dan tim atas support-nya selama ini. Sukses terus dan selalu menginspirasi,” ungkap Surnantaka.
Perjalanan menuju gelar Magister Manajemen tersebut tidak ditempuh dengan meninggalkan profesinya sebagai jurnalis. Di tengah aktivitas jurnalistik dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan media, ia tetap menjalani perkuliahan, penelitian, penyusunan tesis hingga ujian akhir. Tesis yang diangkat berjudul “Pengaruh Sumber Daya Pekerjaan Terhadap Keterikatan Kerja Dimediasi Oleh Modal Psikologis (Studi Pada Kantor Samsat Badung)”.
Ujian tesis dilaksanakan pada Jumat, 9 Januari 2026, pukul 10.30–12.30 Wita di Ruang BI 1.2 Kampus FEB Universitas Udayana, Denpasar. Dalam ujian tersebut, Surnantaka diuji oleh Prof. Dr. Ida Bagus Ketut Surya, S.E., M.M. sebagai Ketua Penguji, Prof. Dr. I Gede Riana, S.E., M.M. sebagai Anggota Penguji 1, serta Dr. Ayu Desi Indrawati, S.E., M.M. sebagai Anggota Penguji 2.
Setelah melalui seluruh proses akademik dan memenuhi persyaratan pendidikan, Universitas Udayana kemudian menetapkan Surnantaka sebagai lulusan Program Studi Magister Manajemen FEB Universitas Udayana.
Hal tersebut tercantum dalam Ijazah Universitas Udayana Nomor 001013611012026100003. Dalam ijazah tersebut disebutkan bahwa I Wayan Surnantaka telah menyelesaikan studi dan memenuhi segala syarat pendidikan pada Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana serta dinyatakan lulus pada tanggal 30 Januari 2026.
Atas penyelesaian pendidikan tersebut, Universitas Udayana memberikan gelar Magister Manajemen (M.M.) beserta segala hak dan kewajiban yang melekat pada gelar tersebut. Ijazah diterbitkan di Jimbaran pada 30 Januari 2026 dan ditandatangani oleh Dekan FEB Universitas Udayana Prof. Dr. Ni Putu Wiwin Setyari, S.E., M.Si. dan Rektor Universitas Udayana Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D.

Universitas Udayana sendiri tercatat sebagai perguruan tinggi terakreditasi Unggul berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT Nomor 193/SK/BAN-PT/AK-ISK/PT/V/2022. Program Studi Magister Manajemen juga memiliki status akreditasi sebagaimana tercantum dalam dokumen akademiknya.
Jurnalis senior bernama lengkap I Wayan Surnantaka, S.T., M.M., kesan pertama yang muncul adalah rambutnya yang ikal, postur tubuh yang agak berisi, serta suara yang keras dan tegas. Pria kelahiran Benoa, 10 Juli 1979 ini cukup dikenal di kalangan rekan wartawan hingga kancah nasional.
Selain ramah dan mudah bergaul, Surnantaka juga dikenal sangat militan dalam mencari dan menembus sumber berita. Karakter tersebut telah melekat dalam dirinya selama puluhan tahun menjalani profesi jurnalistik. Di kalangan wartawan, ia dikenal sebagai sosok yang tidak mudah menyerah ketika mengejar informasi. Baginya, tantangan dalam mencari berita justru menjadi energi untuk terus bergerak.
Moto hidup yang selama ini dipegangnya pun sederhana, tetapi sangat kuat: “Hidup untuk berita.” Meski kini dikenal sebagai wartawan, Surnantaka mengungkapkan bahwa sejak kecil ia tak pernah membayangkan dirinya menjadi seorang jurnalis. Pendidikan awalnya dimulai di SD Negeri 6 Benoa dan tamat pada 1992. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Dwijendra Bualu hingga lulus pada 1995.
Pendidikan berikutnya ditempuh di SMA Negeri 4 Denpasar yang dikenal sebagai salah satu sekolah menengah yang cukup bergengsi di Kota Denpasar. Ia menyelesaikan pendidikan SMA pada 1998. Selepas SMA, perjalanan pendidikannya justru semakin jauh dari dunia jurnalistik. Ia memilih menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Teknik Universitas Udayana dengan mengambil program studi Teknik Mesin.
Pilihan tersebut membuat perjalanan hidupnya kelak menjadi cukup unik. Sebab, pendidikan teknik yang dijalaninya tidak memiliki hubungan langsung dengan profesi jurnalistik yang kemudian menjadi jalan hidupnya.
“Saat tamat SD, saya menjadi yang terbaik. Awalnya saya malas melanjutkan ke Denpasar, padahal banyak teman yang memilih sekolah di sana. Namun akhirnya saya pergi juga ke Denpasar. Setelah SMA, saya kuliah jurusan teknik. Memang saya tidak pernah kuliah yang berhubungan dengan jurnalistik,” kenangnya dengan suara pelan.

Di bangku kuliah, ia justru menunjukkan kemampuan akademik yang kuat. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Udayana pada 2002 dengan masa studi tiga tahun sembilan bulan. Ia tercatat sebagai lulusan terbaik dan tercepat Fakultas Teknik Universitas Udayana pada tahun tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Surnantaka sempat menjalani Praktik Kerja Lapangan di PT Indonesia Power Denpasar pada 2002. Namun, perjalanan hidupnya kemudian mengambil arah yang sama sekali berbeda. Dengan latar belakang pendidikan teknik, Surnantaka justru memutuskan mencoba masuk ke dunia jurnalistik.
Ia melamar menjadi reporter di Grup Media Bali Post, salah satu kelompok media ternama di Bali. Di luar perkiraan, ia diterima sebagai reporter televisi di Bali TV pada 1 Oktober 2002. Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik. Proses perekrutan yang dijalaninya cukup ketat. Namun, dia tetap memutuskan untuk bergabung dengan Bali TV dan terjun sebagai reporter media elektronik.
Bekerja di televisi tentu bukan pekerjaan mudah bagi seseorang yang sama sekali tidak memiliki pendidikan jurnalistik maupun pengalaman sebelumnya di bidang media elektronik. Ia harus belajar banyak hal secara langsung di lapangan, mulai dari teknik peliputan, wawancara, mencari narasumber, memahami persoalan, menyusun informasi, hingga bekerja dengan tuntutan deadline.
Namun, tantangan justru menjadi sesuatu yang membuatnya bertahan. Dengan semangat, kerja keras, keberanian menghadapi narasumber dan karakter yang tidak mudah menyerah, Surnantaka perlahan berkembang menjadi reporter televisi yang dikenal di kalangan pejabat maupun sesama wartawan.
Surnantaka mengakui bahwa dunia jurnalistik pada awalnya bukan sesuatu yang direncanakan. Namun, setelah menjalaninya, ia menemukan sesuatu yang berbeda. “Saya merasa bidang akademik dan pekerjaan saya memang berseberangan, tetapi jurnalistik penuh tantangan. Saya merasa itu passion saya,” ujarnya tegas.

Kecintaan terhadap tantangan tersebut membuatnya mampu bertahan selama 13 tahun di Bali TV. Dalam rentang waktu itu, ia meliput berbagai isu sosial, budaya, politik dan pemerintahan. Sebagai wartawan televisi, ia tidak hanya dituntut mampu mendapatkan informasi, tetapi juga harus mampu mengemas fakta menjadi sebuah laporan yang menarik dan mudah dipahami masyarakat.
Pengalaman selama bertahun-tahun di lapangan membuat kemampuan jurnalistiknya semakin matang. Jaringan narasumber semakin luas, pemahaman terhadap persoalan daerah semakin kuat, dan keberanian untuk menggali informasi semakin terasah.
Setelah sekitar 13 tahun berkiprah di Bali TV, dinamika internal di tempat kerja membuat Surnantaka mengambil keputusan untuk berhenti. Keputusan tersebut sekaligus menjadi awal babak baru dalam karier jurnalistiknya. Pada 5 Januari 2015, ia beralih menjadi wartawan senior di harian POS BALI.
Perpindahan dari media televisi ke media cetak memberikan pengalaman baru. Jika di televisi ia terbiasa dengan kekuatan visual dan kecepatan pemberitaan elektronik, di media cetak ia dituntut lebih mendalam dalam menggali informasi dan mengolah tulisan. Di POS BALI, ia mendapatkan tugas meliput berbagai bidang strategis, antara lain politik, ekonomi dan pariwisata.

Kariernya terus berkembang hingga kemudian dipercaya menduduki posisi penting sebagai Pemimpin Redaksi media online POS BALI. “Karier yang menanjak ini tentu tidak datang begitu saja, melainkan berkat usaha dan kerja keras yang saya lakukan. Dan satu hal lagi, semua ini karena saya suka tantangan!” katanya dengan senyum penuh keyakinan.
Pengalaman sebagai reporter televisi dan wartawan media cetak kemudian menjadi modal penting ketika Surnantaka masuk lebih jauh ke dunia media digital. Pada 2017–2018, ia dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi posbali.co.id. Posisi tersebut mempertemukannya dengan tantangan baru berupa transformasi industri media dari pola kerja konvensional menuju era digital.
Setelah itu, pada 2018–2021, Surnantaka dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi JARRAKPOS.com. Dalam posisi tersebut, ia membangun tim redaksi, memperluas jaringan pembaca serta mengembangkan pola kerja media daring yang semakin menuntut kecepatan sekaligus akurasi.
Sejak 2021 hingga sekarang, Surnantaka dipercaya sebagai Pimpinan Umum PancarPOS.com. Di PancarPOS, ia tidak hanya berhadapan dengan tantangan jurnalistik, tetapi juga dengan aspek manajemen media, pengembangan konten strategis, kemitraan, penguatan jaringan serta pertumbuhan platform digital.
Pengalaman tersebut pula yang kemudian menjadi salah satu alasan penting bagi Surnantaka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Manajemen. Pilihan mengambil Magister Manajemen bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba. Setelah puluhan tahun berada di dunia jurnalistik dan memimpin organisasi media, kebutuhan untuk memahami aspek manajemen secara lebih sistematis menjadi semakin penting.
Karena itu, pada 2 Juli 2024, Surnantaka mulai menempuh pendidikan di Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Menariknya, ia mampu menyelesaikan seluruh proses akademik tersebut hanya dalam tiga semester atau sekitar satu tahun empat bulan. Pendidikan tersebut dijalaninya bersamaan dengan aktivitas profesional sebagai jurnalis dan pimpinan media.
Puncaknya adalah penyelesaian tesis mengenai sumber daya pekerjaan, keterikatan kerja dan modal psikologis dengan mengambil studi pada Kantor Samsat Badung. Penelitian tersebut kemudian menjadi jembatan antara pengalaman profesionalnya dengan pendekatan akademik manajemen sumber daya manusia. Hasil akhirnya pun sangat membanggakan. Surnantaka dinyatakan lulus dengan predikat pujian (cumlaude) dan IPK 3,97.
Dalam perjalanan pendidikan tersebut, dukungan dari BRI Fellowship Journalism 2024 Batch V menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Program fellowship tersebut memberikan dukungan kepada Surnantaka sebagai jurnalis untuk terus mengembangkan kapasitas diri, termasuk dalam perjalanan akademiknya. Surnantaka menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada BRI serta seluruh tim yang telah memberikan dukungan. “Terima kasih banyak BRI dan tim atas support-nya selama ini. Sukses terus dan selalu menginspirasi,” katanya.

Baginya, dukungan tersebut bukan hanya memiliki arti dalam perjalanan pendidikan, tetapi juga menjadi bentuk kepercayaan terhadap insan pers untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas. Selama berkarier sebagai wartawan, Surnantaka juga terus meningkatkan kompetensi profesionalnya. Ia mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers jenjang Madya pada 2018.
Tujuh tahun kemudian, ia kembali mengikuti UKW Dewan Pers dan berhasil mencapai jenjang Utama pada 2025. Selain kompetensi jurnalistik, Surnantaka juga memiliki Kompetensi Skema Pengelolaan Kinerja Pekerja dari LSP MSDM BALIASEAN pada 2025. Kombinasi antara kompetensi jurnalistik dan manajemen tersebut menjadi semakin relevan dengan perannya sebagai pimpinan media yang harus memahami bukan hanya persoalan pemberitaan, tetapi juga pengelolaan sumber daya manusia dan organisasi.
Di luar aktivitas profesional, Surnantaka juga aktif dalam organisasi. Ia tercatat sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali sejak 2005 hingga sekarang. Sejak 2024, ia juga menjadi anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali. Pada tahun yang sama, ia tercatat sebagai anggota DPW Pemuda Pancasila Provinsi Bali. Kemudian sejak 2025, ia menjadi anggota DPD KADIN Bali.
Keterlibatan dalam berbagai organisasi tersebut memperluas jejaring dan pengalaman Surnantaka dalam berinteraksi dengan berbagai kalangan, sekaligus memperkuat perspektifnya terhadap dunia profesional dan sosial. Perjalanan panjang Surnantaka juga dihiasi sejumlah prestasi, baik di bidang akademik maupun jurnalistik.
Saat menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Mesin pada 2002, ia tercatat sebagai Lulusan Terbaik dan Tercepat Fakultas Teknik Universitas Udayana. Di bidang jurnalistik, ia meraih Juara II Lomba Penulisan Nestlé pada 2015. Kemudian ia beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai Wartawan Media Pendukung Terbaik DJP Bali, yakni pada 2018, 2019, 2022, 2023 dan 2024. Pada 2020, ia meraih Juara Terfavorit Kreasi Pewarta Anak Bangsa (KPAB) Gojek.
Prestasinya bersama Astra Motor juga cukup menonjol. Ia meraih Best of The Best Journalist Competition Astra Motor pada 2022, kemudian Juara I Journalist Competition Astra Motor pada 2023, serta Juara Terfavorit Journalist Competition Astra Motor pada 2024. Pada 2025, Surnantaka kembali mencatat prestasi dengan meraih Juara I Wartawan Media Sosial dan Juara II Wartawan Media Online dalam Journalist Competition Astra Motor. Di bidang akademik, ia juga meraih Best Presenter dan Best Paper pada Konferensi Internasional ICONEDS 2025.
Selain menjalani profesi sebagai jurnalis, Surnantaka juga mulai aktif menghasilkan karya akademik. Dua publikasi yang tercatat dalam perjalanan akademiknya antara lain “The Impact of the Digital Revolution on Strategic Management Thinking: An SLR Study” dan “The Influence of Job Resources on Work Engagement Mediated by Psychological Capital”.

Karya tersebut menunjukkan upayanya untuk mempertemukan pengalaman panjang di dunia profesional dengan pendekatan ilmiah. Salah satu kajian yang dikerjakannya berkaitan dengan revolusi digital dan pemikiran manajemen strategis. Tema tersebut memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan industri media yang saat ini mengalami perubahan sangat cepat akibat digitalisasi.
Sementara penelitian mengenai Job Resources, Work Engagement dan Psychological Capital mengambil konteks pada Kantor Samsat Badung dan menjadi dasar tesis yang dipertahankannya dalam ujian magister. Pencapaian gelar Magister Manajemen tidak lantas membuat perjalanan berhenti. Sebaliknya, gelar tersebut menjadi bagian dari proses panjang untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.
Dunia jurnalistik yang telah digelutinya selama lebih dari dua dekade telah membentuk karakter dan cara pandangnya. Sementara pendidikan manajemen memberikan perspektif baru untuk memahami organisasi, kepemimpinan, sumber daya manusia dan perubahan lingkungan bisnis.
Namun, di balik sederet gelar dan prestasi tersebut, satu hal yang tetap melekat pada dirinya adalah kecintaan terhadap jurnalistik. Ia memiliki moto yang terus dipegang teguh dalam menjalani profesinya sebagai wartawan: “Hidup untuk berita.” Baginya, menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah. Jurnalistik telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, tempat ia menemukan tantangan, membangun jaringan, menyuarakan informasi dan terus belajar dari berbagai peristiwa. “Saya hidup dari kerja wartawan, dan saya matipun atas nama wartawan,” tutupnya.
Dua puluh lebih tahun berada di lapangan telah membuatnya memahami bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal seberapa cepat sebuah berita ditulis, tetapi juga seberapa kuat seorang jurnalis mempertahankan ketelitian, keberanian, integritas dan tanggung jawab kepada publik.
Ia memulai perjalanan pendidikan. Dari Teknik Mesin Universitas Udayana, ia menemukan fondasi akademiknya. Dari ruang redaksi dan kerasnya lapangan jurnalistik, ia menemukan passion sekaligus jalan hidupnya. Dan dari bangku Magister Manajemen FEB Universitas Udayana, ia kembali memperkaya dirinya dengan ilmu untuk terus melangkah. Satu kalimat yang menjadi benang merah perjalanan panjang itu tetap sama: “Hidup untuk berita.” jun/ama/ksm









