Sampah Jadi Sumber Pangan, Desa Sibang Gede Wujudkan One-stop Food Estate Mini Berbasis Ekonomi Sirkular

Denpasar, PancarPOS | Desa Sibang Gede, Kabupaten Badung, menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak selalu berakhir sebagai beban lingkungan. Melalui integrasi pengelolaan sampah berbasis TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) dengan sektor pertanian dan perikanan, desa ini berhasil membangun model ketahanan pangan mandiri yang kini menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular dan prinsip zero waste di tingkat desa.
Konsep yang diterapkan tidak sekadar menempatkan lahan pertanian di sekitar fasilitas pengolahan sampah. Lebih dari itu, sistem yang dibangun menciptakan siklus tertutup antara pengelolaan sampah dan produksi pangan. Sampah organik rumah tangga yang sebelumnya dianggap sebagai sumber pencemaran dan bau, kini diubah menjadi sumber nutrisi dan energi untuk mendukung produksi pangan secara berkelanjutan.
Melalui pola integrasi tersebut, TPS3R berperan sebagai pemasok utama pupuk organik, pupuk organik cair (POC), serta maggot yang dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Sementara unit ketahanan pangan memanfaatkan seluruh hasil pengolahan tersebut untuk meningkatkan produktivitas berbagai komoditas pertanian dan perikanan.
Model ini menciptakan hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Sampah organik diolah menjadi kompos, pupuk cair, dan maggot. Maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele, sedangkan sisa pengolahan maggot atau kasgot digunakan sebagai pupuk organik premium. Hasilnya kemudian digunakan untuk menyuburkan lahan pertanian yang ditanami cabai, terong, kacang panjang, jagung, dan pepaya.
Pada sektor perikanan, Desa Sibang Gede mengembangkan enam kolam budidaya ikan lele dengan kapasitas masing-masing sekitar 1.500 ekor. Limbah air dari kolam lele tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman sehingga kandungan nutrisi di dalamnya dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Sebagai bagian dari siklus yang berkelanjutan, sisa-sisa hasil panen seperti batang jagung, daun tua, maupun buah yang tidak layak konsumsi dikembalikan ke TPS3R untuk diolah kembali menjadi kompos. Pola ini menjadikan hampir seluruh limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali sehingga mendekati konsep tanpa sampah atau zero waste.
Ketua Pengelola Ketahanan Pangan Desa, Ketut Mura, menjelaskan bahwa tata kelola kawasan pertanian dilakukan berdasarkan karakteristik tanaman. Komoditas berumur pendek seperti cabai, terong, dan kacang panjang ditempatkan pada zona tersendiri, sedangkan tanaman buah seperti pepaya ditanam pada area berbeda.
Menariknya, tanaman pepaya dikembangkan dengan sistem tumpangsari bersama kacang panjang. Selain meningkatkan produktivitas lahan, kacang panjang juga berfungsi membantu mengikat nitrogen dari udara yang dapat meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
Keberhasilan integrasi ini memberikan solusi nyata terhadap persoalan sampah desa. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran kini berubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi dan produktif bagi masyarakat.
Dari sisi ketahanan pangan, sistem tersebut telah membentuk sebuah one-stop food estate mini yang mampu menyediakan berbagai kebutuhan pangan secara mandiri. Jagung menjadi sumber karbohidrat, cabai, terong, kacang panjang, dan pepaya memenuhi kebutuhan sayur serta buah, sementara ikan lele menjadi sumber protein hewani bagi pekerja TPS3R maupun masyarakat sekitar.
Manfaat ekonomi yang dihasilkan juga cukup signifikan. Pemanfaatan pupuk organik dan pakan berbasis maggot mampu menekan biaya produksi pertanian dan perikanan. Di sisi lain, produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah karena dikembangkan dengan pendekatan ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Tidak hanya itu, integrasi TPS3R dan ketahanan pangan turut mengubah wajah kawasan pengelolaan sampah. Lokasi yang sebelumnya identik dengan kesan kumuh dan berbau kini berkembang menjadi kawasan agro-edukasi yang hijau, produktif, dan estetis. Pengelolaan sampah organik yang cepat melalui budidaya maggot serta proses pengomposan yang benar turut membantu mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
Rektor Dwijendra University sekaligus Founder Yayasan Aditya Sedana Artha, Gede Sedana, menilai integrasi antara TPS3R dan ketahanan pangan merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kedaulatan pangan berbasis desa. Menurutnya, model yang dikembangkan di Desa Sibang Gede menunjukkan bagaimana sebuah persoalan lingkungan dapat diubah menjadi solusi berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis secara bersamaan. ama/ksm









