Denpasar, PancarPOS | Pemerintah Provinsi Bali menyatakan komitmennya untuk memperkuat model transportasi pariwisata yang melibatkan langsung krama desa adat sebagai pelaku utama. Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Gubernur Bali Wayan Koster dengan komunitas pengemudi taksi online Taruna Nusa Dua Citraloka (TNDC) di Jayasabha, Denpasar, Minggu (8/3/2026).
Pertemuan itu sekaligus menjadi penegasan sikap Pemprov Bali bahwa sektor transportasi pariwisata tidak boleh sepenuhnya dikuasai oleh sistem ekonomi besar yang jauh dari masyarakat lokal. Sebaliknya, masyarakat Bali sendiri harus menjadi aktor utama dalam menggerakkan roda ekonomi di wilayah pariwisatanya.
Dalam forum tersebut terungkap bahwa TNDC saat ini menaungi sekitar 516 pengemudi yang merupakan krama desa adat di kawasan Nusa Dua. Mereka telah beroperasi sejak tahun 2019 dan membangun sistem komunitas yang berbasis koperasi serta bekerja secara kolektif dengan tetap menghormati tatanan adat setempat.
Ketua TNDC I Made Arta menjelaskan bahwa komunitas tersebut dibentuk dengan tujuan memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk terlibat langsung dalam industri transportasi pariwisata yang terus berkembang di kawasan Nusa Dua. “Komunitas ini berbasis krama adat di Nusa Dua. Jadi yang bisa mengambil penumpang di kawasan tersebut adalah krama adat setempat,” ujarnya.
Menurut Arta, kehadiran komunitas ini juga menjadi bentuk adaptasi masyarakat adat terhadap perkembangan teknologi transportasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya Bali. Ia menegaskan bahwa TNDC juga tidak pernah memposisikan diri sebagai pesaing bagi transportasi konvensional, melainkan sebagai bagian dari ekosistem transportasi wisata yang saling melengkapi.
“Kami tidak memiliki masalah dengan pengemudi konvensional. Yang kami bangun adalah kebersamaan dan saling menghormati,” katanya. Pemprov Bali sendiri menilai model transportasi berbasis desa adat seperti yang dijalankan TNDC sangat relevan dengan konsep pembangunan Bali yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana.
Konsep ini menekankan pentingnya keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), hubungan manusia dengan sesama manusia (pawongan), serta hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan). Dalam praktiknya, nilai pawongan tercermin dari solidaritas antar driver yang tergabung dalam komunitas TNDC, di mana mereka bekerja secara kolektif dan saling menjaga keharmonisan hubungan sosial.
Sementara nilai palemahan diwujudkan dengan menjaga kawasan pariwisata tetap tertib, nyaman, dan ramah bagi wisatawan maupun masyarakat lokal. Adapun nilai parhyangan tercermin dari kesadaran spiritual para anggota komunitas yang tetap menghormati tradisi keagamaan dan budaya Bali dalam aktivitas sehari-hari.
Arta menuturkan bahwa para driver TNDC juga berupaya menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata berbudaya dengan menerapkan etika pelayanan yang baik kepada wisatawan. “Kami selalu menjaga etika, berpakaian rapi, dan pada hari-hari tertentu menggunakan pakaian adat Bali,” ungkapnya. Bagi komunitas ini, penggunaan pakaian adat bukan sekadar simbol, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Bali yang tetap dijaga meskipun mereka bekerja dalam sistem transportasi berbasis teknologi digital.
Pemprov Bali melihat langkah tersebut sebagai contoh bagaimana modernisasi dapat berjalan selaras dengan pelestarian budaya. Gubernur Bali Wayan Koster bahkan berharap model seperti TNDC tidak berhenti di Nusa Dua saja, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi kawasan wisata lain di Bali. Menurutnya, destinasi wisata seperti Ubud dan Sanur juga memiliki potensi besar untuk mengembangkan komunitas transportasi berbasis desa adat yang melibatkan langsung masyarakat lokal.
Dengan demikian, manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata oleh krama Bali di berbagai daerah. Gubernur Koster menegaskan bahwa ke depan Pemprov Bali akan terus mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, desa adat, serta komunitas masyarakat untuk menciptakan sistem transportasi pariwisata yang tertib, berbudaya, dan berpihak pada ekonomi lokal.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan pariwisata Bali agar tetap berakar kuat pada budaya, tradisi, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali. mas/ama/*






