Internasional

Kongres Berkebaya Nasional 2021, Gung Tini Angkat Pemberdayaan Kebaya di Bali Sesuai Desa Kala Patra


Denpasar, PancarPOS | Halo Sahabat Berkebaya Nasional. Jangan lupa saksikan Webinar Kongres Berkebaya Nasional 2021 yang menghadirkan langsung Menparekraf Sandiaga Uno beserta sejumlah narasumber, yakni Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemkominfo Septiana Tangkary, SE., MM., Penasihat DWP Kementerian Agama Eny Yaqut, Akademisi Undiknas Denpasar Dr. A.A.A Ngr Tini Rusmini Gorda, SH., MM., MH., dan Wartawan VOA di Amerika Eva Mazrieva yang dipandu dengan Moderator, Indiah Marsaban dengan tema Strategi Komunikasi Memperkenalkan Kebaya ke Dunia dan Milenial pada Senin, 5 April 2021 pada pukul 13.30 – 15.30 WITA.

1bl-bn#5/1/2020

“Ayoo Join Sahabat Dalam Acara Webinar Berkebaya Nasional 2021.Pendaftaran http://tiny.cc/PendaftaranPesertaKBN2021. Information untuk Penulisan Nama di Zoom wajib mencantumkan nama daerah. Satu Hati, Satu Cinta, untuk Perempuan Berkebaya Indonesia,” ungkap A.A.A Ngr Tini Rusmini Gorda yang akrab disapa Gung Tini saat membacakan undangan Webinar Kongres Berkebaya Nasional 2021 saat ditemui Kamis (1/4/2021) malam. Sebagai salah satu narasumber asal Bali, Ketua Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK) ini, ingin mengangkat kolaborasi pentahelix dalam pemberdayaan kebaya di Bali sesuai dengan Desa Kala Patra.

1th-ksm#5/2/2021

“Saya bawakan tema dari aspek sosialiasasi pemberdayaan kebaya di Bali. Jadi saya hubungkan Kolaborasi pentahelix dalam pemberdayaan kebaya di Bali sesuai dengan Desa Kala Patra dengan mempertahankan budaya berkebaya secara berkesimbungan,” ungkap Direktur Eksekutif GTS (Good-Trustworthy-Smart) Institute Bali itu, seraya menambahkan, jika berbicara berkebaya itu Indonesia, seperti kain sari dari India. “Karena kalau pakai tenun ikat kan indonesia, dan kalau di Bali seperti endek. Karena itu, kita usulkan ke Unesco harus berkebaya setiap hari Selasa, sehingga juga harus ada regulasinya. Makanya pemerintah harus menguatkan legitimasinya, sehingga berkebaya bisa diperkuat, agar masyarakat paham dan jadi kebiasaan,” imbuhnya.

1bl#ik-5/3/2021

Ketua DPD IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Provinsi Bali ini menegaskan bagaimana agar membuat regulasi masyarakat bisa tahu dan mau berkebaya, sehingga tidak ditentang. Menurutnya regulasi tersebut harus dapat penguatan baik akademisi, melalui adanya research dari akademisi itu sendiri, termasuk peran dunia usaha. “Jika itu sudah bagus, maka akan ada peluang usaha setelah berkebaya ini menjadi kebiasaan dengan adanya regulasi itu. Memang di satu sisi jika ada aturan ini, maka pasti ada kesan masyarakat yang merasa harus lagi pakai busana seperti ini. Tapi tetap ini akan menjadi prosfek yang bagus bagi dunia usaha nantinya,” papar Gung Tini.

1bl#bn-14/11/2020

Selain itu, ia juga menyebutkan peran penting media akan sangat dibutuhkan sebagai kekuatan massa yang bisa memberikan paradigma di masyarakat melalui kolaborasi dengan pemerintah agar berkebaya bisa lebih dipahami. “Makanya media, jika dilibatkan dari awal regulasi ini, bisa disampaikan dengan baik, maka rantai ekonomi bisa segera berjalan baik dan dikuatkan oleh desa kala patra sebagaimana menerjemahkan Pergub Bali. Karena punya awig-awig yang beda, termasuk perarem untuk menerjemahkan secara tastis isi Pergub yang akan menjadi peluang bagi dunia usaha nantinya. “Ini menjadikan Bali itu fleksibel, karena bisa disesuaikan dengan desa kala patranya. Jadi apapun yang diwacanakan nantinya akan bersumber dari kekuatan massanya itu dari media,” tutupnya. ama/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close